
Brazil | Acehtraffic.com - Menteri Luar Negeri Brazil Antonio Patriota mengatakan, semua negara Amerika Latin mendukung Argentina melawan Inggris atas kepulauan Malvinas yang disengketakan. London mengklaim Malvinas yang juga disebut dengan Falkland sebagai miliknya.
"Amerika Latin dan Karibia kembali mendukung kedaulatan Argentina atas Malvinas dan menyetujui resolusi-resolusi PBB yang menyerukan kepada pemerintah Argentina dan Inggris untuk mengadakan pembicaraan tentang masalah ini," kata Patriota dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Inggris William Hague di Brazil pada Rabu (18/1).
Patriota menambahkan, Inggris tahu bahwa Brazil dan Unasur (Uni Negara Amerika Selatan) mendukung kedaulatan Argentina atas Malvinas.
Situasi kembali memanas karena semakin dekatnya peringatan ke-30 perang antara Inggris dan Argentina atas Kepulauan Malvinas.

Inggris pada Selasa menekankan kembali kebijakan tegas atas pulau yang disengketakan dan memperingatkan Menlu negara-negara Amerika Selatan untuk tidak bersekongkol dengan Argentina demi merebut kembali wilayah yang didudukinya.
Respon Inggris datang setelah Mercosur Amerika Selatan, termasuk Argentina, Brazil, Uruguay dan Paraguay sepakat untuk melarang berlayarnya kapal-kapal berbendera Falklands ke pelabuhan-pelabuhan mereka.
William Hague menyatakan bahwa London menentang larangan tersebut dan menggambarkannya sebagai upaya Argentina untuk merebut kembali wilayahnya.
Hague juga mengatakan bahwa pemerintah Inggris akan menolak setiap tindakan yang dapat menyebabkan tekanan ekonomi atau tekanan lainnya terhadap penduduk pulau Malvinas.
Namun, Argentina menuduh Inggris melanggar hukum internasional dan menegaskan bahwa operasi pengeboran minyak Inggris di sana merupakan contoh yang jelas dari pelanggaran atas hukum internasional itu.
Malvinas terletak sekitar 250 mil laut dari Argentina dan menjadi jajahan Inggris selama lebih dari 180 tahun. Namun, Argentina juga mengklaim kedaulatan atas wilayah itu sebagaimana sebelum penjajahan Inggris. Selain itu, kedua negara terlibat perang mematikan selama 74 hari pada tahun 1982 akibat merebutkan pulau tersebut. (*) | IRIB Indonesia

0 komentar:
Posting Komentar