Sejak masa-masa awal kemenangan Revolusi Islam, masalah kemandirian
di bidang ekonomi senantiasa menjadi perhatian utama.
Pasalnya, pada era
pra-revolusi, akibat kesalahan fatal politik Rezim Pahlevi, menyebabkan
Iran amat bergantung dengan Barat, khususnya AS.
Sebaliknya, pasca
kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat berupaya menekan dan
mengancam Republik Islam Iran dengan pelbagai cara, termasuk dengan
menerapkan embargo ekonomi.
Karena itu, Iran pun berusaha
mencapai kemandirian di bidang pertanian dan industri. Upaya ini bahkan
terus dilanjutkan, meski di saat Iran menjalani masa-masa sulit perang
yang dipaksakan oleh Rezim Ba'ats, Irak selama delapan tahun.
Upaya
tiada kenal lelah inipun, akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.
Iran berhasil mencapai swasembada gandum, sebuah komoditas strategis
pertanian. Sejak tahun lalu, Iran bahkan sanggup mengekspor hasil
produksi gandumnya ke sejumlah negara.
Begitu pula di berbagai komoditas
pertanian lainnya. Iran juga berhasil meraih kemajuan dengan menerapkan
program mekanisasi pertanian.
Salah satu dampak buruk
yang diwariskan sistem perekonomian Rezim Pahlevi dan masih berpengaruh
hingga kini adalah ketergantungan Iran terhadap pendapatan minyak bumi.
Masalah ini membuat struktur ekonomi menjadi rapuh, namun dengan usaha
keras pemerintah Republik Islam Iran, ketergantungan terhadap pendapatan
minyak pun perlahan-lahan mulai dibatasi. Sebagai misal, pada tahun
2007-2008 ini, komposisi pendapatan minyak dalam anggaran negara Iran
kurang dari 50 persen.
Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir
pendapatan dari sektor non-minyak makin naik secara signifikan.
Berdasarkan sejumlah data, pendapatan Iran di sektor non-minyak pada
tahun 2006 mengalami peningkatan 47 persen atau sekitar 16 miliar USD.
Peningkatan ini membuat situasi ekonomi Iran relatif bisa bertahan meski
harga minyak dunia mengalami fluktuatif.
Di sisi lain,
untuk memanfaatkan secara optimal cadangan minyak, Iran berupaya
meningkatkan produksi komoditas petrokimia dan olahan minyak lainnya
agar lebih bermanfaat dan bernilai. Sehingga pada periode 2007-2008,
produksi petrokimia Iran meningkat lebih dari 30 juta ton. Rencananya
tiga tahun lagi, produksi di sektor ini akan ditingkatkan menjadi 58
juta ton.
Salah satu produksi industri Iran yang berhasil
diekspor sejak beberapa tahun terakhir adalah produk otomotif. Iran
mengekspor kendaraan penumpang dan barangnya ke berbagai negara seperti
Syria, Turkmenistan, Afghanistan, Azerbaijan, dan Venezuela. Iran juga
menjalin kerjasama pembangunan pabrik mobil dengan sejumlah negara.
Pada
tahun 2006, Iran mengeskpor lebih dari 30 ribu kendaraan senilai 350
juta USD. Pembangunan di bidang infrastruktur, seperti pembangunan
jalan, rel kereta api, jembatan, jalan tol dalam kota, dan kereta api
bawah tanah (subway) merupakan langkah pembangunan paling kentara pasca
revolusi.
Kemajuan lain ekonomi Iran pasca Revolusi Islam
adalah meningkatnya investasi asing, padahal Iran saat ini masih berada
di bawah tekanan sanksi ekonomi AS. Tahun lalu, investasi asing di
sektor perminyakan, yang merupakan salah satu bidang yang paling
dikhawatirkan oleh AS, mengalami peningkatan sekitar 9 persen. Begitu
juga di bidang gas, tingkat eksplorasi, produksi, dan ekspor di bidang
ini mengalami peningkatan signifikan.
Pada bulan Februari ini, menteri
perminyakan Iran melaporkan adanya penemuan ladang gas baru dengan
cadangan gas sebesar 11 triliun kaki kubik. Iran adalah negara pemilik
cadangan gas terbesar kedua di dunia, setelah Rusia.
Selain itu, Teheran
juga telah menjalin beragam kontrak kerjasama di bidang gas dengan
negara-negara lain. Sebagai contoh, baru-baru ini Iran dan Austria
menandatangani kontrak ekspor gas senilai 50 miliar USD dan kerjasama
produksi gas dengan Malaysia senilai 16 miliar USD.
Salah
satu slogan utama Revolusi Islam Iran adalah meningkatkan taraf hidup
rakyat, khususnya kalangan menengah ke bawah dan mewujudkan keadilan
sosial. Karena itu, pemerintah Republik Islam Iran berusaha keras
meningkatkan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah.
Terlebih
khusus di era kepemimpinan Presiden Ahmadinejad, yang lebih fokus untuk
merealisasikan visi keadilan yang yang disuarakan oleh Revolusi Islam.
