News Update :

“Partai Aceh Tubruk Gerobak Emas, Partai Nasional Yang Kumpulkan”

Sabtu, 17 September 2011


Kisruh pilkada Aceh belum berakhir, awalnya gara-gara DPRA atau Partai Aceh tidak setuju adanya Jalur Independen di Aceh.

Laju independen di babat habis. Agar lebih kuat “Mak Jomblang” menjembatani agar Partai Nasional mau ikut serta dalam kontek ide DPRA dan Partai Aceh.

Maka rame-rame tidak sepakat dengan Independen, dan melahir se-akan suasana tidak kondusif untuk di gelar Pilkada sekarang, maka rame –rame melakukan kegiatan untuk meng-golkan itu, sampai melobi ke Departemen Dalam Negeri.

Namun tidak ada juga kejelasan dan memuaskan keinginan para pihak. Tapi yang terjadi adalah “ Awak Kah Troh Dari Aceh Ka Panas Mandum, berhubung nyoe katroh buleun ramadhan, Istirahat ile syedara beoh” namanya di sebung dengan Colling Down.

Sebelum Colling Down disana lahir kesepakatan bahwa Raqan Pilkada kembali di godok DPRA. Colling Down habis, DPRA tetap enggan membahas Raqan tersebut.

Sementara KIP, berita 16 september 2011, akan terus melaksanakan tahapan pilkada, jikapun Raqan tersebut tidak di bahas kembali DPRA hingga tanggal 19 September 2011.

Bila itu terjadi, KIP mengacu pada Qanun nomor 7 Tahun 2006. Dan akan di akomodir jalur perseorangan. Namun Adnan Beuransyah Ketua Komisi A DPRA yang berasal dari Partai Aceh ini, mengancam bakal menggugat KIP karena telah melanggar peraturan yang berlaku dalam menjalankan tahapan Pilkada.

Jadi, Sebenarnya Menurut Anda Apa Solusi Terbaik? Begitulah kira-kira kita bertanya pada diri sendiri membaca pemberitaan soal ini?

Berlarutnya konflik pilkada diakui atau tidak telah menguras energy besar, dan membuat kebingungan di antar masyarakat, belum lagi beberapa peristiwa hingga terjadinya korban.

Ada beberapa tanggapan soal itu sebagaimana berkembang di masyarakat, yang pertama Ketidaksetujuan Partai Aceh kepada Independen di mamfaatkan oleh Partai Nasional untuk ikut nimbrung dengan kekuatan yang berimbang dengan Partai Aceh yang memiliki 65 % Kursi di DPRA, sementara Parnas hanya punya wakil di DPRA satu atau dua orang saja.

Kedua, Partai Nasional juga mengambil keuntungan dari Sisi Audiens pemilih, dengan koalisi ini pandangan masyarakat di basis GAM, telah terjadi kerja Saban, PA dan Parnas.

Ketiga, Parnas punya cukup waktu untuk meneropong kandidat yang mereka usung, tentunya Parnas tidak akan pernah berharap, kita naik sebagai walak walak saja, sementara Partai Aceh yang harus kita menangkan, tetapi sekarng yang terlihat Parnas Maju hanya untuk menang. Bukan untuk memenangkan orang lain.

Ke Empat, Parnas sudah bersiap-siap meninggalkan koalisinya dengan Partai Aceh dalam kontek pemilihan Gubernur, karena sudah menemukan titik kordinat yang bagus, setelah Partai Aceh memelopori “Tubruk” Proses pilkada.

Ke Lima, Dalam berbagai kampanye Partai Aceh selalu memkampanyekan akan membereskan Butir-Butir MoU, sementara Parnas duduk manis menikmatinya, sejauh saldo kepentingan saya terus bertambah [Red Parnas]

Ke enam, Parnas akan bermain di celah aman konflik perbedaan pandangan Antara Partai Aceh dengan Calon Independen Irwandi Yusuf, begitu juga dengan anggota mereka di lapangan. 

Jika mobil Partai Aceh dan Independen terjadi tubrukan, justru pihak yang di untungkan adalah Parnas, karena jadi penonton yang berada jauh dari lokasi tabrakan“ dan Berceloteh sesama penonton, biarlah mereka bertengkar” Kita santun-santun saja. Bersambung………….
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016