“Kita ada Polda Aceh dan Kodam IM. Jadi,
kalau ada yang mengganggu perdamaian di Aceh itu tugas polisi dan TNI.
Kita serahkan saja persoalan itu kepada aparat penegak hukum,” ujar
Gubernur Aceh, Zaini Abdullah sebagaimana dimuat harian serambi
Indonesia Selasa 14 oktober 2014,dalam kunjungan kerja Gubernur di Aceh
Tenggara
Nurdin Alias Din Minimi adalah mantan
GAM kawasan Sagoe Nurul A’la Kuta Binje Aceh Timur. Din bukanlah
pengakup-ngaku GAM, dalam keluarganya ia tiga orang terlibat membantu
perjuangan Gerakan Aceh Merdeka.
Adiknya bernama Hamdani alias Sitong,
tewas dalam pertempuran antara GAM dengan aparat tahun 2004. Adik ke
tiganya, Mak Isa alias si Bukrak, hilang saat konflik Aceh, dan hingga
kini tidak diketahui hidup atau mati. Dan terakhir adik bungsunya,
Azhar, kini pengangguran dan berdomisili di Aceh Timur.
Jumat 10 Oktober 2014 ia Din Minimi
bersama dua pengawalnya, tampil memegang senjara laras panjang, dengan
baju singlet loreng, didada kiri baju bergambar Buraq dan Singa yang
tidak lain adalah lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Foto tersebut
diambil disebuah lokasi persembunyian mereka di Aceh Timur.
Dalam pernyataannya Nurdin akan
melawan pemimpin Aceh yaitu Zaini -Muzakkir dengan cara apapun, karena
mereka dianggap tidak amanah terhadap MoU Helsinki.
Perlawanan ini dilakukannya karena
Pemerintah ZIKIR dinilai tidak memperhatikan kehidupan mantan kombatan
GAM, serta rakyat miskin. Zaini-Muzakkir juga dianggap tidak
memperhatikan kelangsungan pendidikan anak yatim korban konflik. “Banyak
mantan kombatan GAM, janda, dan anak yatim peninggalan konflik Aceh
yang hidupnya sangat memprihatinkan.

