News Update :

Sibak Rukok Treuk Keu Nanggroe Otoriter

Rabu, 06 Juli 2011



Setelah mendengar dan membaca  pernyataan Ketua fraksi Partai Aceh di DPRA Ramli Sulaiman mengusulkan legislatif segera membuat qanun untuk mengontrol  pekerja media, mungkin ada menariknya juga kita membaca tulisan dibawah ini:

Ketika partai berkuasa dinilai tak demokratis berkeputusan, para mantan kombatan di daerah dan masyarakat penyumbang manok keumarom saat konflik Aceh pun meradang.

BAK bola api liar yang menggelinding, keputusan Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh resmi mengusung Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf sebagai calon gubernur dan wakil gubernur masa jabat 2012-20017 ternyata mulai menggilas tokoh sentral Partai itu.

Salah satu korban yang sudah nyata, Linggadinsyah tak lain adalah juru bicara PA sendiri. Menurut Saiful alias Cage, Lingga korban pertama pascapendeklarasian calon petarung yang siap tempur pada pemilukada 2011 dari partai berkuasa di Aceh itu.

“Tgk Lingga adalah korban kesewenang-wenangan pimpinan politik GAM maupun elit KPA,” Ujar Cage seperti dilansir salah satu media lokal di Aceh.

Sebagai orang perpengaruh dikalangan GAM, Cage mengaku sulit menerima sikap pimpinan politik GAM yang datang dari luar negeri dan seenaknya main pecat saja pihak yang berseberangan dengannya.

Ia juga menyesalkan keputusan pimpinan KPA/PA yang dinilai mmencederai nilai-nilai demokratis di tubuh internal partai itu. Keputusan yang diambil secara otoriter, persis cara militer. Padahal seperti diketahui, pasca-MoU Helsinki diteken,  organisasi Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) sudah menjelma mendaji kekuatan politik yang tentu saja harus mengedepan demokrasi yang mendaji landasan politik di negari yang kian phak luyak ini.

Pasca reformasi 1998 bergulir, era otoriter kek to (Soeharto) yang notabenenya haram bagi orang-orang yang berseberangan dengannya itu lenyap dilumat demontran saat itu. Babak reformasi dan kebebasan berpolitik di segenap lapisan masyarakat pun mulai mewarnai kehidupan warga negara ini. Kran demokrasi kian terbuka lebar, siapa pun asal punya kartu tanda penduduk bebas bersuara sesui kapasitas dan statifikasi sosial masing-masing, termasuk di Aceh.

Di Aceh sendiri suasana demokrasi masih seumur jagung, bahkan baru sekedar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2006 saja yang demokratis. Sementara dalam menjalankan roda pemerintahan, para pemimpin Aceh belum mampu menunjukkan sikap menerima pendapat (antikritik) kalanagan luar kekuasaan bahkan sesama pengauasa sendiri kerap bergesekan.

Sebagai contoh, sebut saja bagaimana pergesekan antara gubernur dan wagub dalam memerintah Aceh selama ini menghiasi headline Koran lokal dan nasional. Sebagai bangsa yang sudah sepakat menjujung tinggi demokrasi, sudah barang tentu itu sebuah tamparan pedih.

Ironi antikritik belum berhenti pada tatatan itu saja, bahkan pernah orang nomor wahid di Aceh (gubernur sekarang) itu menyebut wartawan yang notabenenya patnernya sebagai babi sambil menggebrak meja.

Ternyata sisa ororiter ala Soeharto belum terkikis habis di negeri ini. Para pemangku kepentingan yang mendapat sertifikat P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan dididik sesuai tujuan pendidikan nasional menciptakan manusia Indonesia seutuhnya hari ini belum bisa menanggalkan sikap arogansi yang seolah mendarah daging itu.

Inkonsistsi Demokrasi

Satu lagi sikap inkonsistenan terhadap demokrasi, terutama di Aceh kembali ditunjukkan oleh partai berkuasa PA yang dinilai mengambil keputusan tidak sesuai dengan semangat demokrasi yang mulai dirasakan warga negeri.

