"Kisruh Pilkada Aceh lebih tercium konflik pribadi antara petinggi Partai Aceh Versus Irwandi Yusuf "
Melihat kisruh Pilkada Aceh yang dimulai oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang merembes pada bimbangnya masyarakat dalam menunggu proses demokrasi lima tahunan ini. Adalah bentuk sikap otoriter DPRA yang dimotori oleh kader Partai Aceh yang sebenarnya dipicu oleh persoalan sederhana.
Melihat kisruh Pilkada Aceh yang dimulai oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang merembes pada bimbangnya masyarakat dalam menunggu proses demokrasi lima tahunan ini. Adalah bentuk sikap otoriter DPRA yang dimotori oleh kader Partai Aceh yang sebenarnya dipicu oleh persoalan sederhana.
Bahwa penolakan Jalur Independen oleh DPR Aceh adalah aplikasi dari konflik pribadi antara petinggi Partai Aceh dengan Gubernur Aceh Drh Irwandi Yusuf.
Konflik ini diawali dari pilkada 2006, dimana Petinggi Partai Aceh seperti dr.Zaini Abdullah dan Malik Mahmud Al Haytar yang memilih mengajukan Humam Hamid –Hasbi Abdullah (adik Kandung Zaini Abdullah) yang merupakan Ketua DPR Aceh sekarang sebagai kandidat Gubernur melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Sementara jalur Independen yang diberikan pemerintah setelah MoU Helsinki ditandatangani, tidak digunakan oleh petinggi dr.Zaini Abdullah dan Malik Mahmud Al Haytar.
Saat itu, gerilyawan GAM dilapangan menganggap tindakan petinggi tidak konsisten, karena tidak menggunakan jalur independen sebagaimana yang telah capek di perjuangkan di Helsinki. Aktivis GAM dari kelompok dilapangan, yang sadar, mendorong Drh.Irwandi Yusuf untuk maju mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh priode 2007 -2012. Saat itu Irwandi baru saja menjabat refresentatif GAM di AMM.
Petinggi GAM, dr Zaini Abdullah, Malik Mahmud berpihak kepada H2O yang diusung PPP, sementara GAM dilapangan berpihak ke jalur Independen Irwandi -Nazar. Peuculok dan peusuna juga terjadi disini. Kalo yang pro H2O mengatakan pasangan Irwandi-Nazar tidak direstui wali Hasan Tiro, tak tanggung untuk meyakinkan ucapan ini, lahir surat peuneutoh bahwa wali merestui H2O.
Saat itu juga jika ada orang yang bertanya kenapa Mentero menaikkan calon lewat partai nasional yaitu H2O? Ini tidak usah kita pikirkan, ini statregi pasti yang paling makfum adalah petinggi kita. Mendapat jawaban seperti itu yang bertanya tidak melanjutkan pertanyaan memilih meng-iyakan saja.
Dilapangan juga terjadi komentar, kelompok GAM pro Irwandi saat itu mengatakan, untuk apa dinaikkan calon lewat partai nasional, sementara sebelum Damai kita kebcang memkampanyekan Partai Nasional -tidak beres.
Ekses dari semua itu berbagai bentrokan dan fitnah juga bertebaran saat itu. Dan yang paling menonjol adalah kejadian tanggal 22 Nopember 2006, Di Matang Glumpang II Bireuen. Calon Humam-Hasbi [H2O] yang sedang dalam perjalanan dari Medan, singgah di Matang Glumpang II, dan saat itulah bis yang kenderai serta striker H2O dirusak kelompok yang tidak dikenal.
Pasangan yang diusung lewat partai nasional PPP ini, adalah dukungan petinggi GAM dr Zaini Abdullah, Alm. Usman Lampoh Awe, Mentro Malik Mahmud Al Haytar, lari kocar kacir dan diselamatkan pedagang di Matang.
