Allah sebagai rabb bermakna Tuhan yang Maha Mendidik. Hal ini bisa dilihat dari makna rabb, yang seakar kata dengan Tarbiyah, artinya pendidikan. Allah senantiasa mendidik makhluk-Nya, terutama manusia, agar memperoleh kesalamatan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Di antara cara Allah mendidik manusia adalah melalui ibadah-ibadah yang diperintahkan-Nya, seperti puasa di bulan Ramadhan. Ramadhan laksana madrasah ruhaniyah atau lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mewujudkan karater muttaqin.
Sebagai madrasah ruhaniyah, maka Ramadhan juga memiliki separangkat kurikulum yang harus dijalani oleh seorang shaim (orang yang berpuasa) sebagai upaya untuk mencapai tujuan di atas.
Pertama, melaksanakan ibadah puasa. Secara syariat, puasa itu menahan keinginan perut dari makan dan minum serta keinginan kemaluan dari berhubungan suami-istri, sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.
Namun puasa yang mampu mencapai karakter muttaqin bukan hanya dilakukan secara syariat. Tetapi puasa itu harus dilakukan secara hakikat.
Jika secara syariat perut menahan keinginannya untuk makan dan minum, meskipun yang halal, maka secara hakikat puasa melatih perut untuk mengendalikan diri dari makanan yang haram.
Sebab makanan yang haram akan merusak mental dan ruhaniyah manusia. Bisa saja fisiknya sehat dan kekar, tetapi hati dan pikirannya telah tertutup dari kebenaran, cenderung berpikir dan bertindak hal-hal yang diharamkan.
Puasa secara hakikat juga melatih keinginan perut dari keserakahan duniawi yang membuat seseorang gelap mata lalu menghalalkan segala cara. Korupsi, manipulasi, praktik riba, dan perilaku curang lainnya biasa terjadi atas dorongan/keinginan perut yang tidak terkendali. Puasa secara hakikat juga mengajarkan agar seorang shaim mampu menahan dirinya, seperti penglihatan, pendengaran, pikiran dan perasaannya, dari hal-hal yang diharamkan.
Kedua, mendirikan shalat berjamaah. Selain puasa, Ibadah khusus Ramadhan juga mendirikan shalat malam, yaitu tarawih. Ibadah ini dilakukan sesudah shalat Isya dan umumnya secara berjamaah.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa tidak setiap malam Rasulullah kali melakukan shalat tarawih secara berjamaah di masjid, dan pernah pula dilakukan di rumah. Berbeda halnya dengan shalat fardhu, Rasulullah tetap melaksanakannya secara berjamaah yang bertempat di masjid. Hal ini menunjukkan bahwa shalat fardhu berjamaah lebih diutamakan dari shalat tarawih berjamaah.
Namun generasi sahabat tetap mendirikan shalat tarawih secara berjamaah di masjid tanpa mengabaikan shalat fardhu berjamaah. Dengan begitu, substansi shalat berjamaah menunjukkan bahwa Ramadhan mendidik seorang shaim agar membentuk dan memperkuat jamaah melalui wadah masjid.
Sayang, masyarakat muslim dewasa ini kehilangan makna hakiki dari shalat berjamaah tersebut. Orang lebih banyak meramaikan masjid dengan shalat tarawih secara berjamaah, sementara shalat fardhu, selain Isya, masjid sepi dari jamaah. Akibatnya, begitu Ramadhan usai, tarawih pun berakhir dan masjid kian sunyi dan lengang.
Padahal, masjid adalah miniatur masyarakat muslim. Jika ingin melihat kekuatan dan persatuan suatu masyarakat (muslim), maka lihatlah masjidnya. Jika masjid itu ramai oleh jamaah, paling tidak pada shalat-shalat fardhu, menunjukkan masyarakat sekitar kuat dan bersatu padu. Sebaliknya ketika masjid sepi dari jamaah, maka masyarakat sekitar pun sesungguhnya rapuh dan mudah terpecah belah. Ironis memang.
Ketiga, peduli terhadap sesama. Kurikulum Ramadhan yang harus dilalui oleh seorang shaim adalah mengasah rasa peduli terhadap orang-orang sekitarnya, terutama orang yang miskin. Rasa lapar ketika puasa melatih seseorang untuk merasakan penderitaan si miskin yang selama ini mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Karena itu, Rasulullah SAW memotivasi orang yang berpuasa agar memberi makanan berbuka puasa kepada orang lain yang juga sedang berpuasa, terutama yang membutuhkan.Begitu pula menjelang Idul Fitri, diwajibkan setiap muslim mengeluarkan zakat fitrah. Lagi-lagi perintah ini mendidik untuk berempati kepada sesama yang hidup kekurangan.
