
Jakarta | Acehtraffic.com - Kapolri Jenderal Timur Pradopo
mengaku terkejut dengan adanya video pemenggalan kepala yang diduga dilakukan
aparat di Mesuji, Lampung. Orang nomor satu di Korps Bhayangkara ini
memerintahkan langsung Kabareskrim Komjen Sutarman untuk turun langsung
melakukan pengusutan.
“Saya sudah minta Kabareskrim untuk
segera tangani agar tak berlarut-larut,” ujar Timur Pradopo usai rapat kerja
dengan Komisi III DPR tadi malam pukul 22.30.
Raker itu sedianya membahas soal
anggaran Polri dan laporan keuangan BPK namun justru ramai dengan topik
pembantaian massal di Mesuji, Lampung.
Hal itu karena pagi sebelum rapat,
Komisi III DPR didatangi warga Lampung yang mengadu soal adanya penganiayaan
dan pembunuhan secara sistematis sejak 2009 di kawasan Mesuji, Lampung. Warga
datang didampingi Mayjen Pur Saurip Kadi dan artis Pong Harjatmo.
Tak hanya datang dan melaporkan dengan sebatas lisan, korban yang juga sebagian besar adalah warga Lampung memberikan bukti berupa video rekaman yang menampilkan pembantaian orang yang diduga petani daerah desa adat Megoupak, Mesuji, Lampung.
Tak hanya datang dan melaporkan dengan sebatas lisan, korban yang juga sebagian besar adalah warga Lampung memberikan bukti berupa video rekaman yang menampilkan pembantaian orang yang diduga petani daerah desa adat Megoupak, Mesuji, Lampung.
Dalam video yang diambil saksi
tersebut, ditunjukkan sejumlah orang berpakaian hitam dengan tutup wajah
menggorok leher kepala korban dan memotong kaki serta anggota tubuh yang lain.
Tampak sangat jelas dalam video tersebut darah yang berceceran dan kepala
manusia yang dipotong dan diletakkan di atas mobil.
Peristiwa ini diduga akibat adanya perluasan lahan yang dilakukan perusahaan PT Silva Inhutani. Ekspansi lahan ini menadapat penolak warga sekitar yang merasa telah lama memiliki lahan tersebut. "Ada perluasan perkebunan, tapi merambah ke tanah milik penduduk. Ini berurutan dan tidak di satu tempat saja di daerah Tulang Bawang, Mesuji, Sodong, Lampung," jelas Saurip Kadi.
Selanjutnya, imbuh dia, pengusaha minta bantuan ke polisi untuk mengusir penduduk. Pengusaha juga membentuk Pamswakarsa [aparat pengamanan dari warga] untuk membenturkan rakyat dengan rakyat.
Peristiwa ini diduga akibat adanya perluasan lahan yang dilakukan perusahaan PT Silva Inhutani. Ekspansi lahan ini menadapat penolak warga sekitar yang merasa telah lama memiliki lahan tersebut. "Ada perluasan perkebunan, tapi merambah ke tanah milik penduduk. Ini berurutan dan tidak di satu tempat saja di daerah Tulang Bawang, Mesuji, Sodong, Lampung," jelas Saurip Kadi.
Selanjutnya, imbuh dia, pengusaha minta bantuan ke polisi untuk mengusir penduduk. Pengusaha juga membentuk Pamswakarsa [aparat pengamanan dari warga] untuk membenturkan rakyat dengan rakyat.
"Ketika masyarakat mengadu ke
petugas keamanan, bukan ditangani dengan hukum malah menjadi korban. Akibatnya,
mereka takut. Aparat keamanan juga kerap mengintimidasi dan sangat masif,"
kata mantan petinggi TNI tersebut.
Abdul Kadir Wokanubun, Direktur Advokasi YLBHI yang selama ini mendampingi warga menjelaskan, peristiwa itu tak hanya berlangsung di Mesuji, Lampung. Namun, juga di Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. "Lokasinya memang berdekatan, hanya dibedakan dengan sungai. Bisa ditempuh tiga jam jalan darat," katanya.
Data resmi yang dicatat YLBHI, serangkaian kekerasan itu berlangsung dengan beking aparat. "Kami mendesak Kapolri bertanggungjawab langsung atas hal ini," katanya. Warga di dua daerah itu, kata Kadir, hingga kini masih takut beraktivitas. "Mereka trauma," ujarnya.
Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan ada dua kejadian yang ditangani oleh Polri terkait kasus pembantaian warga di kawasan Sumatera. Pertama kasus di wilayah Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan dan kasus di Kabupaten Mesuji, Lampung. "Bahwa yang ditangani Polri ada 2 kejadian, di wilayah kecamatan Mesuji, kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan itu kejadian tanggal 21 April 2011.
Abdul Kadir Wokanubun, Direktur Advokasi YLBHI yang selama ini mendampingi warga menjelaskan, peristiwa itu tak hanya berlangsung di Mesuji, Lampung. Namun, juga di Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. "Lokasinya memang berdekatan, hanya dibedakan dengan sungai. Bisa ditempuh tiga jam jalan darat," katanya.
Data resmi yang dicatat YLBHI, serangkaian kekerasan itu berlangsung dengan beking aparat. "Kami mendesak Kapolri bertanggungjawab langsung atas hal ini," katanya. Warga di dua daerah itu, kata Kadir, hingga kini masih takut beraktivitas. "Mereka trauma," ujarnya.
Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan ada dua kejadian yang ditangani oleh Polri terkait kasus pembantaian warga di kawasan Sumatera. Pertama kasus di wilayah Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan dan kasus di Kabupaten Mesuji, Lampung. "Bahwa yang ditangani Polri ada 2 kejadian, di wilayah kecamatan Mesuji, kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan itu kejadian tanggal 21 April 2011.
Di Lampung, kabupaten Mesuji,
tanggal 11 November 2011. Kalau melihat yang kami laporkan kejadiannya berbeda
sehingga tayangan tadi memang ada di wilayah Mesujii, Wilayah Ogan Ilir. Kedua
wilayah ada dalam satu batas wilayah yang berdekatan," katanya.
Kapolri mengatakan, kejadian di kecamatan Mesuji, Sumsel yang berkaitan dengan sengketa lahan tanaman sawit tersebut sudah dimediasi oleh pemerintah daerah setempat. Kejadian pengeroyokan tersebut sudah diselesaikan oleh Kapolda Sumsel dan telah ditetapkan 6 tersangka.
"Ada kejadian pengroyokan yang menyebabkan meninggal dunia, itu sudah diselesaikan. Kapolda sudah datang ke TKP dan sekarang sudah ada 6 tersangka yang menjalani peradilan. Jadi, masih dalam proses peradilan, tinggal menunggu hasil sidang peradilan," ujarnya. Kejadian di wilayah Mesuji, Lampung yang berkaitan dengan sengketa lahan, Kapolri mengatakan ada masyarakat yang disandera oleh masyarakat.
Saat polisi mendatangi tempat kejadian, ditengah jalan polisi dicegat oleh masyarakat. "Di tengah jalan dicegat masyarakat, ada satu masyarakat yang meninggal. Sementara dua polisi yang bawa senjata sudah diproses di peradilan," tuturnya.
Kabareskrim Komjen Sutarman yang mendampingi Kapolri mengaku sudah pernah melihat video itu sebelumnya. "Mungkin itu gambar lama yang diulang atau diedit," kata Sutarman. Dia belum berani memastikan karena timnya baru akan bekerja. Jika memang benar ada pembunuhan sistematis hingga 30 orang tewas, Sutarman berjanji menindak tegas. "Itu [30] saya kira berlebihan. Nanti kita lihat faktanya di lapangan. Polisi bicara dengan fakta," katanya.
Dia juga siap melindungi saksi-saksi dalam kasus ini. "kalau ada intimidasi, laporkan langsung ke Mabes, kita jamin akan dilindungi," kata mantan Kapolwiltabes Surabaya ini.
Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani mengaku kaget dengan temuan video itu. "Kalau bapak Kapolri tak bisa tangani, kami akan turun sendiri buat tim investigasi," katanya. Koleganya, Bambang Soesatyo lebih keras lagi. "Kalau ini tidak beres, kita akan galang hak interpelasi," katanya. Rapat berakhir tanpa kesimpulan. DPR berjanji akan mengundang lagi Kapolri usai masa reses. "Kita harap dalam seminggu kedepan sudah ada penyelesaian untuk warga Lampung," kata politisi PDI-P Ichsan Soelistio.| AT | PP |
Kapolri mengatakan, kejadian di kecamatan Mesuji, Sumsel yang berkaitan dengan sengketa lahan tanaman sawit tersebut sudah dimediasi oleh pemerintah daerah setempat. Kejadian pengeroyokan tersebut sudah diselesaikan oleh Kapolda Sumsel dan telah ditetapkan 6 tersangka.
"Ada kejadian pengroyokan yang menyebabkan meninggal dunia, itu sudah diselesaikan. Kapolda sudah datang ke TKP dan sekarang sudah ada 6 tersangka yang menjalani peradilan. Jadi, masih dalam proses peradilan, tinggal menunggu hasil sidang peradilan," ujarnya. Kejadian di wilayah Mesuji, Lampung yang berkaitan dengan sengketa lahan, Kapolri mengatakan ada masyarakat yang disandera oleh masyarakat.
Saat polisi mendatangi tempat kejadian, ditengah jalan polisi dicegat oleh masyarakat. "Di tengah jalan dicegat masyarakat, ada satu masyarakat yang meninggal. Sementara dua polisi yang bawa senjata sudah diproses di peradilan," tuturnya.
Kabareskrim Komjen Sutarman yang mendampingi Kapolri mengaku sudah pernah melihat video itu sebelumnya. "Mungkin itu gambar lama yang diulang atau diedit," kata Sutarman. Dia belum berani memastikan karena timnya baru akan bekerja. Jika memang benar ada pembunuhan sistematis hingga 30 orang tewas, Sutarman berjanji menindak tegas. "Itu [30] saya kira berlebihan. Nanti kita lihat faktanya di lapangan. Polisi bicara dengan fakta," katanya.
Dia juga siap melindungi saksi-saksi dalam kasus ini. "kalau ada intimidasi, laporkan langsung ke Mabes, kita jamin akan dilindungi," kata mantan Kapolwiltabes Surabaya ini.
Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani mengaku kaget dengan temuan video itu. "Kalau bapak Kapolri tak bisa tangani, kami akan turun sendiri buat tim investigasi," katanya. Koleganya, Bambang Soesatyo lebih keras lagi. "Kalau ini tidak beres, kita akan galang hak interpelasi," katanya. Rapat berakhir tanpa kesimpulan. DPR berjanji akan mengundang lagi Kapolri usai masa reses. "Kita harap dalam seminggu kedepan sudah ada penyelesaian untuk warga Lampung," kata politisi PDI-P Ichsan Soelistio.| AT | PP |

0 komentar:
Posting Komentar