Program kunjungan ke daerah Presiden Ahmadinejad beserta kabinetnya
merupakan upaya serius pemerintah untuk menyentuh secara langsung
persoalan rakyat di berbagai daerah sehingga bisa diupayakan tindakan
yang lebih cepat untuk mengatasi persoalan daerah.
Selama dua tahun
pertama masa kepemimpinannya, Presiden Ahmadinejad berhasil mengunjungi
30 propinsi. Kini, di paruh kedua masa kepemiminannya, dia pun
melaksanakan kembali rangkaian safari ke berbagai daerah untuk
menganalisa dan menindaklanjuti kebijakan sebelumnya.
Masih
di bidang pembangunan keadilan sosial, Pemerintahan Ahmadinejad juga
mengeluarkan program pembagian 'saham keadilan'. Lewat program ini,
saham perusahaan-perusahaan negara dibagikan kepada kalangan masyarakat
berpendapatan rendah, sementara hasil keuntungannya akan dikembalikan
lagi kepada mereka.
Kendati Iran pasca revolusi,
menghadapi beragam tekanan dan embargo, namun para ilmuan dan teknisi
militer Iran tidak pernah menyerah untuk memajukan kekuatan pertahanan
negaranya. Tak heran bila kini Iran berhasil meraih keberhasilan yang
tidak pernah diduga sebelumnya di bidang persenjataan modern.
Angkatan
bersenjata RII, saat ini berhasil membuat dan mengembangkan berbagai
bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke
udara. Begitu pula di bidang pembuatan helikopter dan pesawat tempur,
para ilmuan Iran berhasil mencapai kemajuan yang menarik di bidang ini.
Sejumlah pesawat tempur berteknologi tinggi baik berjenis tanpa awak
maupun standar, berhasil dibuat oleh Iran.
Angkatan darat
militer Iran juga berhasil membuat peralatan perang modern lainnya
seperti, tank, panser, meriam, dan beragam bentuk senjata personal.
Begitu pula di matra laut, kekuatan pertahanan laut Iran juga berhasil
menorehkan prestasi gemilang.
Seperti pembuatan beragam jenis kapal
perang dan perahu cepat militer serta beragam persenjataan penting
lainnya. Di bidang perangkat militer elektronik, Iran juga berhasil
membuat gebrakan baru di bidang ini. Tak heran jika kini Iran menyatakan
siap mengadapi ancaman perang elektronik.
Kemajuan
mengagumkan Iran di bidang industri militer membuat sejumlah negara kian
tertarik menjalin kerjasama dengan Iran. Saat ini, Iran telah
mengekspor hasil-hasil industri militernya ke 57 negara.
Revolusi
Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang
begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan
nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu
pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang
mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di
bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan
ekonomi dan kemajuan iptek.
Islam senantiasa menekankan
perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang
mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun.
Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran.
Pada
tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang
sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan
formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD
Republik Islam Iran menyatakan.
"Pemerintah berkewajiban menyediakan
pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir
tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara
gratis pula hingga semampunya".
Sejak awal Revolusi Islam,
pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf.
Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan
dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf.
Upaya kontinyu dan tak
kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta
huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50
persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10
persen.
Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan
berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga
internasional, termasuk Unesco.
Di sisi lain, dalam
beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami
kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun
kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di
berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga
terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan
pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.
Dunia
perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang
pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi
di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi
pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200
ribu kursi.
Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih
dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan
salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.
Dalam
beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang
berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama
dunia kian meningkat.
Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu
indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media
ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian
masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.
Pasca
Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil
mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah.
Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi
dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan
penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki
molekul dan sel-sel badan yang rusak.
Teknologi nano biasa dimanfaatkan
untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran
tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil
memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.
Salah
satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi
cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun,
para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk
pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya.
Sel punca ini mampu
memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini
memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil
memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit
akut yang selama ini sulit diobati.
Seperti penyembuhan penyakit buta
dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini
adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan
memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di
bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.
Pusat
Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan
teknologi stem cell atau sel punca di Iran.
Televisi CNN dalam
laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan,
"Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin
di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat".
CNN dalam laporannya
ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek
adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.
Salah
satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan
obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh
di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh
otoritas kedokteran dunia.
Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar
farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini
berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis,
sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi.
Begitu juga di bidang
kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat
terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf,
jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam
Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.
Ternyata
Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Namun,
dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan
Iran di bidang ini, Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo,
namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam
teknologi nuklir.
Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS
memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka
juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk
kepentingan militer.
Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk
keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik.
Atas
dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan
untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif.
Selain
dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa
digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang
pertanian dan peternakan.
Untuk menghilangkan adanya
kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi
Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat
dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom
Internasional (IAEA).
Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan,
bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase
industrialisasi produksi bahan bakar nuklir.
Upaya ini merupakan salah
satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang
nuklir.
Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga
berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa.
Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa
satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini.
Seluruh
keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan
buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan
bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran. Mari belajar dari Iran.
Oleh; Umar Abdullah | indonesian.irib

0 komentar:
Posting Komentar