News Update :

ACEH

POLITIK

NUSANTARA

Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Kejaksaan Ingatkan Kerawanan Penggunaan Dana Desa

Jumat, 25 Agustus 2017

acehtraffic.com- Jaksa Agung Muda Intelijen Adi Toegarisman mengatakan, kejaksaan berkomitmen untuk mencegah adanya penyalahgunaan dana desa oleh perangkat daerah. Hal ini ditandai dengan adanya sosialisasi dana desa yang dilakukan kejaksaan se-Indonesia ke desa-desa.

Tujuannya yakni mengedukasi kepala desa agar dana tersebut digunakan sesuai peruntukan.

"Untuk menghindari penggunaan yang tidak semestinya, pelanggaran hukum, dan tujuan tidak tercapai, maka kejaksaan melaksanakannya secara serentak pada hari ini," ujar Adi di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (24/8/2017).

Adi mengatakan, dana desa yang digelontorkan pemerintah jumlahnya tidak sedikit. Oleh karena itu, penegak hukum harus memastikan dana tersebut tepat sasaran.

Adapun materi sosialisasinya yakni terkait tujuan pemerintah memberi dana desa, mekanisme penyaluran, penggunaannya, hingga melaporkan jika menemukan kecurangan dalam penggunaannya.

"Sehingga proses penggunaan dana desa oleh masing-masing kepala desa dilaksanakan dengan benar, tidak ada penyimpangan dan tujuannya tercapai," kata Adi.

Kejaksaan juga mengingatkan kerawanan penggunaan dana desa dan celah-celah penyelewengannya. Misalnya, dana desa digunakan di luar rencana oembangunan prioritas. Ditemukan juga kasus penggunaan dana desa yang anggarannya sudah masuk anggaran daerah sehingga ada anggaran ganda.

"Termasuk ada kegiatan fiktifnya. Itu kita ingatkan," kata Adi.
Kejaksaan mulai gencar melakukan sosialisasi dana desa tak lama setelah adanya tangkap tangan di Kejaksaan Negeri Pamekasan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kepala Kejaksaan Negeri Pamekasan Rudi Indra Prasetya diduga menerima suap untuk menghentikan penanganan kasus korupsi penyelewengan dana desa.
Awalnya, sejumlah lembaga swadaya masyarakat melaporkan dugaan penyimpangan anggaran dalam proyek infrastruktur senilai Rp 100 juta yang menggunakan dana desa.

Anggota LSM melaporkan Kepala Desa Dassok, Agus Mulyadi, ke Kejaksaan Negeri Pamekasan. Laporan itu sempat ditindaklanjuti Kejari Pamekasan dengan melakukan pengumpulan bahan dan keterangan. Tetapi, diduga ada komunikasi beberapa pihak di Kejari dan Pemkab Pamekasan.

Dalam pembicaraan antara jaksa dan pejabat di Pemkab Pamekasan, disepakati bahwa penanganan kasus akan dihentikan apabila pihak Pemkab menyerahkan Rp 250 juta kepada Kajari Pamekasan.

Bupati Pamekasan Achmad Syafii ingin agar kasus tersebut dihentikan dan menganjurkan untuk menyuap jaksa. Ia juga ikut berkoordinasi untuk menurunkan angka yang disepakati sebesar Rp 250 juta. Akan tetapi, Kepala Kejari menolak menurunkan angka pemberian yang telah disepakati. (kompas.com)

Acehbaru.com Tulis Listrik Kedongdong Bersinar Ke Jakarta, Gelap di Tampur Paloh

Senin, 22 Mei 2017

“Kami saat ditanya orang di Kota sana terbingung-bingung, mereka membaca di media massa listrik kedondong udah bisa menerangi desa kami, padahal belum dirasakan masyarakat,”ujar Hasbi seorang tokoh masyarakat yang kebetulan bertemu acehbaru.com.
Maka tak heran harapan itu kemudian mereka alihkan untuk sumber listrik yang memungkinkan seperti pembangkit listrik tenaga air sederhana yang dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH).  Warga Tampor Paloh sempat bergembira, saat tahun 90-an pemerintah membangun PLTMH di desa tetangga mereka Tampur Boor, namun tenaga listrik yang mengandalkan sumber air terjun tersebut hanya mencukupi satu desa saja, sementara untuk desa Tampur Paloh tak kecukupan arus. Akhirnya mereka harus bersabar lagi.
BACA JUGA :
Sambil menunggu layanan alat penerangan yang dibangun pemerintah, warga memilih alternative sendiri, bagi yang memiliki cukup uang, mereka membeli mesin diesel merek Dongfeng kemudian merakit menjadi mesin Genset, dengan cara itulah mereka menerangi rumah sendiri dan menolong tetangga jika ada hajatan. “ Ya kami sudah lama pakai Genset,”katanya.
Musibah besar banjir bandang 26 Desember 2005 lalu mengoyak kehidupan warga Tampur Paloh dan sejumlah desa lain yang berada di hulu Sungai Tamiang itu, desa mereka yang awalnya berada di bahu sungai disapu air bah yang datang di malam buta desember itu, rumah–rumah hanyut, daratan menjadi sungai.
Pasca itu seluruh penduduk direlokasi ke daerah perbukitan, pemerintah membantu mereka dengan dana swakelola untuk membangun rumah, sementara untuk penerangan masih tetap seperti biasa. Bagi yang tak memiliki uang melanjutkan menggunakan penerangan lampu teplok, sementara yang memiliki uang membeli lagi mesin Genset.
BACA JUGA :
Setelah tujuh tahun berlalu, tepatnya tahun 2012 pemerintah Propinsi Aceh memberikan bantuan listrik tenaga surya. Bantuan ini membuat desa itu meriah pada malam hari, meskipun saat itu juga terjadi gejolak sosial karena bantuan tidak mencukupi untuk semua warga.
Namun 3 tahun kemudian masalah lain datang, sejumlah bateray yang berfungsi menyimpan arus mulai rusak, sementara untuk mengantikannya membutuhkan waktu, kecuali satu dua orang.
Sementara sejumlah warga lain butuh waktu yang lama mengumpulkan uang dari bekerja serabutan, buruh angkat balok, pencari burung dan pekebun itu. “Memang uang delapan ratusan ribu tidak banyak, tapi untuk mengumpulkan capek juga, kecuali ada panen cabe saat harga mahal, waktu panen cabai kemarin banyak yang ganti Bateray,”sela seorang bapak yang lain.
Harapan baru datang lagi untuk warga desa Tampur Paloh, perusahaan migas Pertamina EP Rantau Field memperkenalkan listrik dengan energi pohon kedondong pagar (Spondias Dulcis Forst) temuan seorang pelajar MTs di Kota Langsa. Pertamina melalui program CSRnya memasok 1 truk batangan Kedondong, kemudian dibagikan kepada masyarakat, batangan pohon yang masih berukuran kecil diminta untuk ditanam, sementara yang sudah berdiameter 25 cm langsung dilakukan uji coba penyambungan untuk tenaga listrik. Dua rumah untuk tes pertama. Sementara 28 rumah yang lain terus dipasang instalasinya sambil menunggu tumbuhnya pohon dan tersedianya pohon tambahan.
Hasilnya ?
Sebut saja salah satunya di rumah ibu M (30), sejak disambung hingga sekarang belum dapat digunakan untuk menerangi, dua bola lampu jenis emergency merek Hannoch yang tertempel diruang tamu hanya nyala sebentar, itupun biasanya setelah didatangi tenaga teknis yang dibawa staff Pertamina. “Biasanya nyala bila ada kunjungan para petinggi Pertamina dan datang wakil Bupati kemarin, habis itu padam lagi,” tambah seorang warga lain yang tak mau disebut namanya saat acehbaru.com berkunjung kesana.
Penambahan pohon terus dilakukan pihak Pertamina, salah satu cara dengan meminta masyarakat mencari pohon Kedondong yang berada di hutan sekitar desa, sebagai imbalan Pertamina menghargai perbatang Rp. 25 ribu. Namun hingga saat ini warga enggan melakukannya. “Mungkin karena tidak yakin, buktinya dua rumah yang telah dipasang ini, belum bisa berfungsi untuk menerangi,”ungkap Hasbi.
Menjelang magrib, gemuruh genset dimulai  yang kemudian diikuti nyala terang listrik di beberapa rumah warga, sebagai penanda adanya kehidupan di Tampor Paloh. Untuk menghemat biaya penerangan malam hari, genset dihidupkan hanya sampai pukul 23.00 malam.
“Tepat pukul 23.00 malam, gemuruh suara dang… ding… dong.. genset terhenti. Semuanya kembali gelap.”Pungkas Hasbi (SUMBER ACEHBARU.COM)

Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Medan Diduga Masih Terkait Keluarga Istri Korban

Rabu, 12 April 2017

Medan | acehtraffic.com -- Polda Sumatera Utara menetapkan satu terduga pelaku pembunuhan sadis sekeluarga di Jalan Mangaan Gang Banteng, Mabar, Medan Deli, Medan. Saat ini, dia telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan masih diburu polisi.

Wakapolda Sumut Brigjen Agus Andrianto mengatakan, calon tersangka dalam pembunuhan tersebut berinisial AL (34 tahun), warga Jalan Pembangunan II, Sekip, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut. Dia diketahui masih merupakan kerabat korban.

"(Korban) masih ada hubungan keluarga dengan istri (pelaku) AL," kata Agus di Mapolda Sumut, Selasa (11/4).

AL diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan setelah petugas menemukan sejumlah barang bukti dari rumahnya di Jalan Pembangunan II, Sekip, Lubuk Pakam. Petugas memang telah melakukan penggeledahan di rumah tersebut hari ini, Selasa (11/4).

Dari dalam rumah tersebut, petugas menemukan sejumlah barang milik korban. Di antaranya, empat ponsel milik para korban, satu laptop milik korban Naya, STNK sepeda motor atas nama korban Riyanto, dan beberapa barang lain.

AL pun diduga tidak sendirian dalam melakukan aksinya. Polisi memastikan pelaku pembunuhan itu lebih dari satu orang. "Berdasarkan keterangan saksi, pelaku lebih dari satu orang," ujar Agus.

Agus mengatakan, hingga saat ini, penyidik belum mengetahui motif pembunuhan karena AL belum tertangkap. Menurutnya, berbagai dugaan diselidiki untuk menguak kasus tersebut, termasuk adanya indikasi sengketa keluarga terkait harta warisan.

Namun, Agus mengatakan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), kejadian itu diduga berlatar dendam. "Kalau sampai anak empat tahun pun dibuat seperti itu kondisinya, patut diduga kejadian ini bermotif dendam," kata dia.

Polda Sumut telah menerbitkan daftar pencarian orang (DPO) yang sudah dikirimkan ke Mabes Polri untuk kemudian disebar ke seluruh Polda di Indonesia. Selain itu, Agus mengatakan, pihaknya juga meminta dan memperingatkan AL untuk dapat segera menyerahkan diri. "Kami mengimbau yang bersangkutan untuk menyerahkan diri," ujar Agus.

Seperti diketahui, lima orang yang merupakan satu keluarga ditemukan tewas bersimbah darah di rumah mereka di Jl Mangaan Gang Banteng, Mabar, Medan Deli, Medan, Ahad (9/4) pagi. Lima korban pembunuhan tersebut, yakni pasangan suami istri Riyanto (40) dan Sri Ariyani (40), kedua anak mereka, Naya (14) dan Gilang (8) serta mertua Riyanto, Sumarni (60).