Jadi sangatlah wajar ketika keputusan itu menjadi momok baru bagi pertumbuhan nilai-nilai demokratis yang belum sepenuhnya berjalan di Aceh. Dengan begitu, perpecahan suara akibat perseteruan di tubuh PA bakal mem-blok-blokkan masyarakat di grassroot alias masyarakat arus bawah karena bakal banyak komando yang harus diikuti mereka.

Para mantan kombatan di daerah dan masyarakat penyumbang manok keumarom saat 30 tahun konflik GAM-RI berkecamuk di Aceh yang tidak puas dengan kandididat cetusan PA Pusat tentu akan beralih ke calon yang mereka anggap lebih kapabel memimpin Aceh ke depan. Bahkan bukan tidak mungkin, basis massa ril PA yang yang tidak mau terlibat dalam perseteruan internal bakal beralih ke kandidat dari partai nasional atau independen. Atau yang tidak mau ambil pusing memilih jadi golongan putih alias golput.

Bila ditinjau dari sistem demokrasi yang dianut di Indonesia termasuk Aceh, tak salah bila disebut berkibat ke united states of America (USA) atau Amerika serikat. Sementara di Amerika sendiri, untuk menentukan calon presiden atau gubernur negara bagian, partai politik terlebih dahulu menjaringnya melalui mekanisme konvensi internal. Setelah calon terpilih lahir dari konvensi internal, baru kandidat itu di lepas ke arena adu urat syaraf untuk meseunoh (berebut) kursi gubernur atau presiden.

Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) di Aceh yang notabanenya terbesar di Indonesia tahun ini sudah selayaknya mempraktekkan cara-cara berdemokrasi yang sebenarnya seperti yang dijalankan di negara runutan demokrasi negeri ini. Sudah saatnya kita meninggalkan politik pembodohan dan penggiringan rakyat untuk kepentingan kekuasaan.

Meski belum ada pemimpin di bumo tuhan ini yang dipilih secara demokrasi sempurna adanya, namun sedidaknya rakyat negeri bangga dan puas dengan proses pemilihan petingginya dan bersedia mengawal dan mendukung sepenuhnya progam gubernur terpilih nantinya.

Sebagai bukti, tidak sedikit presiden Amerika yang ditembak petrus alias penembak misterius. Tentu saja itu jangan sampai terjadi di Aceh. Setiap bentuk pemilihan, baik itu parlemen, perwakilan atau sistem dewan syura semuanya sah-sah saja. Namun, kita tetap sudah sepakat dengan sistem yang berjalan sekarang.

Jadi setidaknya elit politik di Aceh selayaknya menunjukkan cara berdemokrasi yang benar kepada rakyat agar tak tercoreng di mata internasional. Seperti diketahui, pascatsunami Aceh termasuk salah satu sudut bumi yang paling dipantau internasional setelah timur tengah.

Rakyat jadi korban

Ibarat pertarungan dua ekor gajah, sudah barang pasti rumput sekitar tempat kejadian perkara (TKP) bakal jadi korban injakan kaki-kaki besar. Begitu juga pertarungan politik antar elit, jika mereka menghalalkan segala cara untuk menang seperti gajah tadi yang tak berakal, apalagi moral, paktis rakyat bakalan jadi sasaran empuk perebutan kekuasaan itu.

Berdasarkan data yang dirilis conflictanddevelopment.org, per (11 November-5 Desember 2006), di minggu pertama bulan November saja, setidaknya 27 insiden kekerasan terkait pilkada terjadi secara beruntun. Lalu berlanjut lagi 19 dan 22 November dan seterusnya.

Aktor-aktor yang terlibat dalam insiden konflik bergeser ketika calon diumumkan pada tanggal 6 November dan kampanye boleh dilaksanakan. Insiden internal pemerintahan dan antara partai tetap, sekaligus jumlah insiden antara partai/orang dan negara, dan insiden antara kelompok/perorangan meningkat.

