News Update :

Ketua BRA Aceh Utara Akan Dituntut Secara Hukum

Rabu, 08 Februari 2012

Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Ketua BRA  Kabupaten Aceh Utara Baharuddin alias Din Tino yang baru diangkat tanpa pelantikan resmi dalam waktu dekat ini akan segera dituntut secara hukum, Rabu  Februari 2012,  lantaran diduga telah melakukan pembunuhan karakter terhadap orang lain dengan menebar fitnah tanpa bukti melalui media massa.

Hal tersebut diungkapkan oleh mantan Ketua Satpel BRA Kabupaten Aceh Utara Muhammad Yahya alias Ahmad Blang selaku korban yang merasa tidak tahan mendapat fitnah tanpa bukti yang selama ini dilakukan Baharuddin melalui media massa.

Ahmad mengatakan selama ini sudah coba untuk bersabar, tapi kali ini dirinya angkat bicara karena ingin mengklarifikasi atau menggunakan hak jawab dimedia massa yang selama ini memuat berita tudingan sarat fitnah secara sepihak dari keterangan Ketua BRA Aceh Utara.

”Saya selama ini sudah mencoba untuk diam dan sabar agar tidak menjadi polemik media. Tapi ternyata fitnah tanpa bukti ditebarkan tanpa henti di media massa. Saya membantah semua tudingan dan omong kosong Baharuddin karena itu fitnah tanpa bukti, “ Ujar Ahmad.

Menurutnya, tebar fitnah dan mencari-cari kesalahan orang lain sengaja dilakukannya untuk menutupi kesalahan yang pernah dilakukannya dengan cara mengalihkan perhatian publik di media massa.

Fitnah yang ditebarkan Baharuddin antara lain tentang kwitansi penyaluran dana BRA kepada orang berhak diduga palsu itu tidak benar, karena semua kwitansi tersebut asli dan sah sesuai laporan pertanggung jawab.  

Bahkan untuk menguatkan hal itu, sambung Ahmad, dirinya juga dihembuskan seakan punya hubungan dekat, sampai persoalan Ketua BRA Aceh Hanif Asmara pernah menginap dirumahnya pun di gemar-gembor. 

Padahal itu hanya persoalan wajar untuk bersikap loyalitas dalam bertugas antara bawahan dan atasan, sambung Ahmad, namun hal itu pun dibeberkan seakan menjadi faktor kuat untuk menuding yang tidak benar.

Seharusnya selaku publik figur Baharuddin harus bersikap profesional, kalau ada masalah kita bisa saling terbuka dengan bicara langsung tanpa perlu mengumbar ke media massa untuk melibatkan publik dalam permainannya.

Akan tetapi tindakan yang dilakukan Baharuddin dinilai sudah sangat terlalu jauh dan tidak dewasa hingga mencemarkan nama baik dan kredebelitas orang lain.

Ahmad juga menegaskan tindakan paling fatal yang pernah dilakukan Baharuddin adalah  telah menguasai pucuk pimpinan Ketua BRA Aceh Utara, padahal belum ada serah terima jabatan (sertijab). Karena sesuai aturan setiap pergantian jabatan harus diawali dengan sertijab, kemudian baru pelantikan. “Saya tidak mungkin menyerahkan jabatan itu karena belum ada sertijab dari atasan,” tambahnya.

Tapi kini, tak hanya jabatan yang dirampas, tanpa sepengatahuan dirinya dan koordinasi, kantor BRA Aceh Utara telah dikuasai dan dipindahkan jauh dari jangkauan masyarakat. Padahal BRA itu milik masyarakat Aceh Utara, seharusnya mudah dijangkau dan diketahui masyarakat kampung apabila ingin ke Kantor BRA.

“Mereka hanya ingin mengoreksi kesalahan orang lain, asalkan publik tau. Mereka itu selalu menggunakan taktik arogansi dalam menyelesaikan masalah, buktinya mereka sering membuat penekanan dan ancaman terhadap Ketua BRA Pusat, bahkan mereka melakukan secara langsung dengan cara membawa preman ke Banda Aceh,” ungkap Ahmad Blang.

Hal ini semua terjadi karena mereka haus akan jabatan dan ingin mengendalikan anggaran bantuan korban konflik dari BRA. Namun Ahmad juga mengkhawatirkan bila kelak uang rakyat dikelola sekelompok orang seperti itu, takutnya bisa tidak tepat sasaran.

maka, lanjut Ahmad, karena merasa dirugikan dan mencemarkan nama baik, dirinya akan menempuh jalur pendekatan dengan menuntut Baharuddin secara hukum .

“Kejadian ini akan saya tempuh ke jalur hukum untuk memperbaiki citra, kredebilitas dan nama baik. Saya sudah cukup bersabar dan sudah sangat pantas terhadap Baharuddin,” tegas mantan pasukan elit GAM ini.| AT | M. Agam K|


Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016