Mereka ditemukan tewas dengan luka akibat senjata tajam. Sementara putri bungsu pasangan Riyanto dan Yani, K (4), selamat dalam pembantaian tersebut. Saat ini, kondisi balita malang yang sempat kritis itu terus membaik dan masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Medan. (republika)

Sakit, Sutan Bhatoegana Sangat Kurus

Senin, 14 November 2016

acehtraffic.com- Direktur Eksekutif PT Duta Politika Indonesia (DPI), Dedy Alamsyah Mannaroi mengunggah foto politisi Partai Demokrat sekaligus Mantan Anggota DPR RI Sutan Bhatoegana.
Sutan terlihat sangat kurus. Ia berada di atas tempat tidur Rumah Sakit. Ia tampak bersama Anggota Majelis Tinggi DPP Partai Demokrat, Max Sopacua
Dedy pun menulis status: 
Sepi rasanya pentas politik tanpa ocehan lepasnya. Kesehatan itu mahal, Bang Sutan Batoegana sudah memberikan pelajaran untuk kita semua.Siapapun abang, apapun masalah yang abang perbuat.Tuhan anjurkan untuk saling mendoaka sesama ciptaannya.Semoga cepat sembuh bang...
Terpidana korupsi APBN 2013 di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sutan Bhatoegana dilarikan ke rumah sakit (RS). Dia dirawat di sebuah RS di Bogor karena sakit liver, Sabtu (12/11/2016).
Sutan telah dirawat di RS di Bogor sejak 2 pekan yang lalu. Namun kondisi Sutan hingga kini sudah membaik. 
Sutan sebelumnya juga pernah dirawat di RS Medistra pada (11/10/2016) dan RS Hermina Bandung dengan penyakit yang sama.
Sutan dihukum 12 tahun penjara karena terlibat kasus suap di SKK Migas. Awalnya mantan Ketua Komisi VII DPR itu dihukum 10 tahun penjara, namun oleh MA diperberat menjadi 12 tahun penjara. (Tribune makassar)

Ini Kata IPW Soal Polisi Bersorban

Kamis, 03 November 2016

Jakarta | acehtraffic.com -- Indonesia Police Watch (IPW) mengecam rencana Polri yang akan menurunkan aparat kepolisian yang bersorban dan berpeci dalam pengamanan aksi demo ormas Islam, Jumat (4/11). IPW menilai pengerahan pasukan khusus tersebut dinilai terlalu berlebihan.

"Polri harusnya tetap profesional dan proporsional dalam menjalankan tugasnya menjaga keamanan masyarakat," ujar Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane di Jakarta, Rabu 2 Nov 2016

Neta menuturkan, dalam situasi apapun Polri harus mampu menjaga profeaionalismenya dan juga proporsional. "Artinya, sesuai SOP, dalam menjaga keamanan Polri hanya bisa melakukan keamanan terbuka dengan pakaian seragam dan pengamanan tertutup dengan pakaian preman. Tidak ada ketentuan bahwa anggota Polri diperbolehkan mengenakan sorban atau peci dalam menjaga keamanan," kata Neta.

Menurut Neta, anggota Polri merupakan anggota kepolisian nasional dan bukan anggota polisi keagamaan tertentu. Kata dia, jika terjadi bentrok dalam aksi demo itu akan muncul kesan bahwa massa keagamaan tertentu bentrokan dengan polisi keagamaan tertentu. "Ini akan merusak bangsa Indonesia ke depan," kata Neta.

IPW menilai, rencana Polri menurunkan polisi bersorban tersebut semakin mantap setelah dilakukan gelar pasukan di Monas, di mana sejumlah polisi berjubah dan bersorban muncul. Hal ini, kata dia, semakin menunjukkan bahwa Polri seakan mengakomodir aksi demo 4 November.

"Padahal Polri seharusnya tetap menjadi polisi yang berwawasan negara kesatuan Inonesia, yang profesional dan proporsional serta jangan diseret-seret ke dalam isu maupun konflik SARA dan jangan terjebak ke dalam warna agama tertentu. Sebab, jika Polri larut dalam isu tersebut, internal Polri sendiri yang akan terpecah dengan isu dan konflik SARA," jelas Neta.

Neta menambahkan, dalam menyikapi isu demo 4 November itu Polri juga sangat grogi dan kebingungan. Hal ini, kata dia, ditandai dengan adanya perintah tembak ditempat dan akan memakaikan rok bagi polisi yang tidak berani melakukan tembak ditempat tersebut. Walaupun, pernyataan itu dibantah oleh Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan.

"Kemudian akan menurukan polisi berjubah dan bersorban. Padahal, hal itu akan sangat merugikan Polri, apalagi jika polisi yang berjubah dan bersorban itu menjadi korban, jika terjadi bentrok. Untuk itu IPW mendesak agar Polri membatalkan rencananya untuk menurunkan polisi berjubah dan bersorban. IPW tetap berharap Polri tetap profesional dan proporsional dan jangan lebay," kata Neta. (republika)

Sedihnya Nasib Warga Miskin Jakarta Dibawah Ancaman Buldozer Ahok

acehtraffic.com | Jakarta- Penggusuran. Frasa ini kerap kita didengar beberapa waktu belakangan, khususnya bagi masyarakat Jakarta.

Musababnya tak dapat dilepaskan dari langkah Pemerintah Provinsi Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang melakukan penggusuran di berbagai titik di ibu kota. Berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum Jakarta yang mengutip APBD DKI Jakarta dan Rancangan RDTR 2016, terdapat 325 lokasi yang bakal digusur.

Perinciannya, 55 lokasi di Jakarta Barat, 54 lokasi di Jakarta Utara, 57 lokasi di Jakarta Pusat, 82 lokasi di Jakarta Timur, dan 77 lokasi di Jakarta Selatan. Terbaru dan paling hangat tentu penggusuran di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal tersebut, Republika mewawancari pengacara Publik Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Alldo Felix Januardy, beberapa waktu lalu. Tujuannya adalah untuk memahami akar masalah penggusuran jika ditinjau dari sisi hukum. 

Di salah satu sudut ruangan di kantor LBH Jakarta di bilangan Jakarta Pusat, Alldo mengawali paparannya dengan mengutip penelitian Deden Rukmana, Associate Professor di Savannah State University. Dalam penelitian yang diunggah secara daring Februari 2015 itu, Deden meneliti penggunaan dan penyalahgunaan tata ruang DKI Jakarta pada kurun waktu 1985-2005.

Ditemukan pelanggaran tata ruang yang teramat banyak. Mulai dari mall, hotel, apartemen, hingga rumah tempat Ahok tinggal di Pantai Mutiara. Totalnya ada 9.700 hektare (detail penelitian bisa disimak di sini http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13563475.2015.1008723). 

