acehtraffic.com - Pada bulan Juni, kelompok yang
menamakan diri Negara Islam atau ISIS menyatakan pembentukan
kekhalifahan yang meliputi sebagian wilayah Suriah dan Irak.
ISIS yang terkenal brutal memang jauh dari pemahaman Islam pada umumnya tentang kekhalifahan, lapor wartawan BBC Edward Stourton.
Tetapi
survei yang dilakukan Gallup pada tahun 2006 tentang warga Islam di
Mesir, Maroko, Indonesia, dan Pakistan menyebutkan dua pertiga responden
mendukung tujuan "menyatukan semua negara Islam" dalam sebuah khalifah
baru.
Khalifa yang berasal dari kata Arab berarti wakil atau
pengganti dan di al-Quran hal ini dikaitkan dengan pemerintahan yang
adil.
Dan bagi warga Islam Sunni saat ini, yang kebanyakan hidup
di bawah rezim otokratis, ide sebuah kekhalifahan berdasarkan prinsip
pemerintahan tanpa paksaan, kemungkinan besar sangat menarik.
Sebagian penganut Islam juga tertarik dengan kekhalifahan karena hal ini membangkitkan kebesaran Islam.
Zaman Khalifah yang Benar diikuti oleh kekhalifahan kerajaan Umayyad dan Abbasid.
Masa Keemasan Islam juga ditandai dengan kebesaran pemikiran dan kreatifitas kebudayaan.
Istana
Abbasid di Baghdad menganggap penting sastra dan musik, di samping
kemajuan bidang kedokteran, ilmu pengetahuan dan matematika.
Rekayasa?
ISIS menggunakan berbagai unsur sejarah kekhalifahan untuk mencapai tujuannya.
Seragam
hitam dan bendera kelompok ini mirip dengan jubah hitam pakaian
kerajaan Abbasid di abad ke delapan, kata ahli sejarah Hugh Kennedy.
Nama
asli mereka, Negara Islam Irak dan Levant mengingatkan orang pada masa
ketika tidak terdapat batas wilayah pada kedua negara.
Hal ini menyebabkan kedua wilayah ini menjadi bagian dari kekhalifahan besar Islam.
Dan
keberhasilan ISIS sejauh ini menguasai sejumlah wilayah di Irak dan
Suriah tampaknya dipandang mewakili kuatnya keinginan bagi terbentuknya
kekhalifahan.| BBC |


