News Update :

Liput KRP III, Pers Pun Diintimidasi

Rabu, 19 Oktober 2011



Jayapura | Acehtraffic.com – Sejumlah wartawan menyampaikan kekecewaannya saat hendak meliput kegiatan Kongres Rakyat Papua III,  hari kedua Selasa [18/10] sore kemarin. Para pekerja pers tersebut mengalami intimidasi yang dilakukan oleh petugas pengamanan Kongres Rakyat Papua III yang diduga berasal dari Penjaga Tanah Papua [Petapa]. 

Wartawan Harian Bintang Papua, Venny Mehuse, menceritakan bahwa, dirinya mengalami intimidasi saat hendak datang meliput jalannya KRP III pada hari kedua, saat memasuki area kongres, dirinya telah diperiksa oleh para petugas pengamanan secara berlapis.

“Saya diperiksa di jalan Yakonde, Petugas yang periksa itu pakai seragam biru biru, saya datang pakai seragam Bintang Papua, tetapi mereka minta saya untuk tunjukkan ID Card, dan saya tunjukkan, setelah diperiksa, saya diijinkan untuk naik ke atas, tetapi sebelum naik, ternyata saya ditahan lagi oleh beberapa petugas perempuan, mereka kembali periksa saya lagi, pemeriksaan kali ini mereka minta saya perlihatkan semua isi tas dan mereka juga periksa kantong baju, saya tenang-tenang saja, tapi sedikit risih karena mereka juga menyentuh  (maaf) dada,” urainya, Setelah selesai pemeriksaan itu, dirinya diijinkan untuk memasuki area kongres.

Namun, beberapa saat kemudian, Venny yang sedang beristirahat sejenak di Biara Sang Surya Fransiskan yang letaknya bersebelahan dengan Lapangan Zakheus, tempat berlangsungnya KRP III, disitu dirinya didatangi oleh sekitar belasan petugas pengamanan, ”Ada laki-laki yang baju biru biru dan ada juga perempuan yang tadi periksa saya di bawah, disitu mereka mulai hujani saya dengan berbagai pertanyaan yang sepertinya mencurigai saya mau lakukan sesuatu,” ceritera Venny.

“Kamu sebenarnya dari mana, saya jawab dari Bintang Papua, kan tadi saya sudah tunjukkan ID card, dan tadi sudah dua kali diperiksa,” ugkapnya, Namun para petugas tersebut dengan nada kasar malah memintanya untuk membuktikan hasil tulisannya di media Bintang Papua,”Nah loh, saya heran apa sebenanrnya yang mereka inginkan, kalau saya dianggap mencurigakan.

Kenapa tadi waktu pemeriksaan dibawah saya diijinkan masuk, tetapi alasan saya sepertinya tidak merubah pikiran mereka bahwa saya adalah orang yang mencurigakan, bahkan salah satu dari mereka juga tanya, tadi kamu bikin apa ke dapur biara ? waduh benar-benar saya seperti tertuduh, mereka juga bilang bahwa, jangan-jangan kamu ke dapur untuk sembunyikan sesuatu ya, dan beberapa pertanyaan lain yang buat saya semakin terpojok dan akhirnya saya menangis,” ujar Venny sedih.

Ditambahkannya lagi, bahwa, setelah dirinya menangis, barulah para petugas tersebut sedikit mereda, mereka masih bertanya tetapi dengan nada yang tidak sekasar sebelumnya, mendengar dirinya menangis, salah seorang Bruder yang berada di Biara Sang Surya keluar dan memberikan penjelasan kepada para petugas pengamanan kongres tersebut,” Bruder bilang kalau saya sering ke biara dan sudah biasa dengan orang-orang di Biara, setelah dengar penjelasan itu, mereka langsung minta maaf dan pergi tinggalkan saya disitu,” jelas Venny.

Sementara itu, fotografer Antara, Anang Budiono, bersama salah seorang wartawan Harian Papua Pos, Loy, dikejar oleh para Petapa. “Saya mau masuk untuk meliput, tetapi mereka larang karena tidak ada ID Card, ya saya terima karena itu aturan mereka, setelah itu, saya dengan teman menyeberang ke sebelah jalan, dari jarak sekitar 50 meter  saya mengambil gambar.

Saya santai saja karena jalan raya itu kan area publik, dan masih sangat jauh dari area kongres, tetapi ternyata ada orang yang tidak suka dan mecoba melapor pada petapa, berselang beberapa menit, sepasukan petapa datang dan berjalan menuju ke arah kami, karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya dan teman memilih meninggalkan tempat itu, tetapi mereka terus berjalan ke arah kami sambil berteriak, mau kemana itu,” ceritera Anang dan di iyakan oleh Loy. 

Tidak hanya sampai disitu, beberapa kejadian tidak mengenakkan juga dialami wartawan lainnya, salah seorang wartawati Cenderawasih Pos, Adolina, dan wartawati Harian Pasific Pos, Sandra, sempat merasa risih saat melewati petugas pengamanan yang melakukan pemeriksaan sampai menyentuh bagian tubuh mereka,”Ya walaupun yang periksa itu perempuan tetapi kan risih juga,” ujar Ado.

Ruang gerak wartawan semakin sempit pada Kongres Rakyat Papua III mulai terasa kemarin, Ketua Panitia KRP III, Selfius Bobi, dalam sesi jumpa pers mengatakan bahwa wartawan hanya dapat meliput saat konferensi pers pukul 13.00 WIT. “Wartawan hanya dapat meliput saat jumpa pers, tidak bisa mengambil gambar di area kongres, pengambilan gambar hanya bisa dilakukan saat jumpa pers “ujarnya kemarin. 

Hingga berita ini diturunkan belum ada sikap resmi dari organisasi Pers maupun sejumlah pimpinan media di Jayapura atas tindakan sewenang-wenang yang dialami sejumlah wartawan, apakah membokit soal berita kongres atau tidak. |AT/Yd/BP
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016