News Update :

Demi Perjuangan Mati Pun Aku Rela [1]

Selasa, 24 Mei 2011


Treett..trett…dorr..dorrr ..itu suara tembakan…tiarap….pasti ada kontak tembak antara orang kita dengan tentara,” Begitulah kata orang di pedalaman pada era 1999 sampai 2004.

Hilir mudik pasukan GAM di kampung menjadi kebanggaan dan harapan baru bagi masyarakat saat itu.  “Itu orang kita, “ warga tersenyum senang, sembari merapat dan melihat serta mendengarkan setiap obrolan yang di tuturkan sang pasukan, tidak sedikit pula yang menyumbang dengan membeli berbagai kebutuhan.

Era 1999-2002 adalah masa yang lumayan untuk pergerakan GAM di lapangan. Logistik melimpah, yang di kumpulkan dari berbagai sumber, terutama sumbangan masyarakat. Pemuda-pemuda desa ikut bergabung, baik sebagai pasukan maupun sebagai penjaga radio [HT]. 

Secara perlahan kondisi itu berubah, TNI berhasil meredup keluasaan GAM dengan cara menguasai perkampungan dan mendirikan pos dimana-mana. Ruang gerak GAM semakin sempit, pengumpulan logistic pun semakin sulit. Namun masyarakat tetap membantu, dengan alasan kasian, sayang dan keluarga.Walau harus berhadapan dengan resiko mati bila ketahuan TNI, karena  mengantar logistic atau obat-obatan, atau yang lebih kecil lagi mengirim pulsa. Tapi masyarakat terutama di pedesaan tetap saja di lakukannya, karena mereka yakin untuk perjuangan.

“Kata kata mujarab dari Wali Hasan Tiro terus  di ingat dan mengembang  berbunga  dihati masyarakat, seakan kemerdekaan sudah di depan mata, begitu juga titah- titah dari Mentro-Mentro yang jauh di sana.

Itulah yang melupakan masyarakat akan resiko, bertambah lagi dengan dendam kepada aparat, yang mungkin pernah satu atau berkali-kali kena tempelen dan tendang baik dalam sweping maupun dalam penyisiran pasca kontak tembak.karena eskalsi konflik terus meningkat perdamaian sempat di rintis Henry Dunant Centre, namun gagal.

Mei 2003, Darurat militer di berlakukan di Aceh, kondisi itu sama sekali tidak menguntungkan gerakan militer GAM, sipil GAM maupun pengumpul logistic GAM. Masyarakat di paksa untuk memiliki ktp merah putih.  Tak lain untuk tujuan agar bisa terlihat siapa yang terlibat GAM atau tidak. Namun seketat apapun, ada sejumlah aktivis GAM dan pasukan GAM juga berhasil mendapat KTP merah Putih baik dengan mengeluarkan sejumlah uang atau membuat KTPMP aspal, asli tapi palsu. .

Di kala itu banyak GAM yang Hijrah dari hutan ke tempat yang lebih aman, seperti ke rumah saudara, kawan sekampung, dan tempat lainnya. Sementara sisanya bertahan di hutan, dengan kondisi berbagai corak dan macam, ada yang sedang akut karena terserang malaria, dan kelaparan.

Kategori yang  terpaksa bertahan,pertama  pasukan GAM penuh idiologi, kedua , karena kondisi Jalan tidak memungkinkan untuk keluar, ketiga  Takut melanggar sumpah perjuangan, ke empat  karena tidak memiliki koneksi ke kota atau keluar daerah, karena sebelumnya memang hanya permainan di kampung saja, ke lima karena ketakutan berlebihan.

Pada kondisi ini, tidak banyak yang bisa menolong para pejuang itu, namun warga masih tetap berusaha agar bisa mengirim obat-obat dan beras walau harus dia masukkan ke dalam celana dalam dan BH. Pengorbanan itu semua,  tak lain  demi --Ureung Nanggroe.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016