News Update :

Kenang Tsunami Aceh: Bandar Publisihing Gelar Acara Doa dan Dikskusi bersama

Selasa, 27 Desember 2011

Banda Aceh | Acehtraffic.com - Dalam memperingati Peristiwa Tsunami Aceh, Bandar publishing yang merupakan sebuah komunitas intelektual  muda, mengelar acara berdoa dan diskusi mengenang tujuh tahun Tsunami Aceh. Selasa [27/12].

Direktur Bandar publishing ketika mengawali diskusi mengatakan bahwa, “ketika itu Aceh menjadi wilayah terbuka, bantuan masyarakat dunia mengalir deras baik dalam bentuk hibbah, bantuan langsung seperti bantuan medis, relawan kemanusiaan, dan lain sebagainya”. Ujar Mukhlisudin Ilyas.

Beliau juga menambahkan, “Dibalik musibah, tsunami membawa hikmah, dimana “wajah Aceh” berubah seketika. Grand  skenario [master plant]  “Aceh Bangkit” menjadi manifesto dimana-mana. Lalu, ditransformasikan dalam misi rehab-rekon.  Sebuah badan dibentuk, cukup dikenal, yaitu BRR [Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi] Aceh-Nias. Badan ini mengelola simpati dan empati internasional. Hampir semua negara terlibat dan tidak kurang 700 lembaga asing melibatkan diri dengan berbagai program rehab-rekon”. Tambahnya.

Mukhlisudin menilai, kesadaran untuk mengubah Aceh begitu kuat dan merona di mana-mana.  Tak heran deraan konflik selama 30 tahun terhenti seketika. Perjanjian damai RI-GAM disepakati dan melahirkan MoU Helsinki, sebagai prasyarat  rehab-rekon  dan semangat baru membangun Aceh dengan damai.

Trust, etos dan harmoni dengan Jakarta dibawah kepemimpinan SBY-JK berlangsung manis. Dan, rentang waktu tujuh tahun diakui peserta diskusi Aceh telah banyak berubah, namun perubahan itu sepertinya  belum monumental jika dilihat sikap dan perilaku anak bangsa sekarang ini. Kita bukan krisis kultural tapi kita dihadapkan krisis identitas, demikian pandangan-pandangan yang muncul dari peserta diskusi ini.

Sementara itu Kandidat Doktoral dari Universitas Kebangsaan Malaysia mengulas beberapa realitas yang terjadi saat ini, menurutnya “masyarakat Aceh sepertinya sedang dihadapkan pada krisis multidimensi, tahun ke tujuh ini nampaknya semakin kehilangan orientasi, ketahanan sosial dan mental aparatur pemerintah, baik di eksekutif maupun legislatif belum sepenuhnya berubah dan tatakelola birokrasi masih perlu dipush agar lebih mampu bekerja untuk pembangunan kesejahteraan rakyat dan media massa secara kritis telah menyajikan berbagai penyimpangan perilaku elit namun patologi korupsi terus meningkat”. Ujar Taufik Abdurrahim.

Hal yang berbeda di ungkapkan olej Sulaiman Tripa, beliau menilai bahwa “peringatan tsunami tidak hanya menjadi rutinitas tiap tahunnya, ke depan “hari tsunami” menjadi “satu hari” yang mengingatkan kita “betapa dalamnya” sebagai tonggak kebangkitan Aceh “dalam segala hal”. Katanya. 

Beliau juga menyarankan, “Tsunami harus menjadi cambuk. Satu sisi mengenang yang pergi akibat tsunami tapi sisi lain kita yang hidup memakrifati tantangan setiap tahunnya. Kedua, implikasi dari tsunami adalah berakhirnya konflik berdarah puluhan tahun. Dua peristiwa itu mesti dipaksa ingat dan mesti menjadi “kalender khusus”. Ujar Dosen Fakultas Hukum Unsyiah tersebut.

