ACEH BESAR - Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud
mengajak rakyat mendukung Partai Aceh untuk bersama-sama menciptakan
Pemerintahan Aceh bermartabat yang mampu menciptakan kesejahteraan."Sebuah
pemerintahan yang memperhatikan rakyatnya, berkeadilan, dan terbebas dari
perilaku korup," katanya. "Si pemimpin juga harus memiliki sopan
santun dalam bertindak."
Menurut Malik, untuk mendapatkan pemimpin seperti
itu maka Partai Aceh bersama rakyat harus berusaha memenangkan pemilihan
Gubernur dalam Pilkada 2011 ini. Agar upaya ini bisa berjalan dengan baik,
"maka orang-orang yang tak sepaham silahkan minggir." Lalu, Malik
yang akrab disapa meuntro ini memberi sebuah tamsil. "Jika ada tiga mangga
busuk dalam keranjang segeralah dibuang, jangan sampai mangga jadi busuk
sekeranjang."
Kalimat Malik yang sangat tajam ini mengundang
tepuk tangan membahana dari ribuan pengunjung Taman Makam Pahlawan Nasional
Teungku Chik di Tiro, di Desa Mereu, Indrapuri Aceh Besar, Kamis (2/6). Malik
berada di situ bersama tokoh-tokoh pergerakan adalah untuk memperingati setahun
wafatnya Tengku Hasan Tiro yang dimakamkan tepat di sebelah makam Teungku Chik
di Tiro.
Bersama Malik, tampak hadir calon Gubernur dari
Partai Aceh, Zaini Abdullah, ada juga Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf,
yang sudah disepakati untuk mendampingi Zaini pada pilkada ini. Tokoh lain yang
hadir adalah Ketua DPRA Hasbi Abdullah, ada mantan petinggi GAM Zakaria Saman,
dan Ketua Partai Aceh Bireuen Darwis Djeunib, serta elit Partai Aceh dan Komite
Peralihan Aceh.
Di atas podium sederhana yang didirikan di
samping kanan makam, Malik membawa pengunjung mengenang Hasan Tiro. "Di
masa hidupnya, beliau selalu memikirkan rakyat Aceh. Bercita-cita untuk mensejahterakan
rakyat Aceh," katanya. Jadi, menurut Malik, membuat masyarakat Aceh
sejahtera adalah sebuah amanah yang harus dijalankan oleh pemimpin Aceh.
Zaini Abdullah yang juga tampil di atas podim
dalam kesempatan yang berbeda, mengatakan pemimpin Aceh tidak boleh hanya
memikirkan nasibnya sendiri. "Tidak boleh cuma memikirkan nasib
kelompoknya sendiri. Seharusnya, yang difikirkannya adalah seluruh rakyat Aceh,
bukan cuma kelompok-kelompoknya saja," kata Zaini.
Menurut Zaini, untuk membuat membangun Aceh kelak
dia akan menggandeng seluruh cerdik pandai Aceh."Misalnya di Universitas
Syiah Kuala dan universitas lainnya yang ada di Aceh sangat banyak orang-orang
pintar, mereka wajib kita ajak untuk bersama-sama memikirkan bagaimana
membangun Aceh," katanya. "Begitu juga dengan pemuda Aceh yang sudah
menimba ilmu di luar negeri." | Sumber AtjehPost

0 komentar:
Posting Komentar