
Jakarta | Acehtraffic.com - Kekhawatiran lepasnya Papua dari NKRI dari
waktu ke waktu terus meluas. Yang kontroversi, meluasnya kekhawatiran itu
berjalan seiring dengan kesan tentang pemerintahan SBY yang tidak peka dan
responsif.
Selain itu pihak yang paling khawatir
adalah elit atau kelompok yang pernah berkuasa. Sedangkan yang merasa
aman, elit penguasa saat ini.
Meluasnya kekhawatiran dan terbelahnya
persepsi ini tercermin dari beberapa peristiwa dan dialog-dialog
informal yang disaksikan dan dialami INILAH selama minggu pertama bulan
Desember.
Presiden SBY misalnya sudah membentuk Unit Kerja
Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat [UK4PB] pada 13 Oktober
2011.
Tetapi pembentukan itu tetap tidak mampu menutup kekhawatiran yang
ada. Soalnya sudah hampir sebulan lembaga baru itu dibentuk, pelantikan
Ketua dan anggota lembaga baru tersebut, belum juga dilakukan.
Pembentukan
lembaga baru, dinilai oleh kalangan elit bekas penguasa sebagai sesuatu
yang tidak efektif. Semestinya yang harus dimaksimalkan adalah
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. [PDT].
Selain dananya sudah
tersedia, penambahan tugas pada Kementerian PDT bisa menolong
kementerian itu dari tudingan sebagai lembaga yang "idle" atau tidak
jelas kegunaannya.
Sekaligus mencegah munculnya lembaga baru yang hanya
membuat birokrasi menjadi lebih gemuk.
Dengan memaksimalkan
Kementerian PDT, pemerintah tidak harus menugaskan seorang Jenderal
purnawirawan untuk menjalankan program percepatan pembangunan atas
Papua.
Karena penunjukkan seorang Jenderal sekalipun sudah pensiun tetap
memberikan kesan bahwa pemerintah pusat lebih mengedepankan pendekatan
militer ketimbang non-militer.
Padahal yang harus dihindarkan munculnya
kesan pemerintah menggunakan kekuatan militer di Papua yang hasilnya
pasti akan berujung pada pelanggaran HAM.
Muncul pula pertanyaan,
mengapa SBY tidak menugaskan putera Papua di UK4PB? Jika itu
dilakukannya, secara psikologis akan menjawab keluhan-keluhan masyarakat
Papua.
Keluhan yang ada misalnya pemerintah membangun Papua dengan
hanya mengandalkan konsep yang dibuat berdasarkan visi orang luar Papua.
Ada
dua peristiwa yang terjadi awal Desember 2011 yang dihadiri INILAH. Dua
peristiwa itu tidak ada kaitannya dengan kegiatan politik ataupun
membahas soal Papua.
Tetapi sejumlah elit yang hadir di situ tak bisa
menahan kegalauan untuk tidak berbicara soal kemungkinan Papua lepas
dari NKRI.
Sementara itu Soegeng Sarjadi, seorang aktifis Angkatan
66 menggelar pesta untuk menghormati Bilver Singh, ilmuwan politik asal
Singapura yang baru saja menikahkan puteranya. Pesta diselenggarakan di
Hotel Sunlake, Sunter, Jakarta Utara.
Bilver Singh yang dikenal
sebagai profesor ahli mengenai Indonesia, punya banyak sahabat di
Indonesia. Para sahabatnya, rata-rata pernah menjadi pejabat tinggi di
bidang pemerintahan.
Seperti mantan Letjen TNI [purn] Sutiyoso, Jenderal
TNI [Purn] Wiranto dan Jenderal TNI [urn] Ryamirzad Ryacudu. Mereka
semua hadir di acara resepsi pernikahan itu.
Saat Ryacudu, mantan
Kepala Staf Angatan Darat didaulat memberi sambutan ia bukan hanya
bicara tentang pentingnya pasangan pengantin baru itu menjaga keutuhan
rumah tangga tetapi juga bagaimana bangsa Indonesia khususnya yang hadir
dalam resepsi itu berpikir dan peduli soal keutuhan NKRI.
Menurut
Ryacudu, Prof.Bilver Singh merupakan orang asing pertama yang
mengingatkan kepadanya lebih dari 10 tahun lalu tentang kemungkinan
Timor Timur lepas dari NKRI.