Sebenarnya insiden antara kelompok/orang melonjak dari 6 menjadi 17 insiden dalam waktu singkat (lihat Figur2). Insiden internal partai berada pada kasus konflik mengenai sengketa di dalam tim sukses atau antara anggota kampanye dengan calonnya.

Penelitian lapangan UNDP/Bank Dunia di delapan kabupaten menemukan beberapa dinamika lokal yang telah menyebabkan ketegangan seiring dengan semakin dekatnya hari pencoblosan saat itu.
Sebagai contoh, di Pidie kompetisi antar dua calon utama memobilasi pendukung tingkat tinggi melalui berbagai jaringan politis dan sosial.

Sedangkan di Nagan Raya beberapa calon dianggap mewakili aliran agama Islam tertentu atau kerajaan lama. Di Aceh Utara, ulama terpecah dalam mendukung dua pasang calon, mengakibatkan seorang ulama mengirimkan selebaran berisi dukungan kepada satu calon.

Di Bener Meriah, dua pemimpin anti-GAM memperebutkan suara, pemimpin tersebut mulai berlawanan; identitas sebagai putra daerah atau identitas politik lokal menjadi isu yang lebih potensial dibanding identitas terkait konflik. Di banyak kabupaten, mantan bupati dan pejabat pemerintah yang mencalonkan diri ke pemilihan dituduh telah mengatur birokrasi lokal supaya penuh dengan pendukung mereka.

Di Aceh Utara, permusuhan antar polisi dan GAM di tingkat kecamatan telah mempengaruhi proses pemilihan. Ada kejadian di mana beberapa anggota polisi lokal bersifat kasar dan menggangu pada saat KPA/GAM hendak bertemu dengan warga desa untuk berkampanye.

Hampir tak ada para elit yang menjadi korban bentrokan yang terjadi di arus bawah saat kampanye berlangsung. Seperti biasa, masyarakat simpatisan lah yang kerap berdarah-darah dan saling adu fisik di arena pertarungan politik, kecuali calon Gubenur Humam Hamid pada perhelatan pilkada 2006.

Seperti diberitakan media massa saat itu, Humam Hamid yang tergabung dalam paket H2O (Humam-Hasbi Oke) ditinju salah seorang yang diduga simpatisan Irwandi-Nazar (IRNA). Lebih dari itu, hingga tahapan pilkada 2006 usai, tak ada lagi elit yang jadi korban. Mungkin itu salah satu pelajaran berharga dalam pelaksanaan Pemilukada 2011.

Semoga era otoriter ala Soeharto yang notabenenya haram bagi orang-orang yang berseberangan dengannya tidak lagi berlaku di Aceh. Masih banyak waktu yang tersedia bagi Partai Aceh sendiri untuk introspeksi diri menuju partai yang demokratis jikalau tak ingin ditinggalkan rakyat.*

Insiden kekerasan Pilkada 2006

Dari sembilan sengketa yang diberitakan di dua minggu terakhir bulan Nopember, delapan melibatkan aktor antara kelompok/orang dan satu melibatkan aktor partai/orang dan negara. Pada sebagian besar kasus, yang bertanggung terhadap kejadian itu adakah “orang tak dikenal” (OTK). Di bawah ini kami menjelaskan sembilan kasus itu ditambah dengan beberapa kasus lain ditemukan dalam penelitian di lapangan.

19 Nopember, Banda Aceh
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) menyelenggarakan debat terbuka atar calon gubernur di Swiss-Belhotel di Banda Aceh yang disiarkan secara langsung di televisi nasional. Acara itu berubah menjadi kekerasan ketika panitia KIP datang dan menghentikan acara karena masa kampanye belum dimulai.

22 Nopember, Bireuen
Beberapa hari kemudian sebuah insiden serius terjadi ketika Calon H2O dan bis yang dikendarai diserang. Laporan yang belum dikonfirmasi menyebutkan bahwa pendukung Irwandi-Nazar yang bertanggung jawab terhadap kejadian itu dan bahwa hal ini terjadi terkait dengan kunjungan Malik Mahmud ke Aceh dan dukungannya terhadap H2O. Memang di sebagian besar kabupaten Aceh, kecuali Pidie, ada banyak penolakan terhadap Hasbi.

