Banda Aceh | Acehtraffic.com -
Teror penembakan di Aceh dalam dua pekan terakhir membuat kalangan pekerja asal
Pulau Jawa resah. Salah satunya adalah Nurhasan, seorang pekerja dari
Brebes, Jawa Tengah. “Bagaimana tidak resah, Bang, banyak yang seperti kami
menjadi korban,” ujarnya kepada Tempo, Selasa, [10/1].
Hasan mengaku sedang menyelesaikan pengerjaan sebuah rumah di Aceh Besar. Dia be kerja bersama seorang rekannya. “Kami para pekerja dari Brebes menyewa sebuah rumah, mereka semua khawatir.”
Dia yang lebih dituakan di antara rekannya itu sering ditanyakan apakah harus bertahan atau pulang ke daerahnya. Hasan sendiri mengaku hanya memberikan nasihat, kalau sudah sangat resah, pulanglah. Sejauh ini, belum satu pun pekerja asal Pulau Jawa yang tinggal satu rumah dengan Hasan kembali ke Jawa.
Ke ndati resah, Hasan masih bertahan untuk menyelesaikan pembangunan sebuah rumah. “Saya pagi-pagi telah pergi ke rumah yang saya buat, hanya berdua dan tidak berkelompok. Kawasan rumah yang saya buat tampaknya lebih aman. Sore saya pulang ke kontrakan,” ujarnya, yang mulai bekerja di Aceh sejak 2005.
Di kontrakan, dia dan rekannya tak berani lagi keluar larut malam. Belanja makan malam dipersiapkan saat sore hari. “Saya sudah sampaikan ke kawan-kawan, kalau ada satu kejadian lagi teror penembakan yang menimpa pekerja seperti kami, saya akan kembali ke Jawa sampai Aceh aman,” kata Hasan.
Seorang pe kerja asal Pulau Jawa lainnya mengaku terpaksa kembali ke kampungnya karena ketakutan. “Kami kembali saja dulu, sudah kami sampaikan ke pemilik proyek yang kami kerjakan. Nanti kalau sudah aman, kembali lagi,” katanya saat ditemui di Terminal Bus Luen Bat, Banda Aceh.
Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Aceh Komisaris Besar Gustav Leo mengatakan, sebagai upaya preventif terhadap pekerja yang rentan teror, pihaknya telah memberikan pengamanan kepada mereka yang bekerja di proyek-proyek. Dalam hal ini, polisi juga melakukan koordinasi bersama pihak TNI.
Kasus teror penembakan di Aceh dalam dua pekan terakhir telah terjadi sebanyak empat kali, yang menyebabkan 6 orang tewas dan 10 lainnya luka-luka. Kasus pertama terjadi di Ulee Kareng, Banda Aceh, pada malam pergantian tahun 2011 sekitar pukul 21.00 WIB. Satu penjaga toko boneka tewas.
Kasus kedua, pada waktu yang sama, terjadi penembakan di Kabupaten Bireuen terhadap pekerja penggali kabel serat optik milik perusahaan telekomunikasi. Tiga orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka. Sebanyak 47 pekerja rekan korban lainnya dalam proyek itu telah dikembalikan ke Pulau Jawa.
Kasus ketiga terjadi pada Senin malam, 1 Januari 2012, di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Satu petani tewas ditembak dan satu lainnya luka-luka. Mereka adalah warga transmigrasi asal Pulau Jawa.
Kasus terakhir terjadi Kamis malam, 5 Januari 2012 di kawasan Aneuk Galong, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar. Dalam kejadian tersebut, tiga pekerja bangunan asal Jawa Tengah terkena luka tembak. Salah seorang korban meninggal sehari kemudian di rumah sakit. Beberapa rekan korban juga telah dikembalikan oleh pemilik proyek.| AT | TO |
Hasan mengaku sedang menyelesaikan pengerjaan sebuah rumah di Aceh Besar. Dia be kerja bersama seorang rekannya. “Kami para pekerja dari Brebes menyewa sebuah rumah, mereka semua khawatir.”
Dia yang lebih dituakan di antara rekannya itu sering ditanyakan apakah harus bertahan atau pulang ke daerahnya. Hasan sendiri mengaku hanya memberikan nasihat, kalau sudah sangat resah, pulanglah. Sejauh ini, belum satu pun pekerja asal Pulau Jawa yang tinggal satu rumah dengan Hasan kembali ke Jawa.
Ke ndati resah, Hasan masih bertahan untuk menyelesaikan pembangunan sebuah rumah. “Saya pagi-pagi telah pergi ke rumah yang saya buat, hanya berdua dan tidak berkelompok. Kawasan rumah yang saya buat tampaknya lebih aman. Sore saya pulang ke kontrakan,” ujarnya, yang mulai bekerja di Aceh sejak 2005.
Di kontrakan, dia dan rekannya tak berani lagi keluar larut malam. Belanja makan malam dipersiapkan saat sore hari. “Saya sudah sampaikan ke kawan-kawan, kalau ada satu kejadian lagi teror penembakan yang menimpa pekerja seperti kami, saya akan kembali ke Jawa sampai Aceh aman,” kata Hasan.
Seorang pe kerja asal Pulau Jawa lainnya mengaku terpaksa kembali ke kampungnya karena ketakutan. “Kami kembali saja dulu, sudah kami sampaikan ke pemilik proyek yang kami kerjakan. Nanti kalau sudah aman, kembali lagi,” katanya saat ditemui di Terminal Bus Luen Bat, Banda Aceh.
Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Aceh Komisaris Besar Gustav Leo mengatakan, sebagai upaya preventif terhadap pekerja yang rentan teror, pihaknya telah memberikan pengamanan kepada mereka yang bekerja di proyek-proyek. Dalam hal ini, polisi juga melakukan koordinasi bersama pihak TNI.
Kasus teror penembakan di Aceh dalam dua pekan terakhir telah terjadi sebanyak empat kali, yang menyebabkan 6 orang tewas dan 10 lainnya luka-luka. Kasus pertama terjadi di Ulee Kareng, Banda Aceh, pada malam pergantian tahun 2011 sekitar pukul 21.00 WIB. Satu penjaga toko boneka tewas.
Kasus kedua, pada waktu yang sama, terjadi penembakan di Kabupaten Bireuen terhadap pekerja penggali kabel serat optik milik perusahaan telekomunikasi. Tiga orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka. Sebanyak 47 pekerja rekan korban lainnya dalam proyek itu telah dikembalikan ke Pulau Jawa.
Kasus ketiga terjadi pada Senin malam, 1 Januari 2012, di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Satu petani tewas ditembak dan satu lainnya luka-luka. Mereka adalah warga transmigrasi asal Pulau Jawa.
Kasus terakhir terjadi Kamis malam, 5 Januari 2012 di kawasan Aneuk Galong, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar. Dalam kejadian tersebut, tiga pekerja bangunan asal Jawa Tengah terkena luka tembak. Salah seorang korban meninggal sehari kemudian di rumah sakit. Beberapa rekan korban juga telah dikembalikan oleh pemilik proyek.| AT | TO |


0 komentar:
Posting Komentar