“Bayangkan kalau penelitian ini diteruskan sampai 2012 saat Ahok kepilih dan dia bilang gak ada pelanggaran tata ruang. Tapi feeling saya kalau diteruskan akan lebih banyak lagi (pelanggaran),” ujar Alldo. Maka sebuah pertanyaan sederhana pun timbul.
Mengapa masyarakat miskin yang disebut sebagai pelanggar tata ruang digusur padahal pelanggaran serupa juga dilakukan mall dan lain-lain? “Karena ini legal,” kata Alldo.

Tata ruang
Ia pun menjelaskan soal tata ruang. Tata ruang ditetapkan via peraturan daerah (perda). 
Pihak-pihak yang terlibat adalah pemerintah (gubernur) dan wakil rakyat (DPRD). Jika saya adalah pengusaha, lanjut Alldo, maka saya punya akses kepada gubernur atau DPRD untuk mengubah peruntukkan tata ruang tersebut.

Hanya saja, UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memandatkan bahwa kota besar yang sehat kudu memiliki 30 persen ruang terbuka hijau (RTH). Berdasarkan data Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) DKI Jakarta, besaran RTH saat ini hanya 9,75 persen.

Dan jika diperinci, 25 persennya adalah pemakaman. “Jadi sebenarnya enggak terlalu berfungsi itu, tidak seperti danau atau taman. Siapa juga yang mau nongkrong di makam?,” Alldo berseloroh.

Oleh karena itu, dia menilai penggusuran yang dilakukan aparat pemerintah provinsi DKI Jakarta dibantu kepolisian dan TNI, merupakan bentuk kepanikan. Akibat perampasan RTH yang berlangsung bertahun-tahun, Pemprov tak berdaya untuk mengejar ketentuan 30 persen dalam beleid tersebut.

Hanya saja untuk menggusur mall dan kawan-kawan tidak dimungkinkan lantaran legal (ada sertifikat plus tata ruang yang telah disesuaikan). “Makanya yang menjadi sasaran adalah masyarakat miskin,” kata Alldo.

Ihwal penggusuran masyarakat miskin penghuni bantaran sungai seperti di Kampung Pulo, Pemprov punya dasar hukum, yaitu PP 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa sempadan sungai harus 15 meter. 

Padahal, pelanggaran-pelanggaran ini telah dilakukan sejak 1985 apabila mengacu pada penelitian Deden. “Itulah bentuk ketidakadilannya,” ujar Alldo.

Karut-marut
Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini menjelaskan dengan kondisi hukum yang demikian karut-marut, masyarakat miskin sebenarnya berhak dilindungi dari sisi hukum. Dalam KUH Perdata Pasal 1963 disebutkan ‘Seseorang yang dengan itikad baik memperoleh suatu barang tak bergerak, suatu bunga, atau suatu piutang lain yang tidak harus dibayar atas tunjuk dengan suatu besit selama dua puluh tahun, memperoleh hak milik atasnya dengan jalan lewat waktu.’ 

‘Seseorang yang dengan itikad baik menguasai sesuatu selama tiga puluh tahun memperoleh hak milik tanpa dapat dipaksa untuk menunjukkan alas haknya’. “Berarti setelah 30 tahun sudah menjadi hak milik,” ujar Alldo.

Jika demikian, maka Ibu Ici, sosok yang diwawancara Republika saat penggusuran Bukit Duri, jelas tidak dapat digusur. Sebab, Ibu Ici telah berada di titik itu selama lebih dari 30 tahun.

Namun, terdapat kendala lain. Menurut Alldo, seharusnya Ibu Ici mendaftar ke Badan Pertanahan Negara (BPN) untuk memperoleh sertifikat atas namanya. 

Dengan begitu, tatkala pemerintah hendak menggusur, negosiasi menjadi seimbang. Jika tidak, maka tidak seimbang karena ketiadaan sertifikat. 

Belum lagi deretan fakta bahwa masyarakat kerap dipersulit oleh BPN. “Dan waktu di Kampung Pulo, Bukit Duri, memang demikian kasusnya,” kata Alldo. 

Ada satu hal lain yang tak kalah penting. Sebelum menerbitkan satu sertifikat tanah, perlu syarat administratif yang mutlak dan tidak akan pernah didapatkan oleh orang miskin karena tidak punya akses. 

Surat keterangan riwayat tanah dan surat keterangan tidak sengketa dari lurah setempat. Lurah jelas adalah aparat Pemprov DKI Jakarta dan merupakan hasil lelang jabatan.

“Jadi misalnya lurah mengeluarkan dua surat keterangan itu bahwa ada orang miskin yang mau mendaftarkan tanah, bisa-bisa dicopot oleh gubernur dan tidak bisa menjadi lurah lagi. Bisa-bisa gubernur marah,” ujar Alldo. Dasar hukum yang lain adalah UU Perbendaharaan Negara. 

Pemerintah kerap menggunakan dalih tanah negara untuk menggusur. Apabila di masa Belanja, tanah yang tidak mempunya sertifikat dijadikan tanah negara.

Hal ini wajar karena pemerintahan Belanda kolonial. Sebab, saat itu, masyarakat tidak punya sertifikat plus bukti jual beli sehingga lekas dicaplok untuk kemudian dijadikan perkebunan, dan lain-lain.

Akan tetapi, sejak 2004, dalam UU yang sama, terdapat syarat penting. Disebutkan tanah yang dikuasai pemerintah pusat/daerah harus disertifikatkan atas nama pemerintah Indonesia/pemerintah daerah yang bersangkutan. 

Untuk apa sertifikat itu? Alldo menjelaskan, pada Pasal 19 UU Pokok Agraria, untuk menjamin kepastian hukum diadakan pendaftaran tanah. 

“Ibaratnya begini. Supaya pemerintah sama warga sejajar posisinya. Kalau kamu sama-sama mau tanah, kamu harus punya sertifikat. Cuma persoalannya, klaim-klaim pemerintah terhadap penggusuran cuma daftar inventarisasi. Ya enggak bisa lah. Hukum bilang di UU Perbendaharaan Negara dan UU Pokok Agraria, itu belum milik kamu kalau belum mendaftarkan,” katanya menjelaskan.

Faktanya, lanjut Alldo, masih banyak tanah Pemprov DKI Jakarta yang belum disertifikatkan. Jumlahnya mencapai 20 persen dari total luas wilayah ibu kota.
“Segitu buruknya inventarisasi aset pemprov DKI Jakarta. Ahok pernah mengakui itu,” ujarnya. 

