
BANDA ACEH – Tuntut kesejahteraan dan jaminan keamanan dalam bertugas, puluhan jurnalis lintas media berunjukrasa di Simpang Lima , Banda Aceh. Mereka juga mendesak penegak hukum menuntaskan kasus penganiayaan Rahmad Idris, wartawan Harian Analisa di Pidie dalam aksi Hari Buruh se Dunia, Minggu (1/5).
Aksi diikuti oleh jurnalis tergabung dalam AJI Banda Aceh, Ikatan Jurnalis Televisi Inodenesia (IJTI) Aceh, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Aceh, Pewarta Foto Aceh (PFA),mahasiswa Sekolah jurnalistik Muharram Jurnalism Collage (MJC), dan pegiat pers mahasiswa Universitas Syiah Kuala.
Aksi dimulai dengan bersepeda bersama dari depan meuseum tsunami, Lampaseh, Merduati dan finish di Simpang Lima. Dalam aksi para pemburu berita mengusung poster dan spanduk menuntut upah layak dan mengecam segala penindasan terhadap wartawan.
Alaidin Ikrami, kordinator aksi mengatakan, aksi ini untuk menuntut Negara agar memberi jaminan keaman bagi jurnalis dalam bertugas, karena jika wartawan terancam akan berdampak buruk bagi demokrasi di Indonesia.
“Jurnalis di Indonesia makin dihadapkan pada tantangan yang semakin berat. Tidak hanya mengalami rentetan kasus kekerasan yang kian meninggi grafiknya, jurnalis juga dihadapkan pada masalah kesejahteraan yang masih rendah,” kata Alaidin.
Selama 2010, AJI mencatat ada 66 kasus kekerasan terhadap wartawan terjadi di Indonesia . Tingginya kasus kekerasan terhadap wartawan selama ini, Committee to Project Journalist (CPJ), organisasi international yang aktif berkampanye tentang keselamatan jurnalis, pernah memasukkan Indonesia ke dalam daftar Negara berbahaya bagi wartawan.
Dari sekian banyak rentetan kasus kekerasan terhadap wartawan, hanya sedikit yang diproses secara hukum. Hal ini dinilai hanya akan menyuburkan praktek kekerasan terhadap wartawan, jika tak ditangani secara serius oleh penegak hukum.
Pengunjukrasa juga mengutuk keras penganiayaan dilakukan oknum Komite Peralihan Aceh (KPA) Padang Tijie, Pidie, terhadap wartawan Harian Analisa, Rahmad Idris pecan lalu di Balai Benih Ikan, Padang Tijie.
Mereka mendesak penegak hukum menuntaskan kasus tersebut dan jangan memberikan kekebalan hukum (Impunitas) terhadap siapapun pelaku kekerasan terhadap jurnalis.
Mukhtaruddin Yakob, Ketua AJI Banda Aceh mengatakan, kesejahteraan dan ancaman kekerasan masih menjadi masalah utama dihadapi jurnalis di Indonesia dalam bertugas selama ini.
Banyak wartawan, kata dia, digaji tak layak oleh medianya. Meski risiko dalam bertugas sangat tinggi, banyak jurnalis yang belum dibekali asuransi oleh perusahaan media. Minimnya upah diterima wartawan selama ini menyulitkan mereka bekerja professional, sehingga tak sedikit di antara mereka yang terjebak dalam melanggar etika jurnalistik.
Dalam aksi ini, FJPI Aceh juga meminta perusahaan media peduli terhadap hak-hak jurnalis perempuan. Aksi mendapat pengawalan ketat Kepolisian dan perhatian dari sejumlah pengguna jalan. Setelah menyatakan pembacaan sikap, aksi bubar dengan tertib.|Sumber Atjehpost

0 komentar:
Posting Komentar