News Update :

Hamas dan Fatah Sepakat Berdamai, Israel `Ngambek`

Kamis, 24 April 2014

Yerusalem | acehtraffic.com - Dua kelompok Palestina yang kerap berseteru, Fatah dan Hamas mengumumkan kesepakatan rekonsiliasi. Kedua faksi akan mencoba untuk membentuk pemerintah persatuan dalam beberapa minggu mendatang.

Sebelumnya, Hamas dan Fatah saling bersitegang, puncaknya pada 2007 lalu. Sementara, perjanjian rekonsiliasi yang dihasilkan di masa lalu belum pernah dilaksanakan.

Rekonsiliasi Hamas-Fatah terjadi di tengah perjanjian perdamaian antara Presiden Palestina Mahmoud Abbas dengan pihak Israel. Pihak negeri zionis pun 'ngambek', tak mau menghadiri sesi negosiasi yang dijadwalkan Rabu malam waktu setempat.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sejak lama mengultimatum Abbas, memintanya tegas memilih: berdamai dengan Israel atau Hamas.

"Anda hanya bisa memilih salah satu. Saya harap ia (Abbas) memilih perdamaian (dengan Israel), sejauh ini ia tak melakukannya," kata Netanyahu.

Israel, juga Amerika Serikat dan Uni Eropa menganggap, Hamas sebagai 'organisasi teror'. Sementara pihak berseberangan berpendapat, kelompok yang berpusat di Gaza itu adalah pejuang pembebas Palestina.

Sementara, para pejabat Palestina menegaskan, rekonsiliasi adalah persoalan internal. Dan bahwa membuat rakyat Palestina bersatu akan memperkuat perdamaian.

Dalam pernyataannya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan, "Tak ada hal berbenturan antara rekonsiliasi dan pembicaraan damai" dan bahwa Palestina tetap berkomitmen mewujudkan perdamaian  atas dasar solusi dua negara.

Sebelumnya, Abbas mengirimkan delegasi ke Gaza untuk pembicaraan damai awal pekan ini.

Selanjutnya, dua faksi akan membentuk pemerintahan bersatu sementara, yang dipimpin Abbas, dalam 5 minggu dan kemudian menggelar pemilu legislatif dalam waktu 6 bulan. 
Yerusalem - Dua kelompok Palestina yang kerap berseteru, Fatah dan Hamas mengumumkan kesepakatan rekonsiliasi. Kedua faksi akan mencoba untuk membentuk pemerintah persatuan dalam beberapa minggu mendatang.

Sebelumnya, Hamas dan Fatah saling bersitegang, puncaknya pada 2007 lalu. Sementara, perjanjian rekonsiliasi yang dihasilkan di masa lalu belum pernah dilaksanakan.

Rekonsiliasi Hamas-Fatah terjadi di tengah perjanjian perdamaian antara Presiden Palestina Mahmoud Abbas dengan pihak Israel. Pihak negeri zionis pun 'ngambek', tak mau menghadiri sesi negosiasi yang dijadwalkan Rabu malam waktu setempat.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sejak lama mengultimatum Abbas, memintanya tegas memilih: berdamai dengan Israel atau Hamas.

"Anda hanya bisa memilih salah satu. Saya harap ia (Abbas) memilih perdamaian (dengan Israel), sejauh ini ia tak melakukannya," kata Netanyahu.

Israel, juga Amerika Serikat dan Uni Eropa menganggap, Hamas sebagai 'organisasi teror'. Sementara pihak berseberangan berpendapat, kelompok yang berpusat di Gaza itu adalah pejuang pembebas Palestina.

Sementara, para pejabat Palestina menegaskan, rekonsiliasi adalah persoalan internal. Dan bahwa membuat rakyat Palestina bersatu akan memperkuat perdamaian.

Dalam pernyataannya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan, "Tak ada hal berbenturan antara rekonsiliasi dan pembicaraan damai" dan bahwa Palestina tetap berkomitmen mewujudkan perdamaian  atas dasar solusi dua negara.

Sebelumnya, Abbas mengirimkan delegasi ke Gaza untuk pembicaraan damai awal pekan ini.

Selanjutnya, dua faksi akan membentuk pemerintahan bersatu sementara, yang dipimpin Abbas, dalam 5 minggu dan kemudian menggelar pemilu legislatif dalam waktu 6 bulan. sumber : liputan6.com
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016