Lhokseumawe | acehtraffic.com - Pernyataan Kapolres Aceh
Timur AKBP Muhajir yang menyatakan tidak adalagi GAM setelah MoU
Helsinki, mendapat bantahan dari keklompok bersenjata Din Minimi. Minggu
12 Oktober 2014.
Nurdin atau Din Minimi yang menghubungi
acehbaru.com mengatakan pernyataan Polres tersebut tidak masuk akal.
Menurutnya dia yang merasakan bagaimana menjalani proses perjuangan yang
begitu panjang plus sejumlah harapan, hingga sampailah pada perdamaian.
“Namun setelah perdamaian hampa” termasuk soal kesejahteraan Rakyat dan
mantan combatan.(Kapolres : Kelompok Din Mini Target Utama)
Dalam keterangan pers yang dilakukannnya
serta foto yang dimuat oleh media Din Minimi bersenjata laras panjang,
singlet loreng berlogo Buraq dan Singa itu menyatakan akan melakukan
perlawanan terhadap pemerintahan Aceh yang di pimpin oleh mantan
pimpinan senior GAM Zaini Abdullah dan mantan Panglima Angkatan
Bersenjata GAM Muzakkir Manaf.
Perlawan itu dilakukan karena
pemerintahan Aceh selama ini dianggap tidak memperhatikan kehidupan
mantan kombatan GAM, serta rakyat miskin. Mereka juga tidak
memperhatikan kelangsungan pendidikan anak yatim korban konflik.(BACA : Din Minimi Muncul Dengan Senjata)
“Banyak mantan kombatan GAM, janda, dan anak yatim peninggalan konflik Aceh yang hidupnya sangat memprihatinkan,” tegasnya.
Terkait dengan itu, ia juga
mengungkapkan bahwa ia mengetahui cerita tentang penyerahan senjata
kepada pihak kepolisian Aceh Timur beberapa waktu lalu, yang menurut
polisi senjata itu diserahkan oleh masyarakat sipil yang selama ini
menyimpan senjata api.
Polisi Aceh Timur telah menyatakan
kelompok Din Minimi adalah pelaku sejumlah tindakan criminal di Aceh
Timur. Dan kini kelompok bersenjata itu menjadi target utama buruan
polisi.| acehbaru.com |

