News Update :

Tipe-tipe Pemilih, Yang Manakah Anda?

Jumat, 28 Februari 2014

Para caleg saat ini sangat sibuk menyambut pemilu. Berbagai cara dilakukan untuk menarik minat dan simpati masyarakat. Baliho sudah memenuhi sudut-sudut kota, plus ajakan untuk memilih calon yang bersangkutan. Ada bermacam model baliho, menyandingkan gambar caleg dengan tokoh besar, slogan-slogan yang mudah diingat dan banyak macam yang lain. Bagi-bagi kartu nama dan kalender juga tengah berlangsung. Mungkin setiap rumah, dimasa-masa seperti ini bisa memiliki 3-4 kelender dengan wajah caleg yang berbeda-beda.

Untuk meyakinkan masyarakat, para caleg rajin terjun langsung ke masyarakat dan berharap semua pemilih di Daerah Pemilihan (DP-Dapil)-nya mengenal caleg tersebut. Kunjungan kebalai pengajian, sosialisasi ke rumah-rumah, program angkat sampah gratis. Bahkan giat mengirimkan papan bunga yang bertuliskan nama caleg dan nomor urut ke berbagai acara.

Dapat kita perhatikan bahwa pada masa inilah wajah-wajah yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, tiba-tiba muncul dan aktif berada di tengah-tengah masyarakat. Setiap caleg memiliki cara tersendiri agar namanya dikenal di masyarakat sehingga berimplikasi kepada jumlah suara yang akan didapatkan nantinya.

Namun setiap pemilih juga mempunyai pertimbangan-pertimbangan tersendiri yang menjadi alasannya dalam menentukan pilihan. Studi voting behavior menjelaskan hal ini. Dalam menganalisa karakteristik pemilih, Muhamad Asfar (2006:137) mengklasifikasikan pemilih kedalam empat jenis/tipe, yaitu pemilih rasional, pemilih kritis, pemilih tradisional dan pemilih skeptis. Berada dalam jenis pemilih manakah anda?

Pemilih Rasional adalah pemilih yang menjatuhkan pilihan didasari oleh kepada pertimbangan terhadap kemampuan caleg dan parpol tertentu dengan melihat visi-misi, track record dan program kerjanya. pemilih rasional tidak begitu mementingkan ideologi yang diusung oleh suatu parpol atau caleg. Pemilih kritis adalah pemilih yang memilih seorang caleg atau parpol dengan melihat ideologi yang diusung caleg dan partai tersebut. Pemilih kritis akan selalu kritis dalam menganalisis kaitan antara ideologi partaidengan kebijakan yang akan dibuat apabila parpol atau calon memenangkan pemilu. Artinya, sebelum memilih, pemilih akan melihat ideologi parpol atau caleg untuk kemudian memperkirakan kebijakan apa yang akan dihasilkan nantinya.

Selanjutnya, pemilih tradisional. Yaitu pemilih yang mengutamakan kedekatan sosial budaya, asal-usul, paham, dan agama sebagai alasan untuk memilih parpol atau caleg tertentu. Pemilih jenis ini sangat mudah di mobilisasi dam memiliki loyalitas yang tinggi karena menganggap dirinya berasal dari budaya,asal-usul, dan paham yang sama dengan parpol atau caleg tertentu. Yang terakhir adalah pemilih skeptis. Pemilih jenis ini tidak memiliki orientasi ideologi tertentu, dan tidak begitu mementingkan pemilu. Kalaupun mereka berpartisipasi, mereka berkeyakinan bahwa hasilnya akan sama saja dan tidak akan membawa perubahan yang berarti.

Dari keempat jenis pemilih diatas, menjadi pemilih rasional adalah yang terbaik. Pendekatan rational choice mengasumsikan bahwa manusia adalah seorang pemilih yang rasional. Ketika kita dihadapkan pada beberapa jenis pilihan, biasanya kita cenderung memilih pilihan yang akan menghasilkan hasil yang terbaik buat kita (David Marsh & Gerry Stoker, 2002:76-77).

Pemilih yang rasional mendasari pilihannya dengan alasan penilaian terhadap visi dan misi caleg, track record dan program kerja caleg tersebut. Namun kita sering mengalami kesulitan untuk melakukan penilaian. Hal ini dikarenakan minimnya sosialisasi visi misi dan program kerja kepada masyarakat. Sejumlah caleg justru hanya sering terlihat wajahnya ketika masa-masa kampanye saja.

Kemunculan caleg secara tiba-tiba akan memunculkan anggapan bahwa caleg tersebut hanya ingin cari dukungan saja. Dalam pandangan saya, seorang caleg seharusnya memiliki modal sosial yang besar. Artinya seorang kandidat memang harus terlibat langsung dalam masyarakat sebelum ia menjadi caleg. Sehingga, ketika ia menjadi caleg, namanya memang sudah di kenal dan tidak terlalu sulit untuk menaikkan popularitasnya.

Selain penilaian terhadap visi misi dan program kerja, pemilih rasional juga harus melakukan penilaian terhadap track record calon. Gittelson, Dubley, dan Dubnick (1996) menyatakan bahwa penilaian track record caleg diperlukan untuk memprediksi pemerintahan di masa yang akan datang. Melalui penilaian ini, kita dapat melihat kualitas kepemimpinan seorang caleg saat ia memerintah sebelumnya.

Ketidakpuasan terhadap sistem politik menyebabkan jenis pemilih rasional sangat sulit ditemui. masyarakat cendrung apatis menanggapi pemilu yang akan berlangsung. Umumnya, muncul anggapan bahwa siapapun yang terpilih nanti, tidak akan banyak perubahan berarti. Anggapan ini tidak salah, melihat banyaknya caleg yang ingkar terhadap visi-misi mereka setelah terpilih dan menduduki kursi legislatif. 

Penyampaian visi-misi hanya dikenal sebagai kebohongan dan janji-janji palsu. Sikap apatis masyarakat ini menjadi satu tantangan tersendiri yang harus dihadapi para caleg ketika melakukan kampanye. Hal ini terkait dengan sulitnya meyakinkan masyarakat agar mau memilih mereka pada pemilu nanti. Oleh karena itu, para caleg harus berbenah diri untuk mendapatkan keprcayaan dari masyarakat. Mereka harus benar-benar menyadari bahwa amanah adalah hal yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya kepada masyarakat, tapi juga kepada Allah SWT.

Bagi saya, kekecewaan ini harusnya menjadi motivasi yang besar untuk masyarakat agar benar-benar serius dalam menentukan pilihan yang terbaik dengan menjadi pemilih rasional. Harapannya adalah agar kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan terdahulu, tidak terjadi lagi di masa mendatang. | AT | IS |

Penulis: Cut Maya Aprita Sari S. Sos, M. Soc. Sc
Staf pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Syiah Kuala
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016