News Update :

Suku Batak Dari Gayo ?

Senin, 12 Desember 2011

Takengon | Acehtraffic.com - Kajian arkeologis yang dilakukan oleh arkeolog (ahli fosil dan kepurbakalaan), I Ketut Wiradnyana mengungkapkan fakta baru bahwa Suku Batak berasal dari dataran tinggi Gayo, bukan sebaliknya.

Hasil kajian tersebut dikemukakan Kepala Balai Arkeologi (Balar) Medan, I Ketut Wiradnyana kepada Serambi, Sabtu (10/12) setelah melakukan penelitian arkeologis di gua (loyang) Mendale, Loyang Ujung Karang, dan Loyang Pukes di Kecamatan Kebayakan sepanjang dua tahun terakhir.

Menurutnya, selama ini masyarakat luas menganggap Suku Gayo berasal dari Suku Batak yang dikenal dengan Batak 27. Suku Batak di sana dianggap telah mengungsi ke dataran tinggi Gayo dan menetap di Aceh Tengah hingga menjadi Suku Gayo.
Penelitian arkelogi dengan menggali situs-situs purbakala pada tiga titik di Kecamatan Kebayakan, ditemukan kerangka manusia prasejarah pada situs tersebut. Hasil penelitian karbon, usia kerangka manusia purba itu berkisar antara 4.400 hingga 3.580 tahun. Itu artinya, kawasan dataran tinggi Gayo sudah dihuni oleh manusia sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum adanya Suku Batak dan suku-suku lain di Pulau Sumatera yang tergolong Melayu Tua (Proto Melayu) | Serambi

Versi sejarah lain mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang. Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.

Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.

Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan:

* Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus.Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).

* Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya.

Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.

Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak.

Sumber: disarikan dari buku “LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA” cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama, Jakarta.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016