Menyambung ungkapan Dosen Fakultas Hukum Unsyiah tadi, Teuku Ridha Fahmi, seorang guru sekolah menengah atas, menyatakan “kalender khusus” satu kebutuhan untuk mengantisipasi krisis sosial lebih dalam. Cukup beralasan karena Fahmi melihat pasca tsunami muncul intelektualisme yang luar biasa sebagai manifestasi kebangkitan.  Namun spritualitas menurutnya semakin lemah. Intelektualisme dan spritualisme dua hal yang tak terpisahkan untuk memoralkan kehidupan.

Seterusnya Herman, aktivis Proodelat, katanya belum mampu merefleksikan duka, kesedihan, kepanikan dan frustasi melihat mayat-mayat bergelimpangan tujuh tahun lalu. Saya khawatir cerita dan kisah yang muncul sekarang dalam kenyataannya dipandang imajimer generasi sesudah kita. Dalam faktanya banyak lokasi tsunami tidak diselamatkan sebagai “situs tsunami”.

Semestinya diselamatkan secara orisinil sehingga generasi selanjutnya tidak mengira cerita dan kisah tsunami itu dibuat-buat dan mengharubirukan. Cerita kita benar adanya tapi logika anak cucu kita belum tentu dapat memahami ada korban diselamatkan ular, kerbau atau oleh hal-hal yang aneh lainnya.

Suatu saat jika ditanya mana lokasi tsunami, maka saat kita tunjuk, mungkin mereka tidak akan percaya, sebab faktanya sepuluh atau dua puluh tahun ke depan di lokasi itu sudah dibangun rumah dan gedung-gedung mewah, apakah mereka percaya, demikian Herman begitu geramnya melihat ada lokasi-lokasi tsunami tidak diselamatkan sejak awal.

Herman menilai, generasi setelah kita belum tentu percaya bahwa diantara 109 tsunami pernah terjadi di dunia, yang diakui Aceh paling parah dan besar sekali dampaknya dalam sejarah tsunami dengan fakta-fakta yang dilihat kemudian, sebabnya tidak ada ciri khasnya. Kalaupun ada seperti PLTD Kapal Apung, itupun sudah dimodifikasi, katanya.

Ia berharap, berbagai keajaiban perlu ditulis, disamping sisa-sisa tsunami yang masih ada sekarang, beberapa lokasi menurutnya perlu diselamatkan secara orisinil sebagai situs tsunami.

Sementara itu Dosen Fisip Unimal yang hadir sebaga memadu Diskusi mengatakan bahwa, “Aceh suatu saat akan tetap menjadi tempat kenangan penuh tragedi, karena disini ada konflik dan tsunami yang mengusik kemanusiaan, maka caranya Aceh betul-betul harus menjadi tempat “riset konflik, “riset tsunami” dan “wisata tsunami” yang berharga. Usaha-usaha untuk itu diakui sudah berlangsung beberapa tahun terakhir tapi belum maksimal”. Ujar Taufik Abdullah dan juga sebagai Kepala Lab Ilmu Politik Unimal.

Menurut Penilaian beliau, Dalam refleksi itu secara mendasar Pemerintah dinilai belum mampu membentuk badan khusus kajian dan penelitian tsunami—kalaupun ada kesadaran volunteir dan belum optimal di dukung pemerintah.

Ke depan diharapkan pemerintah lebih serius menjadikan Aceh sebagai tempat kunjungan “kunjugan dan pelajaran masyarakat dunia“. Dinilai pula pemerintah belum mampu mempromosikan tsunami sebagai modal kebangkitan dan pembangunan.

Hikmah tsunami yang luar biasa itu tidak sepenuhnya diartikulasikan secara maksimal sebagai modal sosial kebangkitan yang sesungguhnya dan berbuat lebih baik. Karena itu, diakhir diskusi ini Taufik Abdullah berpendapat perlu ada introspeksi total, agar secara radikal transformasi tsunami menemukan roh dan maknanya yang senantiasa  dihidupkan setiap tahunnya.| AT | AG |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016