News Update :

Penculik Bebaskan Sandera di Tempat Sepi

Kamis, 22 Januari 2015

MUHAMMAD Yani terbaring di rumahnya Desa Padang Sakti Kecamatan Banda Sakti Lhokseumawe karena masih trauma setelah dibebaskan kelompok bersenjata api yang menculiknya, Rabu (21/1).SERAMBI/JAFARUDDIN
Lhoksukon | acehtraffic.com – Kelompok bersenjata api (senpi) yang menculik Muhammad Yani (32), staf PT Salina Bersama di Desa Alue Lhok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Selasa 20 Januari pukul 00.30 WIB, akhirnya membebaskan sanderanya tanpa uang tebusan pada Rabu 21 Januari sekitar pukul 00.20 WIB.

Staf bagian keuangan pada perusahaan yang sedang mengerjakan proyek bendungan irigasi di Desa Alue Lhok itu dibebaskan di ruas jalan nasional kawasan Lhoksukon, Aceh Utara yang terbilang sepi.

Korban mengaku masih trauma berat atas kejadian itu, apalagi sejak diculik tangannya diborgol dan matanya ditutup selama 24 jam. Ayah satu anak yang berasal dari Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe itu diculik saat duduk bersama pekerja di basecamp proyek pembangunan bendungan irigasi itu, Selasa dini hari.

Sebelum menculik Yani, para pria bersenpi jenis AK-56, M-16, dan pistol FN-1 itu juga melepas beberapa kali tembakan ke udara di kompleks basecamp, kemudian menembak mobil dumptruck Hercules milik perusahaan, sehingga tangki minyaknya bocor.

Yani diambil paksa setelah orang yang dicari para penculik tak berada di lokasi ketika basecamp itu mereka datangi, Selasa dini hari. Awalnya, kelompok bersenpi yang berjumlah delapan orang itu menanyakan mana pejabat Humas PT Salina. Tapi karena dia tak di tempat, penculik menanyakan siapa yang bertanggung jawab. Lalu, Yani tunjuk tangan bahwa dia yang bertanggung jawab.

Langsung tangannya diborgol dan ia dibawa dengan berjalan kaki menjauh dari basecamp. Setelah itu Yani dibawa ke hutan, baru esoknya dibebaskan.
 
 Yani yang ditemui Serambi di rumah orang tuanya menyebutkan, begitu diculik, ia langsung dibawa sekelompok pria tersebut ke arah Desa Seuneubok Aceh. Namun, ia mengaku tak bisa menghitung berapa pucuk senjata yang dibawa para pelaku saat ia digiring ke tempat persembunyian. “Soalnya, posisi saya berada paling depan, sehingga tak berani menoleh ke belakang,” ucapnya.

Sesampai di kawasan masjid (Seuneubok Aceh), kata Yani, seorang pria menutup matanya dengan kain. “Saat itulah saya tak tahu lagi dibawa ke mana. Di dalam perjalanan, saya pun tak mendengar mereka berbicara. Kalaupun ada, mungkin mereka berbisik,” ujar Yani.

Menurut Yani, ia berjalan semalaman di dalam hutan, sehingga telapak kakinya terluka kena duri. Saat diambil paksa oleh penculiknya, Yani memang tak sempat memakai sandal, apalagi sepatu. “Kalau sudah lelah berjalan, mereka istirahat, lalu jalan lagi, termasuk menyeberang alur sungai,” ujarnya.

Selama 24 jam diculik, Yani mengaku hanya satu kali diberi makan, yakni saat menjelang magrib pada Selasa (20/1). Kala itu ia berada di dalam hutan dengan kondisi tangan tetap diborgol dan mata ditutup. “Nasi yang diberikan kepada saya waktu itu dalam bentuk nasi bungkus,” ujar ayah satu anak ini.

Selama berada dalam penguasaan kelompok tersebut, kata Yani, ia tidak diancam, apalagi dikasari. Mereka juga tidak menanyakan apa pun tentang dirinya dan soal proyek tersebut. “Tapi tangan saya baru dilepas borgolnya ketika akan diantar dengan sepeda motor, tapi mata saya masih tetap ditutup dengan kain,” ungkapnya.

Dua jam lebih rasanya Yani berada di atas sepmor saat diantar oleh seorang pelaku untuk dibebaskan. Lalu ia diturunkan di jalan lintas nasional, tepatnya di kawasan Desa Ceubrek, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

“Begitu saya turun dari atas sepeda motor, pria itu menghadapkan muka saya ke arah Keude Lhoksukon, barulah ia membuka kain yang menutup mata saya. Kalau borgol memang sudah dibuka sejak hendak naik sepeda motor,” ujar Yani.
 
 Sebelum pergi, pria tersebut sempat mewani-wantinya dalam bahasa Aceh, “Bek kalon-kalon u likot (Jangan lihat-lihat ke belakang).”

Yani yang masih dalam kondisi trauma tak berani menoleh ke belakang. Ia hanya mendengar suara sepmor pria itu melaju ke arah timur. “Semua mobil penumpang yang saya stop, tak satu pun mau berhenti karena badan saya berlumpur. Tapi akhirnya saya dapat tumpangan truk Tronton untuk pulang ke rumah,” pungkas Yani.

Meski sandera sudah dilepas, tapi polisi masih tetap berkeinginan menangkap para penculik itu, apalagi mereka memiliki senjata api. Di sisi lain, polisi juga ingin mengungkap apa motif penyerangan basecamp PT Salina malam itu yang berujung pada penculikan M Yani.

Sumber-sumber Serambi di Paya Bakong menyebutkan, kelompok bersenpi itu sengaja beraksi demikian sebagai bentuk protes karena proyek bendung irigasi itu tendernya dimenangkan oleh perusahaan yang bukan dari Aceh Utara. Pekerjanya pun dominan dari luar.

Kepala Dinas Pengairan Aceh, Ir Syamsul Rizal yang ditanyai terpisah menyebutkan, proyek bendung irigasi di Desa Alue Lhok itu sudah ditender di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kantor Gubernur Aceh sebelum ia menjabat kepala dinas. Jadi, ia tak bisa memastikan bagaimana proses pelelangan proyek tersebut, sehingga PT Salina Bersama yang menang.

“Seingat saya, proyek itu sumber dananya dari APBA 2014. Jumlah dananya kalau saya tidak salah sekitar Rp 5 miliar. Masa pengerjaan proyek itu pun harus selesai pada akhir Januari ini. Karena itu, kita mohon dukungan semua pihak supaya proyek tersebut dapat segera diselesaikan,” ujar mantan kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh ini. | aceh.tribunnews.com |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016