
Banda
Aceh | Acehtraffic.com -
Aksi penembakan brutal terjadi di perkebunan karet milik PT Satya Agung di
Kecamatan Geureudong Pasee, Aceh Utara. Tiga orang tewas dan lima lainnya
luka-luka diterjang timah panas.
Kepala Polda Aceh, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Senin, [5/12] , mengatakan, insiden terjadi pada minggu, [4/12] sekitar pukul 23.30 WIB. Kepolisian sedang melakukan investigasi dan pengembangan dari kasus penembakan tersebut. “Direskrim Polda dan beberapa intelijen sudah berangkat ke sana,” katanya.
Menurutnya, motif pembunuhan tersebut sejauh ini disimpulkan sebagai kejahatan ekonomi. “Mungkin karena pekerja lokal tidak diterima bekerja karena tidak ada kapasitas bekerja di sana. Lalu, muncul sakit hati,” ujarnya.
Hal ini dibuktikan dengan adanya dialog antara pelaku dan korban yang menanyakan asal dan meminta KTP korban, sesuai dengan keterangan saksi yang berhasil dikumpulkan polisi. “Tidak ada barang yang dicuri dari perusahaan tersebut,” ujar Kapolda Aceh.
Iskandar juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus berhati-hati dan menjaga lingkungannya masing-masing. Dia mengakui masih banyak senjata ilegal di Aceh saat ini. Semenjak dirinya menjabat Kapolda Aceh, sejak Desember 2010, telah ada sebanyak 43 pucuk senjata yang diserahkan oleh masyarakat, sisa masa konflik. “Mungkin masih banyak yang belum diserahkan dan dipakai untuk komersil,” ujarnya.
Kepala Bidang Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo, melengkapi keterangan Kapolda. Menurut Gustav, berdasarkan saksi mata, pelaku berjumlah sekitar empat sampai lima orang menggunakan penutup muka dan masuk ke tempat kejadian perkara dengan berjalan kaki. Barang bukti yang ditemukan berupa selongsong amunisi jenis AK, amunisi SS-1, dan M-16.
Korban ditembak saat duduk di kantin PT Satya Agung. “Sebelum ditembak, pelaku sempat ditanya: kamu dari mana, sambil meminta KTP,” kata Gustav. Mereka yang meninggal bernama Herry, Karno, dan Sugeng.| AT | TO |
Kepala Polda Aceh, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Senin, [5/12] , mengatakan, insiden terjadi pada minggu, [4/12] sekitar pukul 23.30 WIB. Kepolisian sedang melakukan investigasi dan pengembangan dari kasus penembakan tersebut. “Direskrim Polda dan beberapa intelijen sudah berangkat ke sana,” katanya.
Menurutnya, motif pembunuhan tersebut sejauh ini disimpulkan sebagai kejahatan ekonomi. “Mungkin karena pekerja lokal tidak diterima bekerja karena tidak ada kapasitas bekerja di sana. Lalu, muncul sakit hati,” ujarnya.
Hal ini dibuktikan dengan adanya dialog antara pelaku dan korban yang menanyakan asal dan meminta KTP korban, sesuai dengan keterangan saksi yang berhasil dikumpulkan polisi. “Tidak ada barang yang dicuri dari perusahaan tersebut,” ujar Kapolda Aceh.
Iskandar juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus berhati-hati dan menjaga lingkungannya masing-masing. Dia mengakui masih banyak senjata ilegal di Aceh saat ini. Semenjak dirinya menjabat Kapolda Aceh, sejak Desember 2010, telah ada sebanyak 43 pucuk senjata yang diserahkan oleh masyarakat, sisa masa konflik. “Mungkin masih banyak yang belum diserahkan dan dipakai untuk komersil,” ujarnya.
Kepala Bidang Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo, melengkapi keterangan Kapolda. Menurut Gustav, berdasarkan saksi mata, pelaku berjumlah sekitar empat sampai lima orang menggunakan penutup muka dan masuk ke tempat kejadian perkara dengan berjalan kaki. Barang bukti yang ditemukan berupa selongsong amunisi jenis AK, amunisi SS-1, dan M-16.
Korban ditembak saat duduk di kantin PT Satya Agung. “Sebelum ditembak, pelaku sempat ditanya: kamu dari mana, sambil meminta KTP,” kata Gustav. Mereka yang meninggal bernama Herry, Karno, dan Sugeng.| AT | TO |

0 komentar:
Posting Komentar