Nah itu masa lalu yang buruk. Dan sejatinya tidak harus terulang kembali.
Namun, apapun harapannya sepertinya sisa kebencian masa lalu masih tercium dalam konflik pilkada kali ini. Irwandi yusuf yang kita akui atau tidak, cukup populis/populer dimasyarakat Aceh atas programnya yang menyentuh masyarakat bawah, tetap dicanter oleh para penentangnya, artinya Irwandi tetap tidak bagus.
Tantangan dari kelompok yang sama, kembali menghajarnya di pilkada 2011. Kebencian ditebar kepada sejumlah para mantan GAM di lapangan, dan masyarakat awam. Bagi yang tidak tahu persoalan menganggap itu info penting dan membangkitkan kemarahan kepada Irwandi. Bagi masyarakat yang mengerti menganggap itu hanya kabar sampah.Dan tidak perlu di tindak lanjuti.
Dalam kondisi ini, ada banyak mantan anggota GAM dan aktivis GAM yang juga berada di belakang Irwandi Yusuf, begitu juga masyarakat yang sudah merasakan bagaimana suasana kondusif dan merasakan dampak dari program yang di jalankan Gubernur Irwandi Yusuf.
Irwandi dijegal dari berbagai sektor.
Pertama oleh keputusan beberapa orang di Partai mantan combatan itu yang tidak mau mencalonkan Irwandi melalui Partai Aceh dalam pemilukada 2011, tujuannya agar Irwandi tidak memliki kenderaan untuk maju sebagai calon Gubernur Aceh 2012-2017. Padahal kondisi saat itu, umumnya anggota GAM menginginkan adanya konvensi dalam penunjukan calon gubernur dari Partai Aceh tersebut, tapi itu tidak terjadi melainkan atas dasark keputusan beberap[a petinggi.
Namun Irwandi tidak kehilangan akal, ia menggunakan Jalur Independen yang sudah diputuskan berlaku kembali oleh Mahkamah kontitusi dan sesuai dengan amanat dalam MoU Helsinki Article 1.2 Political participation (Partisipasi politik)
1.2.2 Dengan penandatangan Nota Kesepahaman ini, RAKYAT ACEH akan memiliki hak menentukan calon-calon untuk posisi semua pejabat yang dipilih untuk mengikuti pemilihan di Aceh pada bulan April 2006 DAN SELANJUTNYA.
Dan itu juga jalur tersebut dijegal habis-habisan. Bahkan sedikit membingungkan jika klaim bahwa pemerintah Jakarta telah mengutak atik UUPA terkait jalur perseorangan. Dan Partai Aceh dalam berbagai kesempatan hingga demontrasi, yang didengunkan Partai Aceh adalah mempertahankan UUPA sesuai dengan MoU.
Dan sejatinya putusan MK mencabut pasal 256 UUPA adalah sudah sesuai dengan isi MoU Helsinki. “ Jadi apa yang dimaksud kawan dari Partai Aceh? entahlah.
Faham masyarakat awam dan peserta demo tolak pilkada umumnya adalah, MK telah mencabut pasal dalam MoU yang di teken Di Helsinki. Masyarakat belum dan tidak tahu isi MoU begitu juga isi UUPA yang sebenarnya.
Tetapi yang menarik adalah, bagaimana kemasan barang berharga yang bernama “MoU” dan apa yang kutak katik MK sudah kembali seperti semula seperti tertulis di lembaran klausa MoU. Yang sebelumnya isi MoU itu di pangkas oleh UUPA.
Jadi pikiran awam, jadi bertanya? Berarti Partai Aceh mencampur adukkan kebenaran dan kesalahan, artinya UUPA yang memangkas MoU di pertahankan? Sepantasnya para pendemo bukan menolak, tapi mengucapkan terima kasih kepada yang mulia Pak Mahfud MK ketua MK, yang telah menyesuaikan isi UUPA dengan MoU.