Hukum majal
Sekarang kembali lagi ke situasi bahwa hukum tidak bisa diandalkan. Sebab, sertifikasi buruk. Pelanggaran tata ruang di masa lampau.

Masyarakat miskin bisa punya hak mendapatkan tanah, tapi proses yang tidak ideal di BPN. Maka jalan kekerasan yang ditempuh Pemprov DKI Jakarta menjadi haram hukumnya.
Sebab, masyarakat miskin merupakan korban diskriminasi hukum. “Kalau mereka mengerti, tidak ada gusur-gusuran begini. Pakai tentara segala macam,” cetus Alldo. 

Dia menambahkan, hukum penggusuran sejatinya tidak pasti. Setidak-tidaknya ada lima dasar hukum, yaitu Kovenan Internasional Hak-hak Sosial, Ekonomi, dan Budaya, UU No 11/ 2005, UU No 26/2007, UU No 2/2012, UU No 28/2002, dan UU PrP 51 1960 tentang Penggunaan Tanah Tanpa Izin.

Karena begitu banyak aturan, maka Pemprov DKI tentu memilih jalan termudah, yakni PrP 51/1960. “Ini lagi kita review. Ibaratnya buat orang malas. Kalau buka UU Pengadaan Tanah (UU No 2/2012) untuk Kepentingan Umum, sedangkan UU PrP cuma enam pasal. Pada pasal empat itu caranya terserah pemerintah. Padahal UU ini diterbitkan dalam rangka menghentikan konflik horizontal. Dulu ada kelompok separatis. Jadi tanah itu dipakai militer untuk kebutuhan pertahanan. Persoalannya sekarang, sudah tidak relevan, tapi dipakai di hampir semua penggusuran,” kata Alldo menjelaskan.

Penggusuran Bukit Duri sejatinya merupakan pembuka jalan bagi pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, untuk normalisasi sungai. Maka seyogianya beleid yang dipakai adalah UU No 2/2012.

Akan tetapi, pemerintah enggan lantaran ruwet. Kudu musyawarah disertai ganti rugi memakai harga pasar. 

Pun tafsir UU tersebut tak secara tegas mengatakan harus pakai sertifikat. Juga tidak disebutkan secara tegas dikuasi atau milik.

Banyaknya aturan tadi membuat penggusuran dibedakan berdasarkan kasta. “Jadi yang miskin pakai ini (UU PrP), kalau yang kaya pakai UU 2012. Kasarnya begitu lah. Jadi, dalam proses penggusurannya, walau untuk kepentingan umum, ada diskriminasi hukum lagi. Ini (UU PrP) mau kita batalkan semua pasalnya karena tidak adil dan tidak kontekstual. Masa ibaratnya kalau dulu memperlakukan pemberontak, kalau konflik, tidak apa-apa. Cuma sekarang, kita gak lagi perang. Masa TNI turun buat gusur orang yang gak bawa senjata?,” ujar Alldo.

Sebagai pengacara publik LBH Jakarta, Alldo kerap menjumpai korban penggusuran. Fakta di lapangan jelas sekali hukum tidak bekerja.

Idealnya dalam situasi sengketa seperti itu. Kekarutmarutan hukum mengakibatkan pemerintah tidak menjalankan kewajibannya, masyarakat juga tak mendapatkan haknya.
Maka Alldo pun mengusulkan agar kasus pertanahan diselesaikan di pengadilan akibat adanya ketidakadilan tersebut. Akan tetapi, Ahok menuding LBH Jakarta provokator.

“Kita menyayangkan sikap beliau. Karena warga miskin ini, kita ngerti kita pengen sungai yang bagus, Cuma masalahnya gusur kayak gitu melanggar banyak sekali prosedur,” ujar Alldo. 

Rumah susun
Bagi korban penggusuran, Pemprov DKI memang menyediakan rumah susun. Penyediaan rusun jelas tidak diwajibkan dalam UU manapun. Hitam di atas putih pun tak ada.

Sampai tahap ini, lanjut Alldo, gubernur jelas baik hati. Akan tetapi persoalannya, pindah ke rusun sama saja mengulang komunitas dari awal.

Sementara banyak kampung yang tidak semunya dalam kondisi tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti di Bukit Duri terdapat pertanian organik, sangar balet, sanggar kesenian, dan lain-lain. 

“Komunitas seperti itu kan sayang kalau diulang dari awal lagi. Dan di rusun mereka sewa dua tahun-dua tahun. Berat. Itu sebabnya warga Bukit Duri memilih mengontrak yang tidak jauh dari situ karena kalau dipindahkan ke rawa bebek, aksesnya jauh bener. 

Transportasi gratis, tapi waktunya lama untuk mencapai ke sana. Jadi, rusun itu menyelesaikan masalah perumahan, tapi tidak menyelesaikan masalah kehidupan. Persoalannya di situ,” ujar Alldo. 

Kehidupan, lanjut dia, harus ada intervensi dari pemerintah. Persoalannya, begitu diletakkan di rusun, pemerintah lepas tangan.

“Kasarnya kalau masyarakat miskin yang mau tinggal di gerobak pun wajib KJP, transportasi gratis, dan lain-lain. Enggak perlu dipindahkan dulu ke rusun. Itu kewajiban negara karena warga miskin jadi tanggung jawab negara. Cuma sekarang dipelintir seolah-olah saya baik hati saya gratisin ini. Padahal itu kewajiban negara,” kata Alldo.

Jika penggusuran, pemerintah harus menyediakan solusi yang memadai. Misalnya rusun milik, bukan sewa. Ahok mengganti kebijakan gubernur pendahulunya, Fauzi Bowo, yang mengubah dari milik ke sewa. 

Misalnya di rusun Petamburan. Hanya saja tinggal di tengah kota jelas tidak murah. “Sedangkan ini korban penggusuran. Jadi mereka jual lagi,” kata Alldo.

Semua ini jelas kesalahan administrasi Fauzi Bowo karena seharusnya ada intervensi. Dan harus dipastikan orang yang beli orang yang tidak mampu juga atau dibeli sama Pemprov DKI Jakarta dengan harga NJOP.

