Banda Aceh | Acehtraffic.com - Aliansi Jurnalis Independen [AJI] Banda Aceh mengecam aksi premanisme terhadap jurnalis di Nusa Tenggara Timur dan meminta polisi menyelidiki kasus kekerasan serta pembakaran rumah yang menyebabkan seorang balita meninggal dunia.
"Praktek premanisme dan hukum rimba masih terjadi di Indonesia. Kasus kekerasan yang menimpa Dance Hanukh wartawan Rote Ndao News menjadi petaka bagi dunia pers dan polisi harus mengusut tuntas kasus ini, " kata Ketua AJI Banda Aceh Mukhtaruddin Yacob di Banda Aceh, Sabtu.
Kekerasan tidak hanya dialami Dance Hanukh. Aksi pengancaman juga dialami wartawati Erende Pos yang dilakukan seorang oknum PNS yang juga menjadi anggota satuan polisi Pamong Praja [satpol PP].
Wartawati Erende Pos Endang Sidin diancam akibat pemberitaanya menyangkut oknum PNS yang menjadi calo proyek Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan [PPIP] yang bersumber dari dana APBN 2011.
"Kasus kekerasan dan premanisme terhadap jurnalis masih terjadi bahkan cederung meningkat. Peristiwa ini menandakan bahwa kekerasan masih dijadikan solusi bagi orang pengecut," katanya.
Menurutnya, jurnalis di seluruh Indonesia harus kompak dan diperlukan langkah solidaritas untuk menuntut negara yang hingga saat ini tidak memberi perlindungan kepada warganya.
"Ini bukti pasal 4 UU Nomor 40/1999 Tentang Pers yang menyebutkan 'Dalam Menjalankan Tugasnya, Wartawan Mendapat Perlindungan Hukum' itu sama sekali tidak berjalan," katanya menambahkan.
Selain itu mengecam aksi premanisme dan mengutuk kekerasan terhadap jurnalis di Nusa Tenggara Timur dan di daerah lain, AJI Banda Aceh juga menuntut semua pihak menghargai perbedaan dan menghormati tugas jurnalistik.
"Kami juga mendesak Komnas HAM untuk turun ke Nusa Tenggara Timur agar aksi kekerasan tidak terjadi lagi di masa yang akan datang," kata Mukhtaruddin Yacob.| AT | AN |

