Rapat penentuan bakal calon di buat di gedung ACC Unsyiah, sejumlah panglima GAM di berbagai wilayah di Aceh tumpah ke
Banda Aceh, begitu juga dengan sejumlah petinggi Gam dari luar Negeri. Dan
pertemuan itu di sebut pertemuan Ban sigom Donya.
Dari pemilihan itu terpilih dua nama,
sebagai calon Gubernur Aceh Teungku Nasruddin Bin Ahmed Peusangan Bireuen, di
pasangkan dengan Muhammad Nazar [Sira],.
Entah ada masalah atau memang tidak suka jadi Gubernur , tak lama kemudian Teungku Nasruddin memilih mundur.
Entah ada masalah atau memang tidak suka jadi Gubernur , tak lama kemudian Teungku Nasruddin memilih mundur.
Mundurnya Teungku Nash sempat
beredar berbagai isu, ada yang mengatakan Tengku Nash tidak bersedia karena
menganggap terlalu sulit merubah system pemerintahan yang sudah membudaya tidak
baik selama puluhan tahun.
Ada juga yang menyebutkan, kemunduran atas permintaan . Kita boleh berasumsi tapi yang jelas hanya dia yang tahu.
Ada juga yang menyebutkan, kemunduran atas permintaan . Kita boleh berasumsi tapi yang jelas hanya dia yang tahu.
Nazar tinggal sendiri. Ada kabar
menyebutkan Pasca mundur Tengku Nash, Nazar coba di pasangkan dengan Humam Hamid,
namun Humam menolak. Kabar lain juga Nazar mau di sandingkan dengan Hasbi
Abdullah adiknya DR Zaini yang kini menjabat ketua DPR Aceh, tapi lagi-lagi
Hasby menolak.
Nazar belum mendapatkan pasangan. Di
sebuah Wisma arah Utara Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh sejarah mencatat.
Beberapa petinggi GAM seperti DR Zaini DLL, duduk, tanpa melibatkan sejumlah panglima Gam di daerah, tiba-tiba memutuskan bahwa calon Gubernur dari GAM adalah Humam-Hasby atau kemudian di kenal dengan H2O.
Nah, Calon ini tidak di naikkan
melalui jalur Independen, yang merupakan hasil perjuangan GAM di dalam perundingan
Helsinki. Tapi petinggi Gam setingkat Malik Mahmud, Usman Lampoh Awe DR.Zaini menaikkan pasangan pujaan mereka lewat jalur partai Nasional yaitu PPP
[Partai Persatuan Pembangunan]
[Partai Persatuan Pembangunan]
Keputusan ini sangat mengejutkan
masyarakat, apalagi masyarakat yaang berpendidikan formal dan masyarakat non pendidikan formal, tapi
banyak belajar dan sering berdiskusi serta membaca perkembangan
media massa. Sementara masyarakat awam memilih menerima saja, karena mereka
menganggap kalau sudah keputusan Wali atau Mentroe, tidak ada alasan untuk bantah , artinya wajib terima.
Di masyarakat awam, pilihan PPP dengan alasan “ Kalo tidak naik lewat Partai nanti susah kordinasi Anggaran
karena yang duduk di DPRA adalah masih politisi partai Nasional, bukan orang
kita. Masyarakat awam percaya saja, walau selama konflik pecah, doktrin anti
Partai dan baikot pemilu Indonesia nomor satu di kampanyekan GAM.
Sementara masyarakat yang mau sedikit
berpikir, merasa bingung….? Ini ada apa sebenarnya? dan jarum atau politisi mana yang menyuntik ide ini, untuk naik lewat jalur partai ?
Banyak lah macam pertanyaan dan gumam-gumam
masyarakat tentang ini. “ Dulu di minta benci, ini lewat situ juga naik”
gitulah kira kira kata orang saat itu. Pengusaha dan orang berduit sepertinya
mendukung pasangan H2O ini. Kenapa tidak? konflik yang baru saja usai, badai harapan masyarakat masih bertumpu pada
GAM ?
Namun perubahan terjadi bagai kilat,
sejumlah anggota GAM dan tokoh
mulai menyadari sapa yang sedang terjadi saat itu. Artinya jalur Independen yang begitu sulit di
perjuangkan kok sekarang kita [GAM] naik lewat jalur partai... ?
