Treett..trett…dorr..dorrr
..itu suara tembakan…tiarap….pasti ada kontak tembak antara orang kita dengan
tentara,” Begitulah kata orang di pedalaman pada era 1999 sampai 2004. 
Hilir
mudik pasukan GAM di kampung menjadi kebanggaan dan harapan baru bagi
masyarakat saat itu. “Itu orang kita, “
warga tersenyum senang, sembari merapat dan melihat serta mendengarkan setiap
obrolan yang di tuturkan sang pasukan, tidak sedikit pula yang menyumbang
dengan membeli berbagai kebutuhan.
Era
1999-2002 adalah masa yang lumayan untuk pergerakan GAM di lapangan.
Logistik melimpah, yang di kumpulkan dari berbagai sumber, terutama sumbangan
masyarakat. Pemuda-pemuda desa ikut bergabung, baik sebagai pasukan maupun
sebagai penjaga radio [HT].
Secara
perlahan kondisi itu berubah, TNI berhasil meredup keluasaan GAM dengan cara
menguasai perkampungan dan mendirikan pos dimana-mana. Ruang gerak GAM semakin
sempit, pengumpulan logistic pun semakin sulit. Namun masyarakat tetap
membantu, dengan alasan kasian, sayang dan keluarga.Walau
harus berhadapan dengan resiko mati bila ketahuan TNI, karena mengantar logistic atau obat-obatan, atau yang
lebih kecil lagi mengirim pulsa. Tapi masyarakat terutama di pedesaan tetap saja
di lakukannya, karena mereka yakin untuk perjuangan.
“Kata
kata mujarab dari Wali Hasan Tiro terus di ingat dan mengembang berbunga dihati
masyarakat, seakan kemerdekaan sudah di depan mata, begitu juga titah- titah
dari Mentro-Mentro yang jauh di sana.
Itulah
yang melupakan masyarakat akan resiko, bertambah lagi dengan dendam kepada
aparat, yang mungkin pernah satu atau berkali-kali kena tempelen dan tendang
baik dalam sweping maupun dalam penyisiran pasca kontak tembak.karena eskalsi konflik terus meningkat perdamaian sempat di rintis Henry Dunant Centre,
namun gagal.
Mei
2003, Darurat militer di berlakukan di Aceh, kondisi itu sama sekali tidak
menguntungkan gerakan militer GAM, sipil GAM maupun pengumpul logistic GAM.
Masyarakat di paksa untuk memiliki ktp merah putih. Tak lain untuk tujuan agar
bisa terlihat siapa yang terlibat GAM atau tidak. Namun seketat apapun, ada
sejumlah aktivis GAM dan pasukan GAM juga berhasil mendapat KTP merah Putih baik dengan mengeluarkan sejumlah uang atau membuat KTPMP aspal, asli tapi palsu. .
Di
kala itu banyak GAM yang Hijrah dari hutan ke
tempat yang lebih aman, seperti ke rumah saudara, kawan sekampung, dan tempat
lainnya. Sementara sisanya bertahan di hutan, dengan kondisi
berbagai corak dan macam, ada yang sedang akut karena terserang malaria, dan kelaparan.
Kategori yang terpaksa bertahan,pertama pasukan GAM penuh idiologi, kedua , karena
kondisi Jalan tidak memungkinkan untuk keluar, ketiga Takut melanggar sumpah perjuangan, ke
empat karena tidak memiliki koneksi ke
kota atau keluar daerah, karena sebelumnya memang hanya permainan di kampung
saja, ke lima karena ketakutan berlebihan.
Pada
kondisi ini, tidak banyak yang bisa menolong para pejuang itu, namun warga masih
tetap berusaha agar bisa mengirim obat-obat dan beras walau harus dia masukkan
ke dalam celana dalam dan BH. Pengorbanan itu semua, tak lain demi --Ureung Nanggroe.

0 komentar:
Posting Komentar