News Update :

Hambatan Utama Bagi Kemerdekaan Palestina

Kamis, 21 Juli 2011


Oleh: M Zuhair

Jakarta - Kemerdekaan Palestina telah lama diperjuangkan, namun selalu berhadapan dengan penggagalan oleh mitra utama lawan Palestina, Israel, yakni Amerika Serikat (AS).

Bahkan, menurut para pengamat, negeri adidaya tersebut kini masih mengendalikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dalam Wikipedia disebutkan, perseteruan abadi antara Palestina dan Israel merupakan bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas, dan ini merupakan konflik yang diprediksi akan terus berlanjut entah hingga kapan.

Konflik ini bukan konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. 

Menurut Wikipedia, di kedua komunitas itu terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lainnya menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.

Mengait dengan konflik Israel-Palestina yang belum terselesaikan hingga kini, dalam perkembangan terbaru, belum lama ini, AS --- yang menurut para pengamat dikendalikan oleh minoritas Yahudi --- menolak keputusan Liga Arab untuk meminta PBB mengakui negara Palestina. 

Cara itu dinilai oleh AS tidak akan membawa penyelesaian yang komprehensif. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Mark Toner mengatakan, "Hal itu hanya bisa diperoleh dengan negosiasi dan kesepakatan bersama, dan kami berniat bekerja dengan semua pihak untuk melanjutkan upaya ini".

Menurut Toner, masih ada peluang bagi Israel dan Palestina untuk kembali ke meja perundingan. Empat pihak yang terlibat dalam perundingan ini, yakni Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, dan PBB, mendukung untuk melanjutkan perundingan. 

Dalam kaitan dengan masalah kemerdekaan Palestina, Presiden AS, Barack Hussein Obama mendukung solusi dua negara, yakni Palestina dan Israel. Ia bahkan meminta Israel kembali ke kesepakatan sebelum tahun 1967, yang menyerahkan kembali wilayah Palestina yang saat ini dikuasai oleh Israel.

Di pihak lain, belum lama ini, Liga Arab dalam keputusannya meminta PBB mengakui negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, dengan batas wilayah seperti sebelum tahun 1967 dan segera menaikkan status Palestina sebagai anggota penuh PBB, yang kini beranggota 193 negara.

Tanpa terpengaruh oleh sikap Amerika Serikat, Liga Arab tetap pada putusannya. Bahkan, Liga Arab telah menunjuk satu komite untuk menentukan jadwal. Rencananya pengajuan kemerdekaan Palestina akan disampaikan bertepatan dengan sidang tahunan Majelis Umum PBB pada September mendatang.

Di pihak lain, Presiden Palestina, Mahmud Abbas, dan sejumlah pejabat senior Palestina berencana mengunjungi sejumlah negara Uni Eropa dalam beberapa hari ke depan untuk membujuk mereka.

Pengakuan 115 Negara

Hingga kini, telah 115 negara mengakui kemerdekaan Palestna. Adapun Amerika Serikat, Kanada, dan sebagian besar negara Uni Eropa belum memberi pengakuan. 

Perunding Palestina, Saeb Erekat, mengharapkan Amerika Serikat tidak menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk menghambat kemerdekaan Palestina.

Adapun Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, menegaskan, langkah penyatuan Palestina tidak akan membawa perdamaian di kawasan itu. "Tidak ada yang bisa menggantikan perundingan," kata Netanyahu.

Hasil survei terhadap 1.010 warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza menyebutkan, sebanyak 64 persen setuju kemerdekaan Palestina diraih melalui Perserikatan Bangsa Bangsa. Dari persentase itu, penduduk di wilayah Gaza yang paling banyak memberi persetujuan yakni 79 persen. Sedangkan penduduk di Tepi Barat sebanyak 57 persen.

Survei itu dilakukan oleh Beit Sahour bekerja sama dengan Palestinian Center for Public Opinion, yang didanai oleh Israel Project, lembaga swadaya internasional yang menyediakan informasi tentang Timur Tengah kepada para wartawan.

Meskipun setuju melalui PBB, sebagian besar responden tidak percaya PBB akan mampu membawa Palestina menjadi sungguh merdeka. Mereka yang optimistis hanya 37 persen dan 16 persen menilai akan terjadi kemunduran.

Mereka juga tidak menerima gagasan Presiden Amerika Serikat Barack Obama tentang pembentukan dua negara, yakni Palestina dan Israel. Sebanyak 61 persen memberi alasan tujuan akhir seharusnya menjadi satu negara, yakni Palestina. Hanya 34 persen yang menerima konsep Obama. 

Dalam kaitan itu, Presiden Israel Project, Jennifer Laszlo Mizrahi, mengatakan, hasil survei ini telah dipaparkan di hadapan Presiden Israel, Shimon Peres, pemimpin oposisi, Tzipi Livni, Benyamin Netanyahu, dan para pejabat Israel lainnya.

Berbagai upaya yang telah lama dilakukan oleh Palestina khususnya di forum PBB, kemerdekaan Palestina tampaknya masih sulit terwujud, masih jauh panggang dari api. 

Ini karena terdapat sikap yang tak tergoyahkan dari si perintang utamanya, Amerika Serikat, sang "pengendali" PBB.

Dan karena itu, selama Amerika dan Israel tetap "main mata", dan selama PBB masih "dikuasai" negara adidaya itu, rasanya kemerdekaan Palestina yang telah lama diimpikan itu tetap akan sulit berwujud menjadi kenyataan. | Antara

Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016