Langsa | Acehtraffic.com- Mantan
Panglima GAM Daerah I Wilayah Peureulak, Tgk Abdur Rani mengatakan kondisi politik menjelang pilkada sedang
“membahayakan.
“Kita bukan takut kita dibunuh, tapi porses
demokratisasi di Aceh yang kita khawatirkan. Karena adanya ancaman dan
intimidasi,” kata Tgk Rani.
Tgk Rani juga menjelaskan bahwa,
jalur independen adalah suatu bagian integral dari perjanjian MoU Helsinki.
Dalam negoisiasi MoU itu, awalnya jalur independen sangat ditolak oleh
Indonesia. Tapi akhirnya semua pihak sepakat.
Dia menegaskan seharusnya ketakutan terhadap
jalur independen hanyalah orang-orang parpol berhaluan nasionalis. Ini perlu
diluruskan.
“Jika tidak ada independen dalam MoU, sampai hari ini kita masih
berperang,” katanya, saat berpidato didepan para mantan GAM dalam pertemuan temu ramah di Hotel Harmoni dengan calon bupati Aceh Timur Muslem Hasballah - Marwi umar, Minggu 26 Februari 2012
Disamping itu dia juga menyinggung
soal masih adanya intimidasi, Intimidasi itu berdosa hukumnya. Jangan
memfitnah, dan mengklaim orang lain sebagai pengkhianat. Dan jangan takuti
rakyat dengan alasan apapun, karena di Aceh tidak ada lagi perang.
“Wali nanggroe dulu mengajak berperang karena alasan kuat.
Baik secara defakto dan de jure. Bukan karena tidak menang suksesi. Adanya independen akan lahirnya demokratisasi
di Aceh.
“Jika kita berjanji bahwa damai
adalah harga mati, maka kita juga sepakat, tidak ada lagi kata perang,” kata
mantan kombatan ini. | AT | TAF

0 komentar:
Posting Komentar