London - Pemanasan global begitu cepat menuju ambang "bahaya" karena emisi karbon global saat ini mencapai rekor tertinggi sehingga menimbulkan risiko kenaikan temperatur bumi hingga dua derajat Celcius. Demikian menurut laporan International Energy Agency (IEA), lembaga internasional pemantau kebijakan terkait sumber daya energi.
Perkiraan International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa 30,6 Gigaton (Gt) karbon dioksida dipompa ke atmosfer tahun lalu--dikhawatirkan terjadi kenaikan emisi senilai 1,6 Gigaton (Gt) tahun 2009.
IEA memperingatkan bahwa emisi tahunan ini harus tidak lebih tinggi dari 32 Gt pada tahun 2020 jika bumi mau terhindar dari efek yang paling merusak akibat pemanasan global.
Pada saat ini produksi karbon dioksida, diambang "berbahaya" karena kenaikan suhu global 2 derajat celcius -- terlihat hampir mustahil untuk dihindari. "Ini berita terburuk menyangkut emisi karbon. Kini sangat sulit untuk mempertahankan temperatur bumi. Peluangnya semakin kecil. Setidaknya itulah yang diungkapkan data ini," Ujar Faith Birol, Kepala Ekonomi IEA, seperti dikutip Daily Mail, Senin (30/5/2011).
Lebih lanjut, IEA memperkirakan bahwa sekitar 80 persen emisi dari sektor energi di tahun 2020 sudah bisa dipastikan. Pasalnya, saat ini sejumlah pembangkit listrik sudah mulai dibangun.
“Peningkatan signifikan dari emisi CO2 dan kepastian akan hadirnya emisi tambahan akibat investasi di bidang infrastruktur merepresentasikan kemunduran serius terhadap harapan kita dalam membatasi kenaikan temperatur global agar tetap di bawah 2 derajat Celcius,” ucap Birol.
Sebagai informasi, tahun lalu, pada konferensi PBB seputar perubahan iklim di Cancun, Meksiko, para pemimpin dunia telah sepakat untuk mematok batas kenaikan temperatur global hanya maksimal 2 derajat Celcius.
Agar target ini tercapai, konsentrasi jangka panjang atas gas rumah kaca di atmosfir harus dibatasi hanya sekitar 450 parts per million atau hanya boleh naik 5 persen dibanding total 430 parts per million di tahun 2000 lalu.
Selain itu, IEA mengkalkulasikan, agar berhasil mencapai level tersebut, berdasarkan target emisi yang telah disepakati negara-negara untuk tahun 2020 mendatang, emisi global terkait energi tidak boleh lebih besar dari 32 Gt. Untuk itu, kenaikan emisi selama 10 tahun ke depan harus di bawah total emisi tahun 2009-2010 lalu.
“Temuan terakhir kami merupakan tanda peringatan. Dunia sudah semakin dekat dengan level emisi yang seharusnya tidak boleh dicapai sebelum tahun 2020 jika ingin mencapai target,” kata Birol. “Melihat sedikitnya ruang yang tersisa, jika tidak ada keputusan besar dan menentukan yang dibuat, maka sangatlah sulit untuk mencapai target yang ditetapkan di Cancun,” ucapnya.
.



0 komentar:
Posting Komentar