Lhokseumawe – Sejarah
adalah sebuah cermin, maka kita sebagai orang Aceh saat ini harus berdiri di
depan cermin untuk melihat dimana persoalan Aceh yang belum selesai disaat ini.
Kita jangan hanya duduk diwarung kopi kemudian membangga-banggakan sejarah Aceh
dimasa lalu dan kita jangan terjebak dengan romantisme sejarah. Selasa [12/7]
Hal tersebut
disampaikan oleh Wakil Gubernur [Wagup] Aceh, Muhammad Nazar, S.ag, ketika
memberikan materi pada Konfrensi dan Seminar Internasional Malikussaleh: past,
present, and future. Konfrensi tersebut dilaksanakan di gedung ACC Universitas
Malikussaleh. Wagub juga
mengingatkan, semakin jauh kita memahami sejarah secara benar maka kita akan
memiliki visi yang jauh dalam kehidupan.
Disisi lain beliau juga
membicarakan mengenai nasionalisme bangsa Indonesia saat ini, menurut wagub di
Indoenesia dalam membentuk nasionalisme tidak berjalan dengan baik, hanya
upacara pada hari senin saja yang diperlihatkan. Berbeda dengan bangsa lain
yang mentransformasikan nasionalisme kedalam semua hal.
“Dulu nilai pancasila
saya 10, jadi kenapa saya bisa bertentangan dengan pancasila karena ada banyak
hal dilapangan yang bertentanggan dengan pancasila makanya saya juga menentang”
Ujar Muhammad Nazar, S.Ag
Sebelum menutupi
materinya, Wagub mengatakan sebenarnya professor yang ada di Aceh sama
kualitasnya dengan Profesor yang berada di daerah lainnya, namun setelah
selesai kuliah dan pulang ke Aceh kondisinya sudah berbeda.
Dan Wagub juga mengajak
agar kita menghargai sejarah karena situs sejarah Aceh ada di hampir seluruh
pelosok, seperti di Johor, Kepulauan Riau, Kedah, Pahang, di Sultan Deli.|AT/Ag/Rd

0 komentar:
Posting Komentar