The Aceh Traffic Media |
- »

Berpuasa 19 Jam Di Helsinki Finlandia

Saturday, August 20, 2011

Share berita ini :


Helsinki merupakan tempat perundingan RI dan GAM pada tahun 2005 lalu. di Negara ini ummat Islam   menjalani Ibadah puasa selama 19 jam.

Tahun ini merupakan tahun ketiga saya menjalani ibadah puasa di Finlandia. Datang dari negara dimana durasi lama puasa cukup konstan dari tahun ke tahun, sudah tentu muncul sedikit rasa ragu terhadap kemampuan diri untuk kali pertama menghadapi puasa yang cukup lama di Helsinki, ibukota negara kedua paling utara di dunia setelah Rijkjavik, Islandia. Padahal kala itu di September 2009, durasi puasa di Helsinki masih sekitar 16 jam. 

Mengingat kalender Hijriah lebih maju sekitar 11 hari dari kalender masehi, maka bulan puasa pun terus maju 11 hari, dan pada tahun 2011 ini, awal puasa ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agustus 2011. Dengan demikian, sudah barang tentu, durasi puasa pun semakin lama. Awal puasa tahun ini berdurasi selama 18 jam 50 menit (subuh pukul 3:05 dan mahrib pukul 21:55). Hampir 19 jam.

Namun demikian, berpuasa di Helsinki cukup unik, karena, setiap hari, durasi berpuasa berkurang sebesar 6 menit. Pada 15 Agustus 2011, misalnya, subuh jatuh pada pukul 3:44 dan maghrib tiba pada pukul 21:18 (durasi sekitar 17 jam 30 menit). Dan di akhir ramadhan (diperkirakan pada tanggal 29 Agustus 2011), lama berpuasa hanya 16 jam (subuh pukul 4:22 dan maghrib pukul 20:37).

Tuhan memang maha adil. Meskipun di sini durasi berpuasa cukup menantang, namun suhu dan cuaca selama menjalankan puasa di Helsinki cukup bersahabat. Suhu berada di kisaran 16-23’Celcius. Terik matahari tidak terasa, bahkan cenderung malu untuk menampakkan dirinya secara penuh dengan berlindung sedikit di balik awan. Barang tentu, hal tersebut membantu mengurangi rasa haus dan lapar bagi mereka yang menjalani ibadah puasa.

Tahun ini saya rasa ada sedikit keanehan. Tepat sehari sebelum hari pertama puasa, suhu berada pada kisaran 23-29’C. Entah mengapa ketika hari pertama berpuasa langsung drop, dan cukup konstan hingga saat ini pada kisaran 16-23’C. Percaya tidak percaya!

Sebetulnya berpuasa di Helsinki cukup nyaman. Di sini tidak ada kemacetan lalu lintas, hal mana di Jakarta kerap kali menguras emosi warganya. Kehidupan pun damai dan datar di Helsinki, terbebas dari bising, hiruk pikuk dan penatnya kehidupan di Jakarta. Ketenangan hati ketika berpuasa pun mudah untuk dijaga di sini.

Namun demikian, tidak bisa diingkari, ”nuansa” ramadhan itu yang kurang dirasakan di sini. Sulit juga bagi saya untuk mendeskripsikan arti ”nuansa” tersebut, mungkin sama bila dipadankan dengan kata ”ambiance” dalam bahasa Inggris. Tidak ditemukan kaki lima yang menjajakan hidangan khas berbuka puasa, seperti cendol, dan tidak terdengar suara adzan (hanya melalui Mivo TV, kami di Helsinki dapat mengikuti siaran televisi Indonesia). Kehidupan hanya berjalan dengan normal, tidak ubahnya dengan hari biasa, seakan tidak ada satu orang penduduk setempat pun yang mengetahui kalau hari-hari ini adalah hari puasa.

Islam Berkembang

Mayoritas penduduk Finlandia beragama Evangelical-Lutheran Church of Finland, yang dipeluk oleh sekitar 4,2 juta penduduk dari 5,4 juta penduduk Finlandia. Agama terbesar kedua di Finlandia adalah Orthodox Christian Church, yang dipeluk oleh 58.000 penduduk Finlandia, atau sebesar 1.1% dari total populasi Finlandia (biasanya dianut oleh mereka yang hidup di kawasan timur, berbatasan dengan Russia). Dengan demikian sudah tentu, nuansa “natal” lebih terasa ketika mendekati 25 Desember, dari pada nuansa menjelang “lebaran” saat ini.

Toleransi kehidupan beragama di Finlandia cukup baik, bahkan terkesan bahwa beragama itu urusan pribadi masing-masing. Jadi tidak perlu khawatir untuk menjalankan ibadah keagamaan di Finlandia.

Rakyat Finlandia memiliki karakter yang unik. Mood-nya disesuaikan dengan musim. Ketika masuk musim semi, percayalah, hampir seluruh penduduk Finlandia wajahnya berseri-seri. Mulai dari orang yang kita temui di jalan, di pertokoan, dan bahkan dengan mitra, sahabat, dan counterpart. Namun keceriaan tersebut kian pupus ketika memasuki akhir musim gugur. Wajah penduduk Finlandia kian dingin dan ketat, sedingin dan mencekamnya suhu udara di Helsinki yang bisa mencapai minus 30 derajad celcius.

