![]() |
| Teuku Dani |
Banda Aceh | acehtraffic.com - Sejumlah kasus Narkotika yang sekarang menjadi issue publik Nusantara dengan Notabone pengendalinya ialah Bandar yang berasal dari Provinsi Aceh mulai terungkap .
Tertangkapnya sejumlah pengedar dan di temukannya pabrik sabu-sabu di Peureulak Aceh Timur dan Neusu Banda Aceh awal dari proses terkuaknya mata rantai dan jaringan Narkotika di Aceh.
dari pantauan Reporter acehtraffic.com Berkembangnya Narkoba di Aceh tidak terlepas dari permainan atau becking sang bandar baik dari oknum Aparat maupun dari Lembaga-Lembaga yang seharusnya melenyapkan dan membasmi barang haram tersebut.
Seperti halnya kasus terungkapnya sejumlah oknum pegawai Lembaga Permasyarakatan (Lapas) yang bekerja sama dengan Big Boss Narkoba yang sekarang mendekam di balik jeruji besi sampai bisnis peredaran sabu yang di mainkan Napi dengan menjadikan oknum pejabat Lapas sebagai perantaranya.
Tak selesai dengan itu, Belasan Kilo Gram sabu - sabu yang di temukan di Aceh Tamiang belum juga terungkap jaringannya dan siapa pemilik barang haram tersebut.
Teuku Dani seorang politikus asal Provinsi Aceh Kepada reporter acehtraffic.com Senin 26 Januari 2015, saat di jumpai di Air Port Internasional SIM, mengutarakan tentang peredaran Narkotika di Aceh sangat membahayakan masa depan para generasi pemuda - pemudi di Aceh.
Saya sangat mencurigakan bahwa produksi Narkotika sudah ada di Aceh, namun pihak Kepolisian baru mendapatkan temuan pabrik tersebut di Peureulak dan Neusu Banda Aceh, mungkin masih banyak tempat lainnya yang belum di temukan, menurut analisa saya secara pribadi tentang peredaran Narkotika di Aceh bisa jadi barang haram tersebut jenis sabu - sabut masuk ke Aceh melalui jalur laut, apalagi Aceh sangat dekat dengan Negara Thailand atau bisa jadi mereka melakukan transaksi di tengah laut.
Pencegahan Narkotika ini harus segera di lakukan dengan melibatkan berbagai pihak tidak mesti BNN saja, Pemerintah Aceh juga harus ikut andil dalam mensosialisasikan bahaya Narkoba, ini merupakan tugas kita bersama dalam menciptakan Provinsi Aceh anti terhadap Narkotika, saya yakin masyarakat Aceh tahu bahwa Narkotika bisa merusak kehidupan para generasi, apakah mereka itu yang masih berstatus siswa SLTP, SLTA dan Mahasiswa /i Aceh, di karnakan bahan pembuat sabu - sabu tersebut berasal dari zat - zat kimia yang sangat mematikan.
Saya sangat berharap dan menghimbau kepada pihak BNN untuk segera melakukan pemerikasaan Test Urine terhadap Karyawan Swasta, Pejabat Pemerintahan, TNI Polri dan juga Lembaga Permasyarakatan untuk mengetahui dan juga awal dari pembersihan biro Kepemerintahan di Indonesia yang lebih bersih.
Hampir 70 persen kerusakan moral pemuda/i bangsa ini di sebabkan oleh Narkoba, akibat dari kecanduan tersebut membuat pikiran mereka menjadi rusak dan lama - lama mereka menjadi gila dan kelakuan mereka dapat meresahkan kehidupan orang lain.
Sebagai tugas Pemerintah Aceh dan BNN bukan sekedar melakukan pembinaan terhadap mereka (Pengguna Narkotika) setelah mereka selesai di bina oleh BNN, bila mereka tidak di berikan Training Motivasi dan Pembedahan Pola Pikir sama juga mereka akan kembali menggunakan Narkoba, setidaknya Pemerintah Aceh harus memodalkan mereka untuk membuat usaha - usaha kecil melalui keterampilan atau keahlian menurut kemampuan (skill) yang mereka miliki.
Kita boleh membangun apa saja di Aceh, sedangkan moralitas pemuda/i yang telah rusak siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kerusakan masa depan mereka?
tandas Teuku Dani sembari tersenyum.
dengan cara tersebut mungkin bisa mengantisipasi gerak-gerik peredaran Narkoba, di karenakan bahan mahal tersebut sangat minim di miliki oleh rakyat miskin, cuma rakyat miskin di jadikan perantara untuk kebutuhan mereka yang mampu membelinya.| AT | BTM |