“Cuma diambilnya malah radikal banget sama Jokowi-Ahok yaitu sewa. Kalau saya jadi warga mending cabut karena meski dibilang boleh ditempatin tujuh turunan, kalau saya enggak bayar sewa dua bulan, listrik dicabut, diusir. Setelah diusir, mereka pulang kampung atau cari tempat lain,” ujar Alldo. “Untuk kebutuhan kampanye memang bagus itu apartemen, KJP, dan lain-lain. Tapi, untuk kehidupan, tanggung jawab negara, ini perlu dievaluasi besar-besaran,” lanjutnya. 

Solusi-solusi yang ditawarkan budayawan Romo Sandyawan seperti kampong susun dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah banjir. Maka rusun sudah seyogianya untuk yang benar-benar home less.

Masih berlanjut
Ke depan, tren penggusuran masih akan terus berlanjut. LBH Jakarta menemukan 325 titik penggusuran pada tahun ini.

Namun belum tahu kapan dieksekusi. Pada tahun lalu, LBH Jakarta menangani 113 titik penggusuran dengan 8.000 kepala keluarga dan ribuan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Jika 300 titik, maka diperkirakan 20 ribu KK dan puluhan ribu UMKM akan jadi korban. Untuk PKL, jelas Alldo, tidak ada solusi.

Tidak semua direlokasi. Dari survei LBH Jakarta, PKL paling rentan tidak mendapatkan solusi apa pun. 

Tak seperti korban penggusuran. “Saya khawatir pemprov mewariskan masalah ke administrasi berikut. Atau dia mewariskan masalah ke pemprov lain karena penggusuran pada pulang kampong,” kata Alldo menutup pembicaraan. (sumber Republika.co.id) 

6 Perayaan Menarik di Thailand

Rabu, 22 Juni 2016

Thailand dikenal sebagai tujuan wisata paling populer di Asia Tenggara. Hal itu karena Anda dapat menemukan banyak tempat wisata di Thailand, baik wisata alam maupun wisata budaya. Dalam kunjungan wisata, kadangkala Anda akan menemukan berbagai macam tradisi, perayaan, atau festival di berbagai tempat di Thailand. 

Hal ini dilakukan oleh masyarakat Thailand untuk melestarikan budaya setempat agar tidak punah. Selain itu, hal ini juga merupakan ciri khas mereka agar dapat menarik para wisatawan untuk berkunjung. Adapun, beberapa perayaan di Thailand terangkum sebagai berikut.

1. Festival Loy Krathong
Perayaan ini diselenggarakan selepas musim hujan yang diperkirakan jatuh di bulan Oktober atau November. Festival ini termasuk salah satu festival yang paling terkenal di Thailand. Tradisi ini sudah dilakukan selama ribuan tahun yang lalu. Pada hari tersebut, orang-orang beramai-ramai menghanyutkan perahu yang terbuat dari daun pisang yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga dan lilin-lilin yang cantik. Perayaan ini dikhususkan sebagai bentuk pemujaan dewa air Phra Mae Khongka. Hal tersebut sebagai ucap syukur dan terima kasih atas kelimpahan yang didapat dalam setahun ini. Selanjutnya, akan ada ritual berdoa untuk mendapatkan kelimpahan serta keberuntungan di tahun berikutnya.


2. Festival Lampion Yi Peng
Langit malam begitu cerah dengan terbangnya ribuan lampion yang dilepaskan oleh warga Thailand maupun para turis. Saat menerbangan lampion, disarankan Anda memejamkan mata dan mengharapkan permohonan agar masalah yang Anda hadapi pergi bersama dengan terbangnya lampion. Selain itu, ada kepercayaan, jika sepasang kekasih menerbangkan lampion secara bersama-sama, niscaya hubungan mereka akan langgeng.
Festival ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan kepada sang Buddha. Acara keagamaan ini dirayakan di seluruh penjuru Thailand. Diselenggarakannya festival ini berdasarkan kepada kalender lunar. Oleh karena itu, perayaannya tidak setiap tahun hadir di tanggal yang sama dalam kalender masehi. Jika ingin mengunjungi Thailand untuk perayaan tersebut, alangkah baiknya Anda mencari informasi terlebih dahulu seperti membeli tiket pesawat. Anda dapat memilih penerbangan Thai Airways untuk sampai ke Bangkok. Untuk memesan tiket Thai Airways secara cepat dan mudah, bisa menggunakan layanan Traveloka.

3. Perayaan Waisak atau Visakha Puja
Perayaan ini diselenggarakan untuk memperingati kelahiran, pencerahan, dan kematian sang Buddha. Pada tiap negara, perayaan ini dilakukan dengan tradisi berbeda-beda. Untuk penduduk Thailand yang mayoritasnya beragama Budha, perayaan dilakukan di Bangkok dan berlangsung secara damai.

4. Songkran
Songkran adalah perayaan tahun baru Thailand. Biasanya perayaan ini dilakukan di bulan April, yaitu hari terpanas dalam satu tahun. Bentuk perayaannya, yaitu dengan berperang air. Air ini digunakan sebagai “pembersih” untuk memasuki awal tahun yang baru. Perayaan ini berlangsung selama 3 hari. Di seluruh penjuru Thailand, baik itu muda mudi atau orang tua, semua turut serta dalam berperang air.

Patung Budha di sekitar rumah juga dibersihkan sebagai tanda bahwa mereka akan memulai penghidupan yang baru. Warga Thailand juga memberi penghormatan kepada abu sanak saudara mereka yang telah meninggal dunia. Anda harus terima jika harus berbasah-basahan jika berada di Thailand saat berlangsungnya festival ini. Pemerintah Thailand menjadikan festival Songkran sebagai hari libur nasional. Jadi, semua orang bisa berpesta dengan bebas. Para gajah juga ikut serta dengan menyemprotkan air melalui belalainya dan berkeliling kota. Festival Songkran ini juga dilakukan di pantai dan mendapatkan antusias yang baik pula.