Meskipun mayoritas penduduk Finlandia bukan seorang muslim, namun, sikap dan tindak tanduk kehidupan sosialnya, boleh dikata, lebih ”Islami” dari seorang muslim. Kejujuran adalah pondasi interaksi sosial di Finlandia. Semua dimulai dari rasa percaya. Itu mengapa tidak seluruh toko di Finlandia di pasang alarm, dan nyaris tidak ada satu rumah, apartemen, maupun toko di Finlandia yang jendelanya dipasang teralis besi maupun baja ringan. Kalau kita tertinggal dompet di sebuah taman, dan baru teringat tiga hari kemudian, pasti dompet tersebut masih berada di tempat ia terjatuh, dan isinya masih utuh.

Namun demikian, untuk memperoleh kepercayaan seorang Finlandia, bukanlah perkara yang mudah. Penduduk Finlandia bukan tipikal risk taker dalam berbisnis, dan hampir dipastikan akan gone into details terhadap seluruh hal yang akan ia geluti hingga ia merasa teryakini bahwa apa yang dilakukan feasible dan beneficial. Tapi, ketika kita sudah memperoleh kepercayaan mereka, maka kita akan diperlakukan seperti saudara. Apa tandanya? Mudah! Kalau kita sudah pernah diajak sauna bersama seorang Finlandia, maka kita pasti sudah dianggapnya sebagai seorang saudara.

Secara statistik, meskipun tidak sebesar angka imigrasi di negara Eropa barat lainnya, Finlandia kian menjadi negara tujuan kaum imigran. Data yang diperoleh dari Badan Statistik Finlandia menyatakan bahwa setidaknya terdapat 155.705 imigran internasional yang tinggal menetap di Finlandia, atau setara dengan 2,85 persen dari total penduduk Finlandia yang berjumlah 5,4 juta orang.
Dua puluh persen diantara total jumlah imigran tersebut adalah kaum pengungsi (refugees) atau para pencari suaka (assylum seekers) yang sebagian besar berasal dari Somalia dan suku Kurdi (baik dari Iran dan Iraq), yang mana merupakan pemeluk agama islam.

Islam kian berkembang di Finlandia. Dapat dikatakan ada sekitar 8 masjid di Helsinki. Namun bukan berupa bangunan masjid yang berdiri sendiri. Seluruh bangunan masjid itu berupa ruangan-ruangan yang menjadi bagian sebuah apartemen. Hanya ada 1 masjid yang berupa bangunan tersendiri di Finlandia, yakni di kota Järvenpää.

Ketika di Eropa ramai terhadap diskusi minaret-ban di Swiss, Pemerintah Kota Helsinki dan kalangan Lutheran Church, bahkan kalangan hard-boiled residence pun menyatakan bahwa umat muslim dapat membangun masjid berminaret. Ini menunjukkan bahwa penduduk Finlandia menjunjung tinggi semangat toleransi keagamaan.

Rasa Rindu

Ramadhan tentu tidak lengkap tanpa menu buka puasa, tarawih, dan kultum ramadhan. Umat muslim Indonesia di Finlandia pun melakukan hal yang sama. Kegiatan buka puasa bersama dilakukan di gedung KBRI Helsinki. Makanan menu berbuka pun disediakan secara sukarela oleh kaum muslim (pot-luck).

Sholat tarawih dan kultum ramadhan dilakukan secara bergilir di kalangan mereka yang dipandang memiliki pengetahuan tentang agama yang cukup luas. Jumlah kaum muslim Indonesia di Finlandia sekitar 170 orang dari total 300 orang WNI yang hidup menetap di Finlandia.

Namun mengingat waktu berbuka puasa cukup larut malam, maka kegiatan buka puasa bersama dan tarawih yang biasanya dilakukan, untuk tahun ini diganti dengan kultum ramadhan yang akan dilakukan pada dua sabtu terakhir sebelum lebaran. Termasuk malam takbiran!

Demikian pun dengan lebaran. Umat muslim Indonesia di Helsinki pun turut menyelenggarakan sholat Ied bersama yang kemudian dilanjutkan dengan halal bi halal di Wisma Duta RI. Namun mengingat saat ini Wisma Duta RI tengah dalam proses renovasi, rencananya acara halal bi halal akan diselenggarakan di gedung KBRI Helsinki.


Beraneka ragam makanan khas lebaran akan disajikan saat halal bi halal tersebut. Dari menu wajib lebaran, seperti ketupat sayur, rendang, ongseng kentang dan kerupuk, hingga makanan khas nusantara lainnya, seperti Mie Bakso, Siomay, Pempek Palembang, Es Teler, hingga Sosis Solo, Martabak Telor, dan aneka kue kering seperti nastar, kastengel, dan kacang bawang.

Sungguh, menu hidangan lebaran dan suasana kebersamaan saat lebaran tersebut mampu mengobati rasa rindu akan tanah air.


Penulis adalah diplomat Kedutaan Besar Republik Indonesia di Helsinki, Finlandia. Tulisan ini adalah opini pribadi. Tulisan ini telah di lansir Vivanews.


Redaksi menerima sumbangan tulisan dalam bentuk opini, artikel atau pengalaman pribadi. Setiap tulisan dapat dikirim ke email redaksiaceh.traffic@gmail.com dan disertai identitas dengan mencantumkan nomor telepon/email.