Timika | Acehtraffic.com —Kerusuhan
terjadi antara dua kubu pendukung calon bupati Kabupaten Puncak, Papua. Enam
orang tewas akibat luka tembak antara pendukung kandidat Elvis Tabuni dan Simon
Alom di wilayah perbatasan Distrik Gome dengan Distrik Ilaga. “Situasi masih
mencekam,” kata Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Puncak, Yunus Kelabetme, Rabu [4/1].
Yunus mengatakan salah satu korban
tewas adalah Kepala Puskesmas, Karel Mayau. Jenasah Karel ditemukan warga
tergeletak bersimbah darah di jalan. “Mayat korban di bawa warga dan sore tadi
sudah dibakar,” katanya. Dia menjelaskan dalam perang di Papua ada tradisi
bahwa jenasah harus dibakar.
Korban tewas lainnya hingga Rabu
malam belum diketahui identitasnya. Menurut Yunus, jumlah korban tewas bisa
bertambah karena masih dalam pencarian. Selain itu hubungan komunikasi ke
wilayah Kabupaten PuncaK terhambat minimnya infrastruktur telekomunikasi.
Salah satu korba terluka yang
dikenali identitasnya adalah Kepala Distrik Pogoma, Tiperius Murib yang kini
dalam keadaan kritis.
Konflik ini, kata Yunus menggunakan senjata api yang diperkirakan berjumlah lebih dari 15 unit. “Ada satu kelompok yang dilengkapi senjata api paling sedikit 15 orang lebih,” katanya. Dia tak tahu pihak yang memfasilitasi pengiriman senjata api. “Entah melalui pesawat apa,” kata Yunus.
Konflik antar kubu pendukung bupati ini terjadi sejak tahun lalu. Pada pertengahan tahun lalu, belasan warga tewas akibat konflik kedua kubu. “Keduanya sering saling perang.” Pada 3 Desember 2011 sebanyak tiga tewas akibat tertembak senjata api. “Itu semua pakai senjata bukan pakai panah,” kata Yunus.
Hingga rabu petang belum diperoleh keterangan kepolisian mengenai situasi Kabupaten Puncak. Jurubicara Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Besar Wachyono, melalui pesan pendeknya mengatakan polisi masih melakukan penyelidikan dan belum mendapat laporan lengkap dari Kabupaten Puncak. “Masih dalam lidik, laporan belum masuk,” kata Wachyono.| AT | TO |
Konflik ini, kata Yunus menggunakan senjata api yang diperkirakan berjumlah lebih dari 15 unit. “Ada satu kelompok yang dilengkapi senjata api paling sedikit 15 orang lebih,” katanya. Dia tak tahu pihak yang memfasilitasi pengiriman senjata api. “Entah melalui pesawat apa,” kata Yunus.
Konflik antar kubu pendukung bupati ini terjadi sejak tahun lalu. Pada pertengahan tahun lalu, belasan warga tewas akibat konflik kedua kubu. “Keduanya sering saling perang.” Pada 3 Desember 2011 sebanyak tiga tewas akibat tertembak senjata api. “Itu semua pakai senjata bukan pakai panah,” kata Yunus.
Hingga rabu petang belum diperoleh keterangan kepolisian mengenai situasi Kabupaten Puncak. Jurubicara Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Besar Wachyono, melalui pesan pendeknya mengatakan polisi masih melakukan penyelidikan dan belum mendapat laporan lengkap dari Kabupaten Puncak. “Masih dalam lidik, laporan belum masuk,” kata Wachyono.| AT | TO |


0 komentar:
Posting Komentar