
Kisruh pilkada Aceh
belum berakhir, awalnya gara-gara DPRA atau Partai Aceh tidak setuju adanya
Jalur Independen di Aceh.
Laju independen di babat habis. Agar lebih kuat “Mak
Jomblang” menjembatani agar Partai Nasional mau ikut serta dalam kontek ide
DPRA dan Partai Aceh.
Maka rame-rame tidak
sepakat dengan Independen, dan melahir se-akan suasana tidak kondusif untuk di
gelar Pilkada sekarang, maka rame –rame melakukan kegiatan untuk meng-golkan
itu, sampai melobi ke Departemen Dalam Negeri.
Namun tidak ada juga
kejelasan dan memuaskan keinginan para pihak. Tapi yang terjadi adalah “ Awak
Kah Troh Dari Aceh Ka Panas Mandum, berhubung nyoe katroh buleun ramadhan,
Istirahat ile syedara beoh” namanya di sebung dengan Colling Down.
Sebelum Colling Down disana lahir kesepakatan
bahwa Raqan Pilkada kembali di godok DPRA. Colling Down habis, DPRA tetap
enggan membahas Raqan tersebut.
Sementara KIP,
berita 16 september 2011, akan terus melaksanakan tahapan pilkada, jikapun
Raqan tersebut tidak di bahas kembali DPRA hingga tanggal 19 September 2011.
Bila itu terjadi, KIP
mengacu pada Qanun nomor 7 Tahun 2006. Dan akan di akomodir jalur perseorangan.
Namun Adnan Beuransyah Ketua Komisi A DPRA yang berasal dari Partai Aceh ini,
mengancam bakal menggugat KIP karena telah melanggar peraturan yang berlaku
dalam menjalankan tahapan Pilkada.
Jadi, Sebenarnya
Menurut Anda Apa Solusi Terbaik? Begitulah kira-kira kita bertanya pada diri
sendiri membaca pemberitaan soal ini?
Berlarutnya konflik
pilkada diakui atau tidak telah menguras energy besar, dan membuat kebingungan
di antar masyarakat, belum lagi beberapa peristiwa hingga terjadinya korban.
Ada beberapa
tanggapan soal itu sebagaimana berkembang di masyarakat, yang pertama
Ketidaksetujuan Partai Aceh kepada Independen di mamfaatkan oleh Partai
Nasional untuk ikut nimbrung dengan kekuatan yang berimbang dengan Partai Aceh
yang memiliki 65 % Kursi di DPRA, sementara Parnas hanya punya wakil di DPRA
satu atau dua orang saja.
Kedua, Partai
Nasional juga mengambil keuntungan dari Sisi Audiens pemilih, dengan koalisi
ini pandangan masyarakat di basis GAM, telah terjadi kerja Saban, PA dan
Parnas.
Ketiga, Parnas punya
cukup waktu untuk meneropong kandidat yang mereka usung, tentunya Parnas tidak
akan pernah berharap, kita naik sebagai walak walak saja, sementara Partai Aceh
yang harus kita menangkan, tetapi sekarng yang terlihat Parnas Maju hanya untuk
menang. Bukan untuk memenangkan orang lain.
Ke Empat, Parnas
sudah bersiap-siap meninggalkan koalisinya dengan Partai Aceh dalam kontek
pemilihan Gubernur, karena sudah menemukan titik kordinat yang bagus, setelah
Partai Aceh memelopori “Tubruk” Proses pilkada.
Ke Lima, Dalam
berbagai kampanye Partai Aceh selalu memkampanyekan akan membereskan
Butir-Butir MoU, sementara Parnas duduk manis menikmatinya, sejauh saldo kepentingan
saya terus bertambah [Red Parnas]
Ke enam, Parnas akan
bermain di celah aman konflik perbedaan pandangan Antara Partai Aceh dengan
Calon Independen Irwandi Yusuf, begitu juga dengan anggota mereka di lapangan.
Jika mobil Partai Aceh dan Independen terjadi tubrukan, justru pihak yang di
untungkan adalah Parnas, karena jadi penonton yang berada jauh dari lokasi tabrakan“ dan Berceloteh sesama penonton,
biarlah mereka bertengkar” Kita santun-santun saja. Bersambung………….

0 komentar:
Posting Komentar