Lhokseumawe | Acehtraffic.com-Pekerja seks komersil atau sering disebut PSK banyak beredar di kawasan Kota Lhokseumawe, namun sulit didekteksi karena mereka dilindungi sejumlah oknum aparat dan tidak terkonsentrasi pada satu titik, apalagi di kota tersebut tidak ada lokalisasi seperti dikawasan lain di Indonesia.
Hal itu diungkapkan Khaidir MF SKP, Manajer Program Yayasan Permata Atjeh pada Dialog Interaktif Warung Kopi, yang mengambil tema, 'Ancaman HIV-AIDS di Negeri Syariat', diadakan Yayasan Permata Aceh Peduli, berlangsung di Kafe Arizki, Lhokseumawe,Selasa [27/9]
Acara itu turut dihadiri oleh 50 peserta yang didalamnya terdapat pengidap HIV, waria, PSK dan sejumlah pelajar dan lembaga peduli HIV-AIDS. “Kita telah melakukan survey terhadap 50 PSK di Lhokseumawe sekaligus mensosialisasikan bahaya penyakit berbahaya tersebut di kalangan mereka. Kendalanya mereka tidak mudah kita temukan, karena tidak terkosentrasi pada satu tempat. Dan mereka bekerja dilindungi oleh oknum aparat tertentu,” ujar Khaidir.
Menurutnya, acara ini sengaja diselenggarakan sebagai bentuk sosialisasi bahaya HIV-AIDS, sekaligus sharing pendapat antara peserta dengan sejumlah narasumber. Antara lain wakil Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya, selakui Ketua KPAI Lhokseumawe, Ketua MPU Aceh Utara Tgk H Amirullah Usman serta Sekretaris KPAI Lhokseumawe Ibu Ratna Sahara.
Para peserta umumnya menanyakan kepada nara sumber, tentang upaya pemerintah dalam menangulangi hal tersebut. Karena penyebaran penyakit mematikan tersebut, penyebabnya berdasarkan hubungan seks yang tidak sehat serta akhirnya berbias pada manusia lain yang tidak berdosa.
Acara itu turut dihadiri oleh 50 peserta yang didalamnya terdapat pengidap HIV, waria, PSK dan sejumlah pelajar dan lembaga peduli HIV-AIDS. “Kita telah melakukan survey terhadap 50 PSK di Lhokseumawe sekaligus mensosialisasikan bahaya penyakit berbahaya tersebut di kalangan mereka. Kendalanya mereka tidak mudah kita temukan, karena tidak terkosentrasi pada satu tempat. Dan mereka bekerja dilindungi oleh oknum aparat tertentu,” ujar Khaidir.
Menurutnya, acara ini sengaja diselenggarakan sebagai bentuk sosialisasi bahaya HIV-AIDS, sekaligus sharing pendapat antara peserta dengan sejumlah narasumber. Antara lain wakil Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya, selakui Ketua KPAI Lhokseumawe, Ketua MPU Aceh Utara Tgk H Amirullah Usman serta Sekretaris KPAI Lhokseumawe Ibu Ratna Sahara.
Para peserta umumnya menanyakan kepada nara sumber, tentang upaya pemerintah dalam menangulangi hal tersebut. Karena penyebaran penyakit mematikan tersebut, penyebabnya berdasarkan hubungan seks yang tidak sehat serta akhirnya berbias pada manusia lain yang tidak berdosa.
Peserta juga menyarankan upaya penangulangan selain daripada memperbanyak sosialisasi tentang bahaya HIV AIDS, juga harus dilakukan upaya pendekatan keagamaan. Sehingga bahaya penyakit tersebut, dapat dicegah secara dini dengan peningkatan keimanan.
Wakil Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya menjelaskan pihaknya akan selalu proaktif dalam mencegah hal tersebut. Karena kehadiran pengidap penyakit tersebut sangat sulit terdektesi. Apalagi, penderita sendiri yang sudah positif menderita penyakit itu tidak tahu dirinya terkena serta tidak memeriksa dirinya ke dinas kesehatan.
Wakil Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya menjelaskan pihaknya akan selalu proaktif dalam mencegah hal tersebut. Karena kehadiran pengidap penyakit tersebut sangat sulit terdektesi. Apalagi, penderita sendiri yang sudah positif menderita penyakit itu tidak tahu dirinya terkena serta tidak memeriksa dirinya ke dinas kesehatan.
Sementara itu, Ketua MPU Lhokseumawe Tgk.Amirullah Usman menjelaskan timbulnya penyakit mematikan itu karena kesalahan manusia itu sendiri. Padahal Allah SWT, telah memperingatkan dalam Al Qur’an tentang bahaya tersebut.
“Kita juga telah mengusulkan agara ada Qanun tentang pananggulangan penyakit HIV AIDS,” ujarnya.
“Kita juga telah mengusulkan agara ada Qanun tentang pananggulangan penyakit HIV AIDS,” ujarnya.
Acara tersebut berlangsung selama dua jam dan iktu didukung oleh pemerintah Kota Lhokseumawe dan NGO Caritas Germain yang intens melakukan program penanggulangan HIV AIDS di Aceh paska Gempa Tsunami.|AT/RA/RD


0 komentar:
Posting Komentar