Irwandi tiba –tiba muncul
menyatakan naik sebagai calon Gubenur, bersama Nazar memilih lewat titah MoU yaitu
jalur Independen, dia
menggandengan sejumlah panglima sagoe GAM dan Panglima wilayah.
Nah, informasi GAM menaikkan calon gubenur lewat PPP, mengalir cepat., akibatnya suasana gonjang
ganjing mulai terjadi dilapangan khususnya prajurit GAM, yang kurang setuju
calon dari GAM naik lewat jalur Partai. Pasukan GAM di lapangan juga semakin marah.
Sementara kelompok H20 terus berkampanye, leawat mulut para anggota hingga lewat sebuah tabloid. Pemuatan itu di duga sebagai pariwara dan dibayar. di dalam liputannya banyak menyudutkan Irwandi, dan sejumlah anggota gam lain yang dekat dengan Irwandi. Yang langsyung menerima akibat adalah Sofyan Daod, karena mendukung Irwandi, posiosi sebagai jubir di geser, dan di tempatkan Suaidi Laweung yang kini sebagai anggota DPRK Pidie. Dia pun memberi komentar apapun dan mendapat tempat di Tabloid itu.
Sementara kelompok H20 terus berkampanye, leawat mulut para anggota hingga lewat sebuah tabloid. Pemuatan itu di duga sebagai pariwara dan dibayar. di dalam liputannya banyak menyudutkan Irwandi, dan sejumlah anggota gam lain yang dekat dengan Irwandi. Yang langsyung menerima akibat adalah Sofyan Daod, karena mendukung Irwandi, posiosi sebagai jubir di geser, dan di tempatkan Suaidi Laweung yang kini sebagai anggota DPRK Pidie. Dia pun memberi komentar apapun dan mendapat tempat di Tabloid itu.
Di lapangan semakin panas, walaupun pada saat itu juga beredar
kertas berkop Gerakan Aceh Merdeka yang mengatakan bahwa “Peunotoh wali” calon
yang di restui adalah H20. Penutoh itupun tidak mujarab, di lapangan tetap
kacau.
Suatu hari di sebuah gampong di
pedalaman Bireuen, seorang pria suruhan membagikan Tabloid yang di dalamnya
berisikan tentang sisi jelek Irwandi dan oknum-oknum GAM pendukung jalur Independen. Seorang anggota
GAM bertanya: “ Siapa yang suruh bagi –bagi ini? Tanya anggota GAM itu.
“ Tidak ada urusan dengan kamu, urusan
saya dengan panglima,” Ujar Lelaki itu menantang. Mendengar jawaban itu, Si
anggota GAM yang sedang pusing dengan kondisi itu, menghajar si lelaki ini,. Si
pembagi Koran inipun babak belur dan terbaring di rumah sakit.
Konflik fisik mulai terlihat. Tak lama kemudian rombongan H2O juga lari
terbirit –birit setelah bus yang di tumpangi tim kampanye Humam-Hasby, di hajar
sekelompok pemuda di Kedai Matang Glp II Bireuen.
Muzakkir Manaf atau Muallem yang kini di
usung Partai Aceh sebagai calon Wakil Gubernur Aceh sudah tidak sanggup mengendalikan gejolak itu.
Pasukan GAM hanya sedikit yang mendukung H2O. Akhirnya iapun menyatakan mencabut
dukungan kepada H2O dan mendukung calon dari jalur Independen yaitu Irwandi
Yusuf-Nazar.
Melihat pernyataan sang panglima tinggi
Gam itu, suara tepuk riuh menggema di Lapangan Blang Asan MTG GLP II yang saat
itu sedang kampanye pasangan Sinar [Seramoe Irwandi Nazar] Akhirnya pasangan
Sinar Menang. Dan akhirnya “Gerobak Emas” kursi nomor
1 Aceh di rebut Irwandi dan Nazar melenggang ke kursi Gubernur dan Wakil. | Bersambung
Penulis
adalah Muhammad Al Hariri
[Coba mengamati apa yang terjadi
di Aceh Saat ini]


0 komentar:
Posting Komentar