News Update :

Komunitas Internasional Tak Terlihat Serius Tangani Isu Perubahan Iklim

Senin, 13 Juni 2011


aksi protes UNFCCC perubahan iklim

Bonn – Bak majikan tak peduli kebersihan rumah, komunitas internasional tak terlihat serius menangani isu perubahan iklim. Padahal, kelangsungan hidup manusia ditentukan oleh masa depan bumi.

Ketua Konvensi Kerangka PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) menyatakan, negosiator iklim saat ini tengah menjajaki solusi konstruktif dan kreatif bagi negara kaya. Sehingga mereka terus berusaha mengurangi emisi gas rumah kaca, sebagaimana dalam Protokol Kyoto.

Komunitas pemerhati iklim dunia mengkhawatirkan Protokol Kyoto yang akan segera habis masa berlakunya pada 2012 mendatang. Kesepakatan yang ditandatangani pada 1997 lalu itu mengikat lebih dari 40 negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pada target spesifik.

Harapan untuk mencapai kesepakatan dalam isu iklim, memudar sejak KTT UNFCCC di Copenhagen, Denmark, pada 2009 lalu. Sementara para negosiator sedang berkumpul di Bonn, Jerman untuk mempersiapkan KTT UNFCCC selanjutnya di Durban, Afrika Selatan (Afsel), 28 November 2011.

Sekali lagi, Protokol Kyoto menjadi pokok pembahasan utama. Seluruh dunia bisa dikatakan gagal untuk mencari solusi perubahan iklim. Negara berkembang ingin protokol diperpanjang dengan target baru. Negara industri menuntut ekonomi berkembang juga diikat dengan komitmen yang sama.

Tiga negara yang dikenai mandat Protokol Kyoto, Jepang, Kanada dan Rusia telah menyatakan takkan memperbaru komitmen mereka setelah protokol itu habis masa berlakunya. Sementara Amerika yang salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, tak pernah terikat Protokol Kyoto.

Ketua Sekretariat UNFCCC Christina Figueres menyatakan, pihaknya sedang mencari cara untuk bergerak di luar ‘kotak’ kaya-miskin. Negara-negara harus lebih konstruktif dan kreatif. “Harus ada atmosfer sehat, semua harus saling mendengarkan,” ujarnya.

Sebagian besar negara ingin menemukan formula yang juga mengikat Amerika Serikat (AS). Namun delegasi Amerika menyatakan akan mengikuti komitmen apapun dengan satu syarat. Yakni negara berkembang seperti China dan India juga terikat.

climate change
“AS berkomitmen untuk mengikat seluruh perekonomian besar. Kami takkan terlibat komitmen yang hanya menyertakan negara maju atau kesepakatan kosong agar terlihat ada kesepakatan,” ujar Ketua Delegasi AS untuk UNFCCC Jonathan Pershing.

Seakan menambah rumit beban UNFCCC, di hari pertama, Rabu (8/6), konferensi tertunda lebih dari setengah hari karena para delegasi malah sibuk sendiri-sendiri. Beberapa negara terus ngotot memasukkan agenda dan kepentingan masing-masing.

Misalnya Arab Saudi, yang bingung mencari tahu apakah mereka bisa mendapatkan kompensasi dari berkurangnya pemasukan minyak bumi. Delegasi AS meminta verifikasi apakah seluruh negara telah memenuji komitmennya.

Isu Amerika ini sempat meregangkan hubungan dengan China, hampir menyebabkan KTT UNFCCC tahun lalu di Cancun, Meksiko, gagal sebelum diskusi dimulai. Pershing menyatakan, Amerika hanya ingin transprasi.

Terutama mengenai Green Climate Fund yang menuntut negara maju membayar US$100 miliar ke negara berkembang, guna membantu mereka menjalankan kebijakan perubahan iklim. Serta beralih ke perekonomian rendah karbon.

“Seharusnya kita memiliki aturan mengenai laporan dan verifikasi, yang termasuk finansial dan transparansi,” ujarnya.

Sementara itu, dunia terus terdesak agar segera mengambil kesepakatan. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan, emisi karbon tahun lalu mencapai rekornya. Yakni lebih dari 30 gigaton atau 5% lebih banyak ketimbang rekor sebelumnya pada 2008. | inilah.com
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016