
Aceh Utara | acehtraffic.com - Pembalakan liar dituding sebagai penyebab utama meningkatnya volume bencana banjir dan longsor di Aceh. Menanti kebijakan tegas.
Anwar Sadad hanya bisa mengurut dada. Nyaris semua perabotan rumah tangga yang dibelinya dengan susah payah, rusak parah akibat terendam banjir. “Sofa busuk lantaran terendam air, tv juga hancur. Lemari pakaian, meja makan dan kulkas, sepeda motor, tak jelas lagi wujudnya,” kata warga Komplek Caritas, Gampong Blang Beurandang, Aceh Barat ini memberi contoh.
Sadad mengakui, dia tak akan mampu membeli kembali perabotan rumah tangganya itu dalam waktu lima tahun ke depan. “Dengan penghasilan pas-pasan, mungkin harus menunggu 10 tahun untuk bisa mengisi perabotan rumah ini,” katanya.
Anwar Sadad tak sendiri. Bencana yang melanda sejumlah kabupaten/kota di Aceh telah menyebabkan banyak rumah terendam. Ribuan jiwa terpaksa mengungsi. Tak terhitung pula nilai kerugian materil yang dirasakan masyarakat.
Kawasan Blang Berandang termasuk salah satu daerah yang terkena dampak banjir cukup parah, dua pekan lalu. Tapi bukan lantaran intensitas hujan di daerah tersebut yang begitu tinggi. “Di sini memang diguyur hujan, tapi tidak terus menurus. Ini yang mengherankan kami, mengapa tiba-tiba bisa terjadi banjir,” katanya.
Menurut Sadad, banjir terjadi lantaran sungai tak mampu menahan debit air yang begitu besar. “Kami memperhatikan, ternyata air datang dari Krueng Woyla dan pegunungan di sekitarnya,” katanya. Sadad menduga, kawasan hutan disana telah gundul sehingga tak mampu lagi menjadi daerah resapan saat hujan. “Akhirnya kami yang kena imbasnya,” kata dia.
Apa yang dikatakan Anwar Sadad ini boleh jadi benar adanya. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh mencatat,perusakan hutan yang masif serta penerbitan kebijakan yang mengubah komposisi hutan Aceh,menjadi faktor utama yang memperparah kondisi lingkungan. “Banjir bandang melanda wilayah Aceh di beberapa kabupaten hanya karena hujan lebat turun selama dua hari, ini jelas karena faktor illegal logging yang masih marak terjadi tanpa ada upaya yang menghentikan,” kataDirektur WALHI AcehMuhammad Nur pada MODUS ACEH, Kamis pekan lalu.
Kata M Nur, longsor merupakan bencana ekologi di Aceh yang paling tinggi.Hal mengkonfirmasi bahwa Aceh sebagai daerah rawan bencana. Secara geografis, Aceh dihimpit oleh kawasan pegunungan tinggi dan perbukitan sehingga memang perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Aceh.
Saat ini, kata M Nur, ada 14 ruas jalan di Aceh yang berpotensi mengalami bencana ekologi yang sama di bulan bahkan tahun-tahun berikutnya. Hutan Aceh yang mencapai 3,5 juta hektarkini berubah menjadi potensi bencana ekologis yang terus menghantui saat ini hingga masa depan. “Sumua hanya karena birahi sejumlah oknum perusakan yang tak mampu dibereskan pemerintah,” katanya.
Ini sekaligus menandakan Pemerintah Aceh tidak fokus pada pelestarian hutan. Kecuali itu, alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit juga terjadi di 13 kabupaten dengan total luas 286,872,88 hektar dan sembilan perusahaan yang berada di kawasan hutan lindung seluas 921,389 hektar. “Artinya hutan Aceh mengalami deforestasi dan degradasi yang tinggi setiap tahun,” katanya.
Absennya pemerintah dalam pengawasan deforestasi hutan Aceh ini jelas telah menimbulkan kerugian yang tak sedikit. Data Walhi Aceh, untuk 2014 saja, bencana telah menyebabkan kerugian sedikitnya Rp 52, 3 miliar lebih. Ini belum lagi ditambah alokasi dana untuk membangun infrastruktur rusak dan kerugian karena terhentinya transaksi ekonomi akibat mecetnya akses jalan.
Menurut M Nur, Pemerintah Aceh memang sudah seharusnya menjadikan pengalaman ini untuk melakukan langkah nyata ke depan. “Jika memang sayang anak cuku, prioritaskan pelestarian hutan dan tindak tegas pembalak liar,” katanya.
Pembalakan liar memang begitu meraja lela di Aceh. Penelusuran MODUS ACEH, praktik illegal logging justru melibatkan sejumlah elemen penting di Aceh. “Kayu diangkut pakai truk disupiri preman dan oknum eks kombatan GAM. Truk dikawal oknum polisi dan tentara. Alhasil, polisi hutan hanya membiarkan begitu saja,” kata Badruddin, warga Aceh Utara. | Modusaceh.com |
