
Bireuen | acehtraffic.com - Satu unit mobil extrail B 1580 UFD, yang disopiri Martunis (35),
warga Desa Ribee, Grong-Grong, Pidie, terbakar usai menabrak kedai
kelontong milik Bachtiar (47).
Kecelakaan maut tersebut terjadi di jalan nasional Medan-Banda Aceh,
kawasan Desa Blang Kubu, Peudada, Bireuen, Sabtu 22 Februari 2014 sekira
pukul 16.00 WIB.
Sebagaimana diberitakan Serambinews.com di lokasi kejadian menyebutkan, akibat kejadian itu, pemilik kedai kelontong, Bachtiar mengalami luka bakar.Sedangkan supir mobil extrail Martunis selamat. Sementara lima penumpang mobil tersebut mengalami luka-luka. di lokasi kejadian, selain mobil yang terbakar, seluruh isi kedai kelontong juga jadi abu.
Sebagaimana diberitakan Serambinews.com di lokasi kejadian menyebutkan, akibat kejadian itu, pemilik kedai kelontong, Bachtiar mengalami luka bakar.Sedangkan supir mobil extrail Martunis selamat. Sementara lima penumpang mobil tersebut mengalami luka-luka. di lokasi kejadian, selain mobil yang terbakar, seluruh isi kedai kelontong juga jadi abu.
Akibat kejadian tersebut jalan nasional Medan-Banda Aceh, kawasan Desa Blang Kubu, Peudada, Bireuen, mengalami kemacetan dari dua arah hingga mencapai satu kilometer.
Kemacetan tersebut terjadi, karena lima unit armada pemadam kebakaran bersama petugasnya memadamkan api yang membakar mobil extrail dan kedai kelontong tersebut. Selain itu, ratusan warga dan pelintas memadati lokasi kecelakaan dan kebakaran tersebut.
Beberapa petugas dari Kepolisian Sektor (Polsek) Peudada dan anggota Koramil Peudada, tampak mengatur arus lalulintas di jalan nasional tersebut. Kendaraan yang datang dari arah Banda Aceh ke Medan maupun sebaliknya, terjebak macet. Mereka harus sabar antrian dan secara bergantian melintas agar kemacetan dapat terurai. Namun hingga kini kemacetan masih terjadi | AT |
Beberapa petugas dari Kepolisian Sektor (Polsek) Peudada dan anggota Koramil Peudada, tampak mengatur arus lalulintas di jalan nasional tersebut. Kendaraan yang datang dari arah Banda Aceh ke Medan maupun sebaliknya, terjebak macet. Mereka harus sabar antrian dan secara bergantian melintas agar kemacetan dapat terurai. Namun hingga kini kemacetan masih terjadi | AT |
