
BANDA ACEH - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Aceh Besar semakin parah akibat penambangan pasir dan kerikil liar.
“Tim Walhi Aceh yang turun ke lapangan menemukan kondisi DAS mengenaskan. DAS sejumlah sungai di Aceh Besar amblas akibat pengerukan,” kata Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh Muhammad Nizar Abdurrani di Banda Aceh, Jumat 19 Agustus 2011.
Menurut dia, hasil penelusuran tim tersebut terlihat DAS sejumlah sungai tersebut telah menggerus lahan pertanian milik masyarakat. Hal ini terjadi akibat perubahan alur karena maraknya penambangan pasir dan kerikil.
Selain itu, sungai semakin dangkal, air sungai yang dulunya jernih kini menjadi keruh. Debu akibat penambangan pasir dan kerikil kian dirasakan, katanya.
“Parahnya kerusakan DAS tersebut bakal melahirkan bencana ekologis. Karena itu, praktik penambangan pasir dan kerikil atau galian C ini harus segera dihentikan,” tegas Muhammad Nizar.
Ia mengatakan, tim Walhi Aceh yang ikut bersama Tim Penertiban Terpadu Pemerintah Kabupaten Aceh Besar di DAS Krueng Keumireu, Kamis (18/8), menemukan sejumlah alat berat yang digunakan menambang pasir dan kerikil.
“Yang paling mengejutkan ternyata alat berat tersebut milik pemerintah. Hal ini jelas terlihat dari tulisan Departemen Pekerjaan Umum pada dindingnya,” tandasnya.
Kemudian, kata dia, penelusuran di Krueng (sungai) Aceh di Gampong Limo Lam Leuwueng, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, tidak ditemukan peralatan berat.
Namun, tim menemukan satu unit mesin penghisap pasir dan satu unit ayakan pasir besar. Lalu, tim mengamankan mesin pengisap dan merobohkan ayakan tersebut.
Lokasi berikutnya, kata dia, di Krueng Jreu. Di tempat ini ditemukan alat berat milik TNI untuk usaha galian C. Lokasinya sekitar 500 meter dari Markas Komando Batalion Zeni Tempur Dhika Anoraga.
Kemudian, sebut dia, lokasi lain yang ditelusuri adalah sub-DAS Krueng Aceh di Gampong Sihom, Aceh Besar. Di tempat itu ada enam alat berat dan puluhan truk hilir mudik membawa material.
“Kerusakan DAS terjadi di semua lokasi yang ditelusuri tersebut. Dinding sungai amblas, sehingga menggerus lahan pertanian masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan hasil tinjauan lapangan tersebut, kata dia, Walhi Aceh memperkirakan bencana ekologi di Kabupaten Aceh Besar hanya tinggal menunggu waktu saja.
“Perlu sikap tegas dari Pemerintah Kabupaten Aceh Besar segera menertibkan semua kegiatan galian C tersebut. Jangan sampai sudah terjadi bencana baru semua saling mencari kambing hitam,” ujar Muhammad Nizar Abdurrani. (ant) | Bisnis

0 komentar:
Posting Komentar