Penolakan juga terjadi pada keputusan pemimpin GAM yang terpusat di Swedia yang memasukkan calon yang berafiliasi dengan GAM di bawah sebuah partai nasional dan sebagai deputi gubernur.

24 November, Pidie
Seorang laki-laki diserang secara brutal dalam sebuah insiden terkait pilkada.

28 November, Pidie
Seorang anggota tim sukses Golkar diculik pada tanggal 28 Nopember namun kemudian dibebaskan keesokan harinya. Korban adalah anggota DPRD dan kepala Forkab, organisasi yang dikenal terdiri dari mereka yang dulunya pernah aktif dalam gerakan anti separatis. Laporan yang belum dikonformasi mengatakan bahwa permasalahannya bukan mengenai sengketa terkait pilkada tapi lebih kepada permasalahan hutang pribadi.

25 November, Banda Aceh
Surat kabar terbitan lokal Aceh memberitakan perusakan terhadap materi kampanye seorang calon bupati. Masalah ini tidak dilaporkan ke Panwas.

26 November, Bener Meriah
Poster kampanye milik seorang calon, Fauzan Azima, menurut saksi mata telah dirusak oleh Batalyon 114 TNI. Fauzan Azima adalah calon yang berafiliasi dengan GAM. Insiden ini dilaporkan kepada Panwas Bener Meriah.

25, 26 dan 29 November, Lhokseumawe
Surat kabar memberitakan terdapat tiga insiden terpisah yang menyangkut pembakaran baliho calon gubernur di Lhoksumawe. Sebagian besar baliho yang dirusakkan adalah milik calon gubernur dari partai Golkar, yaitu Malik Raden.

November dan 1 Desember, Aceh Tengah
Beberapa insiden yang menyangkut pesaing utama pemilihan bupati, yaitu Mahreje dari Golkar bersama tim suksesnya. Pada tanggal 29 Nopember, anggota tim kampanye Mahreje bersiteru dengan tim sukses calon lawan untuk menentukan siapa yang berhak untuk menempel stiker kandidiat di Kecamatan Lut Tawar.

Di insiden terpisah, pada 1 Desember Mahreje memukul salah satu anggota tim kampanyenya karena tidak berhasil mengumpulkan cukup banyak pendukung ketika dia sedang berkampanye di Kecamatan Jagung.

Ketegangan antara Mehreje dan tim suksesnya meningkat lagi ketika dia menemukan pada tanggal 3 Desember bahwa seorang koordinator juga bekerja untuk pasangan H2O; ini berakhir pada pemukulan dan pemecatan terhadap koordinator yang bersangkutan.

30 November, Bireuen
Pendukung calon gubernur dari partai PAN-PKS dihadang dan dicegah mengikuti reli kampanye. Ketua tim suksesnya dilaporkan sudah memaafkan penyerangnya.

1 Desember, Aceh Selatan
Bupati melaporkan bahwa kepala desa di tiga kecamatan dan satu camat diancam dan diminta memastikan keberhasilan salah satu calon gubernur. Akibatnya, satu kepala desa sudah menyerahkan surat pengunduran diri sedang yang lain tidak masuk kerja atau meninggalkan desa untuk sementara waktu.

3 Desember, Aceh Utara and Pidie
Anggota tim sukses Azwar Abubakar-Nasir Jamil (PAN-PKS) dipukuli di Aceh Utara dan 30 kilo stiker kampanye dicuri. Serupa dengan itu, di Pidie sebuah kelompok menghentikan seorang perempuan yang sedang membagikan materi kampanye Azwar-Nasir, mengancamnya dan kemudian menghancurkan materi kampanye yang dia bawa.

Penulis adalah Rahmad RA, Wartawan Harian Aceh, dan sudah dimuat pada tanggal 10 February 2011

Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016