5. Sarta
Perayaan ini dilakukan untuk memberi persembahan makanan kepada nenek moyang yang telah meninggal dunia. Awal mulanya, Budha memberitahu bahwa para hantu yang kelaparan akan mengganggu ketentraman Raja Bimbisara. Oleh sebab itu, sang Raja memberi makan para biksu Budha. Biksu Buddha pun membalas dengan membacakan ayat suci untuk memberi rahmat dan semangat si hantu. Selama melakukan Sarta, orang-orang menyembah makanan yang sudah bercampur dengan madu lalu diberikan kepada biksu.

6. Tot Pha Pa

Perayaan ini dilakukan dengan memberikan kain jubah berwarna kuning yang biasa para biksu gunakan. Para biksu biasanya tinggal di dalam hutan. Jika warga tidak bisa menemui biksu, pakaian kuning itu akan ditaruh di dalam hutan. Kemudian, biksu tersebut akan keluar dan mengambil kainnya. (adv)

2 Maskapai Populer milik Uni Emirat Arab

Bagi anda yang suka bepergian ke luar negeri, tentunya anda sudah tidak asing dengan maskapai-maskapai milik negara lain. 

Nah, tahukah anda bahwa ada 2 maskapai milik Uni Emirat Arab yang sangat populer di dunia yakni Maskapai Emirates dan Etihad. Kedua maskapai ini memiliki destinasi Internasional ke berbagai negara termasuk Indonesia. Nah penasaran kan bagaimana kiprah kedua maskapai ini, berikut profil singkat kedua maskapai tersebut.

1. Maskapai Emirates
Maskapai ini berdiri tahun 1985 dan memiliki pusat penerbangan di Dubai. Hingga kini maskapai ini telah melayani 142 destinasi. Pesawat yang dioperasikan merupakan pesawat berbadan lebar seperti Airbus A 330/340, A 380 serta Boeing   777 dengan total pesawat lebih dari 200. Untuk kelas pesawat, maskapai ini menyediakan 3 pilihan berupa kelas ekonomi, bisnis, dan first class.

Menurut data dari situs resminya, maskapai ini telah memperoleh lebih dari 400 penghargaan bertaraf Internasional. Beberapa di antaranya seperti penghargaan ‘Ranking 1 Airline of the Year’ dari Skytrax yang diperoleh tahun 2001, 2002, dan 2013, kemudian masuk dalam 10 besar ‘Airline Excellence Awards’ tahun 2015 yang dirilis oleh situs Airline Ratings. Per 2014, maskapai ini menduduki posisi ke-4 sebagai maskapai terbesar yang paling banyak membawa penumpang Internasional. Tahun 2014, maskapai ini dikategorikan sebagai maskapai berbintang 4 oleh Skytrax.

Selain itu, maskapai ini juga aktif dalam berbagai sponsor terutama di bidang olahraga seperti menjadi sponsor penerbangan untuk tim-tim Formula One mulai tahun 2013. Emirates juga merupakan sponsor resmi dari klub sepakbola Arsenal (Premier League Inggris), AC Milan (Serie A Italia), Hamburger SV (Bundesliga Jerman), New York Cosmos (MLS Amerika), Paris Saint-Germain (League 1 Prancis), dan Real Madrid (Liga BBVA Spanyol) dan namanya terpampang di masing-masing jersey klub tersebut. Emirates juga merupakan pemegang hak atas nama Emirates Stadium milik Arsenal di London. Emirates sendiri memiliki rute penerbangan yang cukup lengkap mengarah ke timur tengah, bila dari Indonesia tiket Emirates bisa didapat dengan mudah dari situs Traveloka.

2. Maskapai Etihad
Maskapai ini berdiri tahun 2003 dan memiliki pusat penerbangan di Abu Dhabi. Hingga kini maskapai ini telah melayani sekitar 120 destinasi. Pesawat yang dioperasikan terdiri dari Airbus A320/321, A330/340, A380 serta Boeing 777 dengan total pesawat lebih dari 100. Untuk kelas pesawat, maskapai ini menyediakan 5 pilihan berupa The Residence (khusus pesawat A380) yang menyediakan fasilitas kamar untuk 1 hingga 2 orang dengan luas 125 kaki persegi. Fitur lain berupa 60.4 inch sofa untuk dua orang, 32 inch TV monitor serta kasur. 

Diklaim sebagai fasilitas paling mewah di udara. Kemudian ada kelas First Class Apartment (khusus pesawat A380) yang menyediakan total 9 kamar berukuran 39 kaki persegi ditambah dengan fitur 30.3 inch kursi dan 24 inch TV monitor. Lalu ada First Class Suite dengan fitur 26 inch kursi yang jika dimiringkan bisa menjadi kasur, meja makan serta 24 inch TV monitor. Tersedia juga lemari pakaian. Selanjutnya ada Business Studio dengan ukuran 22 inch kursi yang dapat dimiringkan menjadi kasur rata dan 18 inch TV monitor. Terakhir ada Economy Smart Seat dengan lebar tempat duduk 17-19 inch, 11 inch Touch Screen untuk sistem entertainment.

Menurut data dari situs resminya, penghargaan bergengsi yang diterima meliputi ‘World Best First Class’ tahun 2010 dari Skytrax, ‘World’s Leading Airline - First Class‘ tahun 2013 dari World Travel Awards, ‘World’s Top 10 Airlines’ dan maskapai berbintang 5 pada tahun 2014 dari Skytrax.

Untuk sponsor, maskapai ini juga menjadi sponsor klub sepakbola Manchester City (Premier League Inggris), New York City FC (MLS Amerika), dan Anorthosi Famagusta (First Division Cyprus). Etihad juga memegang hak atas nama Etihad Stadium milik klub Manchester City di kota Manchester. Selain itu, Etihad juga menjadi sponsor tim Formula One Scuderia Ferrari. (adv)

Ditutup, Apakabar Lokasi Meu Cruk-cruk Ini

Kamis, 25 Februari 2016

Bandung | acehtraffic.om- Wangi parfum tercium di udara saat Tempo menyambangi kawasan lokalisasi Saritem, di Bandung, Kamis sore, 25 Februari 2016. Rumah-rumah di daerah padat penduduk itu mulai ramai. Sejumlah wanita berpupur tebal mulai menebar pesona.

Saat memasuki kawasan tersebut, para calo mendekati Tempo. Mereka yang menghubungkan pelanggan dengan para pekerja seks komersial di sana. 