Jadi Ramadhan tidak saja membimbing spiritualitas manusia agar dekat dengan Allah (aspek vertical), tetapi Ramadhan melatih dimensi emosional dan sosial seseorang (aspek horizontal) agar peduli terhadap sesamanya.
Keempat, membaca Alquran. Di antara keistimewaan Ramadhan adalah sebagai syahrul Quran karena ia diturunkan pada bulan tersebut. Karena itu, Ramadhan mendidik tiap shaimin agar mengisi waktu dengan membaca dan mempelajari kandungan Alquran. Majlis-majlis ilmu pun ramai digelar untuk memahami ayat demi ayat dari Alquran.
Mempelajari Alquran tidak sekedar membaca dan mendengarkan penjelasan para ulama. Tetapi dibutuhkan aksi nyata untuk mengamalkan ayat-ayat Alquran yang telah dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Mustahil seseorang akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan tanpa peduli terhadap Alquran.
Kelima, i’tikaf di masjid. Hakikat i’tikaf adalah merenungi diri agar mengenal diri dan tahu diri. Sebab siapa yang kenal dirinya maka ia akan kenal dengan Tuhannya. Orang yang lupa diri akan lupa Tuhannya, bahkan ia bisa mengaku tuhan, seperti yang dialami Firaun. I’tikaf juga mendidik seseorang agar menghentikan perbuatan dosa-dosa.
Seseorang yang beri’tikaf bukan berarti larut dalam kesendirian lalu meninggalkan dunia. Tetapi, i’tikaf justru mendidiknya agar tidak condong pada duniawi (hubbud dunya). Apalagi I’tikaf yang biasa dilakukan oleh Nabi SAW 10 hari atau sepertiga di akhir Ramadhan, bukan sepenuhnya.
Inilah bagian terpenting dalam kurikulum Ramadhan sebagai Madrasah Ruhaniyah. Jika dilakukan dengan sepenuh hati, didasari oleh keimanan dan keikhlasan, maka ampunan Allah akan dilimpahkan dan derajat taqwa pun akan diraih. Insya Allah. (*)
Di antara cara Allah mendidik manusia adalah melalui ibadah-ibadah yang diperintahkan-Nya, seperti puasa di bulan Ramadhan. Ramadhan laksana madrasah ruhaniyah atau lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mewujudkan karater muttaqin.
Sebagai madrasah ruhaniyah, maka Ramadhan juga memiliki separangkat kurikulum yang harus dijalani oleh seorang shaim (orang yang berpuasa) sebagai upaya untuk mencapai tujuan di atas.
Pertama, melaksanakan ibadah puasa. Secara syariat, puasa itu menahan keinginan perut dari makan dan minum serta keinginan kemaluan dari berhubungan suami-istri, sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.
Namun puasa yang mampu mencapai karakter muttaqin bukan hanya dilakukan secara syariat. Tetapi puasa itu harus dilakukan secara hakikat.
Jika secara syariat perut menahan keinginannya untuk makan dan minum, meskipun yang halal, maka secara hakikat puasa melatih perut untuk mengendalikan diri dari makanan yang haram.
Sebab makanan yang haram akan merusak mental dan ruhaniyah manusia. Bisa saja fisiknya sehat dan kekar, tetapi hati dan pikirannya telah tertutup dari kebenaran, cenderung berpikir dan bertindak hal-hal yang diharamkan.
Puasa secara hakikat juga melatih keinginan perut dari keserakahan duniawi yang membuat seseorang gelap mata lalu menghalalkan segala cara. Korupsi, manipulasi, praktik riba, dan perilaku curang lainnya biasa terjadi atas dorongan/keinginan perut yang tidak terkendali. Puasa secara hakikat juga mengajarkan agar seorang shaim mampu menahan dirinya, seperti penglihatan, pendengaran, pikiran dan perasaannya, dari hal-hal yang diharamkan.
