News Update :

Diembargo, Iran Justru Umumkan Keberhasilan Program Nuklirnya

Jumat, 17 Februari 2012

Teheran | Acehtraffic.com - Lempengan bahan bakar nuklir pertama yang telah diproduksi di Iran dan penggunaan uranium yang diperkaya hingga 20 persen telah diresmikan dalam sebuah upacara yang dihadiri Presiden Mahmoud Ahmadinejad pada Rabu (15/2) di reaktor riset Teheran.

Bersamaan dengan peresmian tersebut,  dioperasikan pula generasi baru pertama sentrifugal di situs pengayaan Natanz. Mata rantai generasi baru sentrifugal tersebut merupakan produksi para ahli dalam negeri Iran.

Dengan pengoperasian sentrifugal- sentrifugal itu, maka kapasitas kemampuan mesin-mesin sebelumnya meningkat menjadi tiga kali lipat. Pembangunan pabrik bahan bakar reaktor Teheran, bertambahnya jumlah sentrifugal dan produksi serta peluncuran generasi baru mesin-mesin sentrifugal merupakan keberhasilan lain Republik Islam Iran setelah keberhasilannya dalam teknologi produksi uranium yang diperkaya dalam skala 20 persen. Untuk melanjutkan produksi isotop-isotop medis yang diperlukan bagi pengobatan kanker, maka reaktor riset Teheran membutuhkan bahan bakar uranium yang diperkaya hingga 20 persen.

2,5 tahun lalu, dalam sebuah surat yang ditujukan ke Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran mengumumkan bahwa bahan bakar reaktor riset Teheran sedang dalam penyempurnaan. Maka sesuai aturan IAEA, Iran meminta badan ini untuk menjual bahan bakar yang diperlukan reaktor Teheran. Namun, karena adanya pembatasan yang tidak logis, para penyuplai asing tidak memenuhi permintaan Teheran. Dengan alasan ini, Lembaga Energi Atom Iran mengagendakan untuk memproduksi bahan bakar ini secara independen dan dengan menggunakan teknologi dalam negeri yang diawasi IAEA. Kini, upaya para ilmuwan nuklir Iran telah membuahkan hasil dan negara ini mandiri di bidang tersebut.

Dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan sesuai dengan hak-hak Iran sebagai anggota IAEA, Teheran telah berhasil mengembangkan program nuklirnya. Pada saat yang sama, surat yang dikirim Saeed Jalili Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Republik Islam Iran kepada Catherine Ashton, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa tentang sambutan kesiapan kelompok 5+1 untuk kembali ke meja perundingan serta kesiapan Iran guna melanjutkan dialog, menunjukkan bahwa Teheran tidak mempunyai masalah untuk melanjutkan dialog. Jalili juga menyambut baik pernyataan Catherine Ashton yang menghormati hak Iran dalam mendayagunakan nuklir untuk tujuan damai.

Sementara itu, Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa justru menjatuhkan berbagai sanksi yang tidak ada hubungannya dengan masalah nuklir. Embargo di bidang pendidikan, perdagangan dan teknis hanya bertujuan membendung kemajuan Iran. Serangan dan perusakan reaktor nuklir Iran dengan menggunakan virus, teror dan pembunuhan terhadap para ilmuwan nuklir adalah cara-cara busuk yang dilakukan musuh untuk mencegah kemajuan bangsa Iran.

Saat ini, pemerintah Washington tidak siap untuk mengakui berbagai keberhasilan Teheran, bahkan Amerika meremehkan kemajuan terakhir yang diraih bangsa Iran. Victoria Nuland, Juru bicara Departemen Luar Negeri AS pada Rabu (15/2) kepada para wartawan mengatakan bahwa Iran terlalu berlebih-lebihan dalam menunjukkan keberhasilan-keberhasilannya. Jay Carney, salah satu jubir kantor kepresidenan AS juga mengatakan bahwa upacara peresmian keberhasilan baru nuklir Iran yang diselenggarakan para pejabat negara ini bertujuan mengalihkan opini publik dari penderitaan Teheran akibat sanksi internasional.

Kini muncul pertanyaan, jika sanksi Iran sangat merugikan negara ini dan pemerintah Teheran terlalu membesar-besarkan keberhasilan di bidang nuklirnya, lalu apa alasan musuh-musuh Iran menebarkan ancaman militer ke situs-situs nuklir negara ini?

Kenyataannya adalah perkembangan ilmu dan teknologi nuklir, merupakan parameter utama kemajuan negara di berbagai sektor. Jika Amerika dan sekutunya benar-benar berniat mencegah meluasnya senjata nuklir, seharusnya pada tahun-tahun lalu mereka telah melaksanakan perjanjian pelucutan senjata nuklir.

Terkait hal ini, Iran menilai penggunaan senjata nuklir dan pemusnah massal adalah haram. Hal itu berdasarkan tolok ukur agama dan kemanusiaan. Oleh karena itu, Teheran selalu mendesak kepada para pemilik senjata nuklir untuk memusnahkannya dan Iran menginginkan Timur Tengah kosong dari senjata pemusnah massal. (*) | IRIB
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016