Tapi justru ini terbalik, ataukah PA lebih senang dengan UUPA yang serba kekurangan itu, dan jauh melenceng dari MoU? Mungkin juga sedang dipraktekkan konsep stalin yang disebutkan saalahh teruys salahhhh keluarnya benar. Kita tidak tahu.
Dan dari beberapa diskusi langsung dan melalui facebook, sampai pada bab ini tidak ada jawaban dari aktivis PA. Dan ujungnya terjawab soal perasaan; Irwandi tidak mendengar omongan orang tua [red orang tua adalah petinggi GAM] Terlalu mendengarkan Jakarta, dan tidak memberikan kesempatan kepada orang lain; itulah jawaban akhir.
|||
Badai fitnah seperti itu, Peuculok dan Peusuna masih bertebaran didesa desa, dari Irwandi disebut pengkhianat, anak bla bla, antek Indonesia, dan terlalu mendengarkan Jakarta. Juga Irwandi dituding tidak menjalankan MoU dan UUPA.
Begitulah kampanye-nya. …..
Nah, disana terlihat Partai Aceh dimata masyarakat awam memposisikan diri sebagai “Penyelamat Aceh untuk menuju kemakmuran, dan dinampakkan bahwa penolakan Independen dan tolak ikut Pilkada, adalah upaya untuk menyelamatkan Aceh.
Sementara Irwandi Yusuf walaupun pernah menjadi salah satu ujung tombak GAM, diposisikan sebagai musuh. Sebagai contoh DPRA membatalkan beberapa kali sidang rapat kerja di DPRA, tok karena Gubernur Irwandi mengirim wakil. Padahal ketentuan hukum dibolehkan gubernur mengirim wakil.
Partai Aceh juga sempat menggalang Partai Nasional dengan berbagai langkah, terlihat tujuan agar Pilkada berlangsung saat Irwandi tidak lagi menjabat Gubernur.
Namun kemudian, Partai Nasional tidak setia kepada Partai Aceh, Demokrat membawa Nazar–Nova ke kursi kandidat. Dan sejumlah putera terbaik Aceh mendaftar sebagai kandidat. Partai Aceh tetap tidak setuju, alasannya, KIP melaksanakan Pilkada tanpa pegangan hukum yang kurang jelas.
Mari kita baca MoU, dan hindari membohongi masyarakat awam, lebih sepuluh tahun masyarakat berada diantara desingan peluru, takut sedih dan menangis, untuk sebuah harapan Aceh yang sejahtera. Belum seberapa mewujutkan janji masa silam kepada masyarakat.
Baru sebentar masyarakat istirahat dan tidur nyenyak “Para masyarakat pedalaman” walau perut masih bersuara cacing. Sudah di diajak untuk “Berjuang lagi”, kali ini berjuang tolak Pilkada, dan mereka tetap datang, mereka juga mau berteriak sesuai anjuran.
Kemarahan masyarakat bukanlah karena naik darah, banyak makan kari kambing, atau banyak menkonsumsi makanan ber-lemak lainnya, malah masyarakat untuk mencukupi empat sehat lima sempurna, saja sulit.
Tetapi mereka berteriak, dengan harapan ini kali yang terakhir, saya sebagai pejuang, dan segera menuju kesejahteraan yang sudah lama di idamkan. Sudah lelah.
Tapi sayang, Rakyat Aceh kembali termakan program “Menjaring angin di laut lepas”, tanpa mengetahui sebab musabab yang jelas dalam kontek Pilkada ini. Tanpa filter – atau sengaja tidak di jelaskan, sebab itu dengan mudah bisa Di-racuni Peuculok [provokasi], dan Peusuna. Ayo kita berpikir jernih untuk kemajuan.| INDRYA
Note : Kalau ada komentar dengan tulisan ini atau yang lain, sampaikan aspirasi anda via email redaksiaceh.traffic@gmailcom


0 komentar:
Posting Komentar