acehtraffic.com - Bangkai
gajah yang ditemukan di areal PT. Dwi Kencana Jamborehat, Kecamatan
Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Gadingnya sudah hilang.
Bangkai gajah sumatera berumur sekitar 20 tahun
ditemukan tergeletak di pinggir Sungai Cengeh, Gampong Pangong,
Kecamatan Krueng Sabe, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. Saat ditemukan,
kondisinya membusuk dan gadingnya hilang.
Muhammad Yusni, warga Krueng Sabe, menuturkan, awalnya warga tidak
mengetahui keberadaan bangkai gajah itu. Namun, aroma busuk yang
terpancar, membuat warga curiga dan mencari tahu dari mana sumber bau
tersebut. “Saat warga menelusuri pinggiran Sungai Cengeh, ternyata bau
itu berasal dari bangkai seekor gajah jantan yang sudah tidak ada
gadingnya,” jelasnya, Minggu 7 September 2014.
Yusni menyebutkan, selain bangkai gajah yang sudah membusuk, tidak
jauh dari lokasi tersebut ditemukan juga tulang-belulang gajah. “Warga
khawatir, kejadian ini akan menyebabkan gajah masuk permukiman penduduk.
Padahal, selama ini masyarakat tidak pernah mengusik gajah,” ujarnya.
Dokter dari Pusat Konservasi gajah (PKG) Saree Kabupaten Aceh Besar,
drh. Rosa, yang turun ke lapangan menyatakan kesulitan mengambil sampel
gajah yang sudah membusuk itu untuk kebutuhan forensik.
Rosa belum bisa memastikan penyebab kematian gajah tersebut, karena
harus melalui pengujian sampel dahulu di laboratorium di Medan, Sumatera
Utara. “Kami tidak bisa menduga-duga, yang pasti saat ditemukan,
gadingnya sudah tidak ada,” ujarnya.
Dari Aceh Timur juga dilaporkan, dua ekor gajah ditemukan mati
mengenaskan, Minggu (07/09/14). Saat ditemukan di areal PT. Dwi Kencana
Jamborehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, gadingnya sudah
hilang. Lokasi penemuan ini sekitar 10 kilometer dari pusat permukiman
warga dan 50 meter dari jalan kebun PT. Dwi Kencana.
Dua gajah berkelamin jantan itu ditemukan di dua lokasi terpisah yang
jaraknya sekitar 100 meter. Saat ditemukan, salah seekor gajah tersebut
ditutupi pelepah sawit dan di dekat kakinya terdapat dua butir
selongsong peluru. Ada juga bekas ban mobil di lokasi kejadian.
Kematian gajah ini bukan kejadian pertama di perkebunan Aceh Timur.
Pada 27 Juli 2013 lalu, seekor gajah ditemukan membusuk di perkebunan
sawit PTPN I di Desa Blang Tualang, Kecamatan Bireun Bayeun. Sementara,
seekor lagi ditemukan mati mengambang di Sungai Desa Alu Tuwi, Kecamatan
Rantau Selamat.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh,
Genman Hasibuan mengatakan, terkait kematian gajah ini, pihaknya sudah
mengirimkan anggota untuk melihat langsung ke lokasi kejadian. Genman
juga menjelaskan sepertinya ada pihak yang mengambil keuntungan dari
kejadian ini. “Konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah
dimanfaatkan pihak tertentu untuk membunuh gajah dan mengambil
gadingnya,” tutur Genman.
Genman menyebutkan, saat ini diperkirakan ada sekitar 450-500 ekor
gajah yang tersebar di Aceh. “Dari semua kabupaten/kota di Aceh, yang
tidak ada gajahnya hanya di Banda Aceh, Simeulu, dan Sabang,” ucapnya.
Program Manajer Fauna & Flora International (FFI) Aceh, Rizalhadi
menyebutkan, tahun 2014, konflik antara gajah dengan manusia semakin
meningkat, bahkan selain ada gajah yang mati, warga juga ikut menjadi
korban.
“Di Aceh Jaya saja, dua ekor gajah mati tahun 2014. Ini tidak
termasuk daerah lain di Aceh, bahkan dua bulan lalu, ada warga di
Kabupaten Bener Meriah yang tewas karena diserang gajah,” ungkapnya.
Saat
ditemukan, bangkai gajah ini ditutupi pelepah sawit di areal PT. Dwi
Kencana Jamborehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur.
Tulisan ini hasil kerja sama Mongabay dengan Green Radio | Junaidi Hanafiah dan Imran Ali Muhammad, Aceh | Mongabay