Kedua, mendirikan shalat berjamaah. Selain puasa, Ibadah khusus Ramadhan juga mendirikan shalat malam, yaitu tarawih. Ibadah ini dilakukan sesudah shalat Isya dan umumnya secara berjamaah.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa tidak setiap malam Rasulullah kali melakukan shalat tarawih secara berjamaah di masjid, dan pernah pula dilakukan di rumah. Berbeda halnya dengan shalat fardhu, Rasulullah tetap melaksanakannya secara berjamaah yang bertempat di masjid. Hal ini menunjukkan bahwa shalat fardhu berjamaah lebih diutamakan dari shalat tarawih berjamaah.
Namun generasi sahabat tetap mendirikan shalat tarawih secara berjamaah di masjid tanpa mengabaikan shalat fardhu berjamaah. Dengan begitu, substansi shalat berjamaah menunjukkan bahwa Ramadhan mendidik seorang shaim agar membentuk dan memperkuat jamaah melalui wadah masjid.
Sayang, masyarakat muslim dewasa ini kehilangan makna hakiki dari shalat berjamaah tersebut. Orang lebih banyak meramaikan masjid dengan shalat tarawih secara berjamaah, sementara shalat fardhu, selain Isya, masjid sepi dari jamaah. Akibatnya, begitu Ramadhan usai, tarawih pun berakhir dan masjid kian sunyi dan lengang.
Padahal, masjid adalah miniatur masyarakat muslim. Jika ingin melihat kekuatan dan persatuan suatu masyarakat (muslim), maka lihatlah masjidnya. Jika masjid itu ramai oleh jamaah, paling tidak pada shalat-shalat fardhu, menunjukkan masyarakat sekitar kuat dan bersatu padu. Sebaliknya ketika masjid sepi dari jamaah, maka masyarakat sekitar pun sesungguhnya rapuh dan mudah terpecah belah. Ironis memang.
Ketiga, peduli terhadap sesama. Kurikulum Ramadhan yang harus dilalui oleh seorang shaim adalah mengasah rasa peduli terhadap orang-orang sekitarnya, terutama orang yang miskin. Rasa lapar ketika puasa melatih seseorang untuk merasakan penderitaan si miskin yang selama ini mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Karena itu, Rasulullah SAW memotivasi orang yang berpuasa agar memberi makanan berbuka puasa kepada orang lain yang juga sedang berpuasa, terutama yang membutuhkan.Begitu pula menjelang Idul Fitri, diwajibkan setiap muslim mengeluarkan zakat fitrah. Lagi-lagi perintah ini mendidik untuk berempati kepada sesama yang hidup kekurangan.
Jadi Ramadhan tidak saja membimbing spiritualitas manusia agar dekat dengan Allah (aspek vertical), tetapi Ramadhan melatih dimensi emosional dan sosial seseorang (aspek horizontal) agar peduli terhadap sesamanya.
Keempat, membaca Alquran. Di antara keistimewaan Ramadhan adalah sebagai syahrul Quran karena ia diturunkan pada bulan tersebut. Karena itu, Ramadhan mendidik tiap shaimin agar mengisi waktu dengan membaca dan mempelajari kandungan Alquran. Majlis-majlis ilmu pun ramai digelar untuk memahami ayat demi ayat dari Alquran.
Mempelajari Alquran tidak sekedar membaca dan mendengarkan penjelasan para ulama. Tetapi dibutuhkan aksi nyata untuk mengamalkan ayat-ayat Alquran yang telah dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Mustahil seseorang akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan tanpa peduli terhadap Alquran.
Kelima, i’tikaf di masjid. Hakikat i’tikaf adalah merenungi diri agar mengenal diri dan tahu diri. Sebab siapa yang kenal dirinya maka ia akan kenal dengan Tuhannya. Orang yang lupa diri akan lupa Tuhannya, bahkan ia bisa mengaku tuhan, seperti yang dialami Firaun. I’tikaf juga mendidik seseorang agar menghentikan perbuatan dosa-dosa.
Seseorang yang beri’tikaf bukan berarti larut dalam kesendirian lalu meninggalkan dunia. Tetapi, i’tikaf justru mendidiknya agar tidak condong pada duniawi (hubbud dunya). Apalagi I’tikaf yang biasa dilakukan oleh Nabi SAW 10 hari atau sepertiga di akhir Ramadhan, bukan sepenuhnya.
Inilah bagian terpenting dalam kurikulum Ramadhan sebagai Madrasah Ruhaniyah. Jika dilakukan dengan sepenuh hati, didasari oleh keimanan dan keikhlasan, maka ampunan Allah akan dilimpahkan dan derajat taqwa pun akan diraih. Insya Allah. (*)


0 komentar:
Posting Komentar