News Update :

Pendidikan Kearifan Lokal Dirumuskan di Bali

Minggu, 12 Juni 2011

Denpasar - Sebuah ajang yang berusaha merumuskan pendidikan kearifan lokal Bali digelar 10-13 Juni di Denpasar, Bali. Acara bertajuk Bali World Culture Forum (BWCF) itu akan dibuka Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono.

Budayawan Bali, Wayan Geriya--yang juga menjadi Ketua Panitia Pengarah, mengatakan rumusan itu akan mengangkat nilai budaya Bali sebagai jawaban atas masalah-masalah kontemporer saat ini. "Seperti soal kerusakan lingkungan, perdamaian dunia, dan keadilan," kata Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana, Jumat 10 Juni 2011.

Nilai kearifan lokal yang akan dikaji adalah ajaran Trikaya Parisudha, yaitu ajaran untuk berpikir, berkata, dan melakukan perbuatan yang benar.

Kegiatan utama adalah seminar dengan menampilkan 12 pembicara lokal, nasional dan internasional. Pembicara dari luar antara lain Prof. Hubert Gijzen (UNESCO), Dr. Lisa Gold Brinner (Amerika Sertikat), Prof. Dr. Adrian Vickers (Australia), Dr. Olga Witte (Denmark), dan Dr. Neeru Misra (India). Pembicara nasional antara lain Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Dr. Ignas Kleden, Prof. Dr. Irwan Abdullah, dan Ayus Dyah Pasha. Pembicara dari Bali adalah, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Prof. Dr. Made Bandem, dan Wayan Juniartha.

Selain dari Bali , peserta acara ini berasal dari Prancis, Singapura, Korea, Kanada, New Zealand, dan Thailand. "Kita juga mengundang semua universitas terkemuka di Indonesia," kata Geriya. Hasil seminar akan dirumuskan dalam satu deklarasi kebudayaan yang disebut Deklarasi Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ketut Suastika S.H, menyatakan acara BWCF merupakan inisiatif Gubernur Bali untuk menggantikan rencana World Cultural Forum (WCF) yang diundur pelaksanaannya. Diharapkan acara ini justru akan menjadi ajang persiapan dan pemanasan sebelum acara WCF, yang skala kegiatannya jauh lebih besar, digelar.|Tempo
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016