Ketika Singh mengingatkannya, menantu
bekas Wapres Try Sutrisno itu tidak percaya. Bahkan ia agak tersinggung
dengan peringatan orang Singapura tersebut. Tetapi pada akhirnya
prediksi Bilver Singh itu menjadi kenyataan. Pada 1999, melalui
referendum, Timor Timur lepas dari NKRI.
Singh pun menangis dan
menurut Ryacudu, Singh mungkin satu-satunya orang asing yang menangis
atas lepasnya Timor Timur.
Semenjak itu Ryacudu tidak lagi meremehkan
pandangan Bilver Singh. Bahkan setelah lepasnya Timor Timur, mereka
menjadi sahabat yang sudah seperti satu keluarga. Karena sudah
bersaudara, keduanya semakin bebas dan lepas membahas
persoalan-persoalan Indonesia.
Suasana pesta pun menjadi seperti
sebuah sarasehan politik. Sebab kebetulan yang hadir sebagai sahabatnya
Soegeng Sarjadi kebanyakan berasal dari komunitas politik, para pengamat
ataupun orang-orang yang bersentuhan dengan masalah politik.
Seperti
Ikrar Nusa Bhakti [dari LIPI], Kurtubi [pengamat perminyakan] dan Toto
Karnavian dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Ryacudu
melanjutkan, sekitar empat bulan lalu Prof Bilver Singh menemuinya untuk
sebuah diskusi. Tiba-tiba Singh mengingatkan, jika penanganan
pemerintah Indonesia tentang Papua tidak berubah, ia khawatir provinsi
paling Timur Indonesia itu akan lepas dari NKRI.
"Dan saya sungguh
khawatir sebab sayapun memiliki pendapat dan penglihatan serupa," ujar
Ryacudu.
Pada kesempatan lain di sebuah resepsi hari ulang tahun,
INILAH.COM bertemu dengan bekas Dubes RI untuk AS, Dr Arifin M Siregar.
Di resepsi itu terlihat sejumlah elit yang dipercaya oleh Presiden
Soeharto sebagai anggota birokratnya. Seperti Prof Emil Salim, mantan
Dirut Pertamina AR Ramly, ataupun wartawan senior Fikri Djufri yang
terkenal sangat kritis dengan manajemen pemerintahan.
Pesta ini menjadi
semacam tempat menumpahkan kekhawatiran mereka sebagai warga negara
senior.
Siregar yang biasanya suka berbicara blak-blakan hanya
bisa mengatakan, bahwa bukan hanya dia yang tidak paham tentang cara
pemerintahan SBY menanggapi isu Papua. Tetapi hampir semua sahabatnya
yang pernah menjadi bagian dari pemerintahan Orde Baru.
"Maksudnya
pemerintah tidak peka begitu?" bertanya INILAH. "Kalau menurut
teman-teman, bukan tidak peka, tapi tidak peduli," katanya. Ada kesan
cara SBY menanggapi kritikan adalah dengan tidak merespons. Tetapi
selain itu, diberi masukan pun, SBY tidak akan pernah mau menggunakan
masukan itu, apabila sudah memiliki pandangannya sendiri.
Tamu
lainnya yang bertemu menceriterakan betapa kecewanya Ali Alatas, mantan
Menlu yang pernah dipercaya SBY sebagai Ketua Dewan Pertimbangan
Presiden [Wantimpres].
"Banyak masukan yang diberikan Wantimpres," kata
sang tamu, tapi menurut almarhum Alatas, tak satupun yang diterima atau
dijalankan SBY.
Pada akhirnya muncul pertanyaan, mengapa Presiden
SBY dan para pembantunya seperti tidak peduli dengan kemungkinan
lepasnya Papua? Apa sebenarnya yang diprioritaskan oleh SBY? Apakah
Papua diam-diam sudah dibarterkan?
Apakah SBY lebih sibuk mengurus
masalah suksesi, siapa yang akan menggantikannya? Mungkinkah SBY memang
sudah tidak peduli dengan persoalan yang mengancam keutuhan NKRI? Oh My
God - OMG, inikah mungkin yang disebut Balada Papua? Dimana nasibnya
dan nasib bangsa Papua hanya dibahas sebatas wacana. Tidak ada langkah
konkrit!| AT | IH |

0 komentar:
Posting Komentar