Setiap rumah memampang belasan PSK yang siap dipesan dengan kisaran umur mulai dari 20-30 tahun. Diperkirakan ada belasan rumah yang menampung PSK di lokalisasi tersebut.

Sambil mengitari lokalisasi tersebut, calo yang mengantar Tempo itu terus memberikan informasi mengenai harga dan watak setiap PSK. Ia hafal betul dari nama hingga harga yang dipasang oleh setiap PSK. "Sebagian di sini anak baru. Ada juga yang lama," ujar calo yang dirahasiakan namanya tersebut.

Ia mengatakan, tarif sekali kencan di Saritem sangat variatif. Mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu. Itu belum dengan harga menyewa ruangan untuk ekseskusi. "Untuk ruangannya bayar lagi. Paling murah Rp 40 ribu sampai yang paling mahal Rp 75 ribu," kata dia.

Di sepanjang gang tersebut nampak warga setempat berbaur dengan para pelaku bisnis esek-esek tersebut. Sejumlah warga pun nampak memanfaatkan lokalisasi tersebut untuk berjualan. Ada yang berjualan makanan, kopi hingga obat perkasa dan alat kontrasepsi. Nampak, tak ada kecanggungan diantara mereka untuk berbaur dengan para PSK.

Pemerintah Kota Bandung telah menutup lokalisasi Saritem tahun lalu. Namun hanya beberapa bulan, Saritem semarak lagi. Kawasan ini diduga telah berdiri sejak masa kolonial Belanda dan berkembang pesat setelah banyak pengusaha yang membuat losmen di sekitaran lokalisasi yang berada di dalam gang tersebut.

Pada tahun 2007, Pemkot Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Dada Rosada, secara resmi menutup lokalisasi tersebut. Pemerintah pada saat itu, telah membeli sejumlah lahan di Saritem, salah satunya dibuat untuk dijadikan pondok pesantren.

Namun, tak berlangsung lama lokalisasi tersebut kembali berdenyut. Ratusan pekerja seks komersial dan warga setempat kembali menggantungkan rezekinya pada Saritem.

Tak hanya itu, penertiban dalam skala besar pun kembali dilakukan pada tahun 2015. Saat itu, Polrestabes menjaring ratusan PSK dan belasan muncikari. Sejumlah PSK pun didata dan dikembalikan ke kampung halamannya.

Menanggapi masih berjalannya bisnis esek-esek di lokalisasi Saritem, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung Aji Sugiat mengatakan hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk pemerintah. Ia mengaku, pihaknya belum bisa memastikan apakah Saritem masih beroperasi atau tidak. "Ini nanti akan kami tangani secara menyeluruh. Tapi, tidak bisa sekaligus," kata Aji kepada Tempo, Kamis, 25 Februari 2016.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Bandung sudah menyerahkan sebagian PSK asal Saritem ke tempat penampungan sosial. Namun, ia belum bisa memastikan apakah eka PSK yang terjaring pada tahun 2015 tersebut kembali ke Saritem atau tidak. "Nanti akan kami lakukan pendataan lagi. Jadi, jangan sampai ada PSK yang sudah ditangkap kembali lagi," ujarnya.

Aji mengatakan, pihaknya bersama Satpol PP dan kepolisian akan menindak mereka terkait masalah prostitusi di Kota Bandung. "Kami sudah bentuk tim khusus yang dikepalai Satpol PP," kata dia. (sumber tempo.co)

Bawa Brimob Geledah Ruangan DPR, Kata Fahri Hamzah: Ini Kok Seolah-olah Kami di DPR Maling Semua

Minggu, 17 Januari 2016

acehtraffic.com- Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memprotes penggeledahan yang dilakukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi di tiga ruang kerja anggota DPR.

Fahri tak terima karena saat melakukan penggeledahan, penyidik KPK membawa empat anggota Brimob lengkap dengan senjata laras panjang.

"Ini kok seolah-olah kami di DPR ini maling semua," kata Fahri kepada salah satu penyidik KPK, HN Christian dengan nada tinggi.

Kemarahan Fadli ini terjadi saat Christian dan delapan penyidik KPK lainnya hendak menggeledah ruangan Wakil Ketua Komisi V Yudi Widiana dari Fraksi PKS, di lantai 3 Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (15/1/2016).

Ruangan Yudi digeledah terkait kasus dugaan suap yang menjerat Anggota Komisi V Fraksi PDI-P Damayanti Wisnu Putranti. (baca: Fahri Hamzah Adu Mulut dengan Penyidik KPK yang Geledah Ruang Anggota PKS)

Sebelum menggeledah ruangan Yudi, penyidik lebih dulu menggeledah ruangan Damayanti dan ruangan Anggota Komisi V Fraksi Golkar Budi Supriyanto.

"Penggeledahan kita enggak masalah, tapi kami mempersoalkan membawa senjata laras panjang ini. Kami minta bapak keluar dulu," ucap Fahri.

Fahri yang juga Politisi PKS ini tak menyebut peraturan apa yang tak memperbolehkan penyidik KPK membawa anggota Brimob saat melakukan penggeledahan. (baca: Fahri Minta Ruang Anggota PKS Dikunci, Penyidik KPK Sempat Tak Bisa Masuk)

Dia hanya menyinggung soal kesepakatan DPR periode lalu dengan Sutarman yang saat itu menjabat sebagai Kapolri.

Menurut dia, Sutarman sudah sepakat tak boleh ada aparat kepolisian bersenjata yang masuk ke Gedung DPR. (Baca: Ini Kronologi Tangkap Tangan Kasus Suap yang Libatkan Politisi PDI-P)
Namun, Christian menolak permintaan Fahri. Dia mengatakan, sudah mendapat izin dari Sekretaris Jenderal DPR dan Mahkamah Kehormatan Dewan untuk melakukan penggeledahan.

"Saya tidak mau keluar. Saya sudah mendapat izin dari DPR. Ini tugas negara," kata Christian juga dengan nada tinggi.

Akhirnya, Fahri yang ditemani anggota Komisi III DPR Nasir Djamil itu menyerah dan meninggalkan ruang fraksi PKS. (Kompas.com)

INTERNASIONAL

LINGKUNGAN

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016