Paris | Acehtraffic.com - Petinggi militer Iran memperingatkan kapal
induk Amerika Serikat tidak kembali memasuki Teluk Persia. Kepala Staf
Angkatan Darat Jendral Ataollah Salehi menegaskan "ancaman" itu saat
berpidato menutup latihan perang laut Iran selama 10 hari. Latihan di
dekat Selat Hormuz adalah unjuk kekuatan terbaru negeri itu menghadapi
tekanan internasional atas program nuklirnya.
Kantor berita IRNA mengutip Salehi yang
mengatakan, "Kami rekomendasikan… kepada kapal perang Amerika melintasi
Selat Hormuz dan berlalu ke Teluk Oman, tidak kembali ke Teluk Persia."
Sebelumnya, Armada Kelima Angkatan Laut Amerika
Serikat memaparkan bahwa kapal induk kelas Nimitz, USS John C. Stennis,
dan kapal lainnya keluar dari Teluk Persia dan melewati Selat Hormuz
pada Selasa pekan lalu, setelah berlabuh di pelabuhan Jebel Ali, Dubai.
USS John C. Stennis adalah salah satu kapal terbesar Amerika Serikat. Menurut Pentagon, manuver menuju ke timur lewat Teluk Oman adalah perjalanan rutin.
USS John C. Stennis adalah salah satu kapal terbesar Amerika Serikat. Menurut Pentagon, manuver menuju ke timur lewat Teluk Oman adalah perjalanan rutin.
Selasa 3 Januari 2011 kemarin, Iran mengakhiri
latihan perangnya yang diwarnai uji coba tembakan tiga misil yang
dirancang untuk menghantam kapal perang. Selama ini Amerika menyiagakan
setidaknya satu kapal induk di atau di dekat Teluk Persia sepanjang
waktu dengan rotasi bulanan. Hal itu bagian dari penjagaan pangkalan
Armada Kelima di Bahrain, di kawasan Teluk.
Akhir pekan lalu, Amerika Serikat balik memperingatkan Iran bahwa mereka tidak akan menoleransi suatu penutupan Selat Hormuz.
Dari Moskow, pejabat pertahanan Rusia menyatakan
Iran tak punya rudal-rudal jarak jauh. "Iran tak punya teknologi untuk
menciptakan misil jarak menengah atau misil balistik jarak jauh
antarbenua," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Vadim Koval,
kepada kantor berita Interfax. "Dan tidak akan bisa (membuat) misil itu
dalam waktu dekat."
Senin lalu, Iran dilaporkan sukses menguji coba tiga
misil yang disebutkan Teheran adalah rudal jarak jauh. Dua misil dapat
terbang sejauh maksimum 200 kilometer, biasanya disebut senjata jarak
dekat. Lainnya, sebuah misil anti-kapal perang, Nasr, jaraknya malah
lebih pendek, yakni 35 kilometer saja.
Hampir bersamaan, Menteri Luar Negeri Prancis Alain
Juppe menuding Iran melanjutkan membangun senjata nuklir dan mendesak
kini saat yang tepat menjatuhkan sanksi-sanksi lebih keras terhadap
Teheran. "Iran bernafsu mengembangkan senjata nuklirnya, saya tak punya
keraguan soal itu," tukas Juppe di televisi Prancis, I-Tele, kemarin.
Prancis mendesak para rekannya di Eropa mengikuti Amerika Serikat dan setuju akhir bulan ini menjatuhkan embargo ekspor minyak Iran. Juga membekukan aset-aset bank sentral Iran. Seruan Paris itu menjelang sidang para menteri luar negeri Uni Eropa yang dijadwalkan 30 Januari mendatang.| AT | TO |


0 komentar:
Posting Komentar