News Update :

Loep [Masuk] Block Pemilihan Gubernur 2006 [3]

Selasa, 24 Mei 2011


Rapat penentuan bakal calon di buat di gedung ACC Unsyiah, sejumlah panglima GAM di berbagai wilayah di Aceh tumpah ke Banda Aceh, begitu juga dengan sejumlah petinggi Gam dari luar Negeri. Dan pertemuan itu di sebut pertemuan Ban sigom Donya. 

Dari pemilihan itu terpilih dua nama, sebagai calon Gubernur  Aceh Teungku Nasruddin Bin Ahmed Peusangan Bireuen, di pasangkan dengan Muhammad Nazar [Sira],. 

Entah ada masalah atau memang tidak suka jadi Gubernur ,  tak lama kemudian Teungku Nasruddin memilih mundur. 

Mundurnya Teungku Nash sempat beredar berbagai isu, ada yang mengatakan Tengku Nash tidak bersedia karena menganggap terlalu sulit merubah system pemerintahan yang sudah membudaya tidak baik selama puluhan tahun. 

Ada juga yang menyebutkan, kemunduran atas permintaan . Kita boleh berasumsi tapi  yang jelas hanya dia yang tahu. 

Nazar tinggal sendiri. Ada kabar menyebutkan Pasca mundur Tengku Nash, Nazar coba di pasangkan dengan Humam Hamid, namun Humam menolak. Kabar lain   juga Nazar mau di sandingkan dengan Hasbi Abdullah adiknya DR Zaini yang kini menjabat ketua DPR Aceh, tapi lagi-lagi Hasby menolak. 
Nazar belum mendapatkan pasangan. Di sebuah Wisma arah Utara Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh sejarah mencatat. Beberapa petinggi GAM seperti DR Zaini DLL, duduk, tanpa melibatkan sejumlah panglima Gam di daerah,  tiba-tiba memutuskan  bahwa calon Gubernur dari GAM adalah Humam-Hasby atau kemudian di kenal dengan H2O. 
Nah, Calon  ini  tidak di naikkan melalui jalur Independen, yang merupakan  hasil perjuangan  GAM di dalam perundingan Helsinki. Tapi petinggi Gam setingkat Malik Mahmud, Usman Lampoh Awe DR.Zaini menaikkan pasangan pujaan mereka lewat  jalur  partai Nasional yaitu PPP 
[Partai Persatuan Pembangunan] 

Keputusan ini sangat mengejutkan masyarakat, apalagi masyarakat yaang berpendidikan formal dan masyarakat non pendidikan formal, tapi banyak belajar  dan sering berdiskusi serta membaca perkembangan media massa. Sementara masyarakat awam memilih menerima saja, karena mereka menganggap kalau sudah keputusan Wali atau Mentroe, tidak ada alasan untuk bantah , artinya wajib terima. 

Di masyarakat awam, pilihan PPP  dengan alasan “ Kalo tidak naik lewat Partai nanti susah kordinasi Anggaran karena yang duduk di DPRA adalah masih politisi partai Nasional, bukan orang kita. Masyarakat awam percaya saja, walau selama konflik pecah, doktrin anti Partai dan baikot pemilu Indonesia nomor satu di kampanyekan GAM.  

Sementara masyarakat yang mau sedikit berpikir, merasa bingung….? Ini ada apa sebenarnya? dan jarum atau politisi mana yang menyuntik ide ini, untuk naik lewat jalur partai ?  

Banyak lah macam pertanyaan dan gumam-gumam masyarakat tentang ini. “ Dulu di minta benci, ini lewat situ juga naik” gitulah kira kira kata orang saat itu.  Pengusaha dan orang berduit sepertinya mendukung pasangan H2O ini. Kenapa tidak? konflik yang baru saja usai,  badai harapan masyarakat masih bertumpu pada GAM ? 

Namun perubahan terjadi bagai kilat, sejumlah anggota GAM dan tokoh  mulai menyadari sapa yang sedang terjadi saat itu. Artinya jalur Independen yang begitu sulit di perjuangkan kok sekarang kita [GAM] naik lewat jalur partai... ? 

Irwandi  tiba –tiba muncul menyatakan naik sebagai calon Gubenur, bersama Nazar memilih lewat  titah MoU yaitu jalur Independen,   dia menggandengan sejumlah panglima sagoe GAM dan Panglima wilayah. 
 
Nah, informasi GAM menaikkan calon gubenur lewat PPP,  mengalir cepat., akibatnya suasana gonjang ganjing mulai terjadi dilapangan khususnya prajurit GAM, yang kurang setuju calon dari GAM  naik lewat jalur Partai. Pasukan GAM di lapangan juga semakin marah. 

Sementara kelompok H20 terus berkampanye, leawat mulut para anggota hingga lewat  sebuah tabloid. Pemuatan itu di  duga sebagai pariwara  dan dibayar.  di dalam liputannya banyak menyudutkan Irwandi, dan sejumlah anggota gam lain yang dekat dengan Irwandi. Yang langsyung menerima akibat adalah Sofyan Daod, karena mendukung Irwandi, posiosi sebagai jubir di geser, dan di tempatkan Suaidi Laweung yang kini sebagai anggota DPRK Pidie. Dia pun memberi komentar apapun dan mendapat tempat  di Tabloid itu. 

Di lapangan semakin  panas, walaupun pada saat itu juga beredar kertas berkop Gerakan Aceh Merdeka yang mengatakan bahwa “Peunotoh wali” calon yang di restui adalah H20. Penutoh itupun tidak mujarab, di lapangan tetap kacau. 

Suatu hari di sebuah gampong di pedalaman Bireuen, seorang pria suruhan membagikan Tabloid yang di dalamnya berisikan tentang sisi jelek Irwandi dan oknum-oknum GAM  pendukung jalur Independen. Seorang anggota GAM bertanya: “ Siapa yang suruh bagi –bagi ini? Tanya anggota GAM itu. 

“ Tidak ada urusan dengan kamu, urusan saya dengan panglima,” Ujar Lelaki itu menantang. Mendengar jawaban itu, Si anggota GAM yang sedang pusing dengan kondisi itu, menghajar si lelaki ini,. Si pembagi Koran inipun babak belur dan terbaring di rumah sakit. 

Konflik fisik mulai terlihat.  Tak lama kemudian rombongan H2O juga lari terbirit –birit setelah bus yang di tumpangi tim kampanye Humam-Hasby, di hajar sekelompok pemuda di Kedai Matang Glp II Bireuen. 

Muzakkir Manaf atau Muallem yang kini di usung Partai Aceh sebagai calon Wakil Gubernur Aceh  sudah tidak sanggup mengendalikan gejolak itu. Pasukan GAM hanya sedikit yang mendukung H2O. Akhirnya iapun menyatakan mencabut dukungan kepada H2O dan mendukung calon dari jalur Independen yaitu Irwandi Yusuf-Nazar. 

Melihat pernyataan sang panglima tinggi Gam itu, suara tepuk riuh menggema di Lapangan Blang Asan MTG GLP II yang saat itu sedang kampanye pasangan Sinar [Seramoe Irwandi Nazar] Akhirnya pasangan Sinar Menang.  Dan akhirnya “Gerobak Emas” kursi nomor 1 Aceh di rebut Irwandi dan Nazar melenggang ke kursi Gubernur dan Wakil. | Bersambung

Penulis adalah Muhammad Al Hariri
[Coba mengamati apa yang terjadi di Aceh Saat ini]

Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016