Jakarta | Acehtraffic.com— Dunia pendidikan sebaiknya
menghilangkan istilah drop out bagi siswa yang tidak berhasil
di sekolah. Istilah itu dianggap menyalahkan siswa yang tidak mampu
mengikuti proses belajar-mengajar daripada sistem pembelajaran yang
digunakan.
"Anak-anak biasanya tidak dengan sukarela ingin drop
out dari sekolah. Mereka sering kali 'didorong' keluar oleh
sekolah dan sistem pendidikan yang belum menyesuaikan diri dengan
kebutuhan individu peserta didik mereka," kata mantan Direktur
Pendidikan Biro Asia Pasifik UNESCO Sheldon Shaeffer, pada Konferensi
Guru Nasional 2011, di Jakarta, Rabu (26/10/2011).
Padahal,
menurut Shaeffer, kegagalan siswa belum tentu karena kesalahan yang ada
pada siswa yang bersangkutan. Ia mengungkapkan, staf pengajar harus
merasa bertanggung jawab atas segala kegagalan siswa dan mampu
mengidentifikasi hambatan pada sekolah dan proses belajar-mengajar yang
ditemukan di dalam sekolah.
Kebijakan terbaru tentang pendidikan,
sertifikasi, dan remunerasi guru diharapkan bisa membuat guru lebih
termotivasi dan lebih profesional untuk meningkatkan hasil pembelajaran.
Untuk membantu memastikan hal tersebut terjadi, para pemimpin sekolah
harus membantu guru-guru mereka mengembangkan potensi penuh mereka.
Selain
menyiapkan sistem pembelajaran yang baik, Shaeffer juga mengatakan,
calon siswa juga harus dibuat siap untuk menjalani pendidikan di
sekolah. Sebagai perkembangan awal masa kanak-kanak dan program
pendidikan, orangtua harus meningkatakan gizi anak, kesehatan, dan
perkembangan kognitif yang penting bagi kesejahteraan anak untuk
mempersiapkan anak untuk sekolah.
Oleh karena itu, Shaeffer
mengimbau orangtua untuk mendaftarkan anak-anak mereka di pusat
pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak dan jangan
langsung memasukkan mereka ke tingkat SD.
"Pastikan juga TK
berbasis pada anak dan berbasis pada masa bermain, bukan berforkus pada
prestasi akademik," kata Shaeffer.| AT | Kompas

0 komentar:
Posting Komentar