![]() |
| Papan informasi korban pengusiran PT Patria Kamoe, yang mengungsi di rumah sakit tak berpenghuni milik Medco E&P, di Peudawa Timur, Kota Idi. Senin, 22 September 2014.|Photo: acehbaru.com/Isbahannur| |
Konflik Agraria: Kami Diusir, Rumah Kami Semua Dirusak PT Patria Kamoe, Kami Dibiarkan Kelaparan
Idi | acehtraffic.com – Konflik agraria berdampak dan sangat dirasakan oleh seluruh warga yang bermukim di Gampoeng Gajah Meuntah Kecamatan Sungai Raya, Aceh Timur, baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan tua renta diusir paksa serta rumah mereka pun dihancurkan oleh kaki tangan PT Patria Kamoe.
Pengusiran ratusan anak manusia dilakukan karena Kampung terasebut masuk kedalam Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan sawit tersebut yang sudah berakhir sejak (kadaluarsa) 31 Desember 2013, lalu.
Pengusiran itu dikatakan korban dilakukan oleh orang bersenjata dan berseragam lengkap yang digaji oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia, disamping itu ada juga beberapa orang “kuat” lain bersama pasukan neorepresif berkuasa.
“rumah kami dirusak dan kami diusur tanggal 20 Juni 2014, kami tidak tau harus mengadu kemana lagi” Kata seorang nenek tua yang didampingi Waltini (45) warga Gajah Meuntah. Senin, 22 September 2014.
Akibatkan mereka panik dan lari tak menentu arah, sebagian memilih kabur ketempat family mereka, ada juga yang turun ke Kota dan menetap dirumah sakit yang tak berpenghuni milik Medco E&P di Peudawa Timu, Idi.
Menurut catatan masyarakat local marginal PT Patria Kamoe ini, sebanyak 39 Kepala Keluarga dengan total 139 jiwa ditambah seorang bayi berumur 5 (lima) hari menetap dirumah sakit itu tanpa air bersih, persediaan kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya.
Mereka mengatakan sudah tiga bulan dua hari dipengungsian. Dua bulan sebelumnya selalu mendapat bantuan logistic berupa sembako meskipun tidak mencukupi.
“saat ini kami menggunakan air bau kuning pekat untuk mencuci dan memasak, dulu ada dibawa air kalau kita telpon walaupun tidak bisa dikonsumsi tapi saat ini tidak ada lagi, walaupun kita hubungi, saat ini saya tidak punya pulsa lagi untuk menelpon” Kata warga itu.
Namun ratusan anak manusia ini sudah 33 hari tidak mendapat bantuan makanan dan kebutuhan dasar lainnya. “sekarang nggak dikasi lagi karena sudah habis masa panik kata mereka (pemerintah Aceh Tiimur)” Kata Waltini.
Keuchik (Kepala Kampung) itu membenarkan hal tersebut, dia mengakui masyarakat dikomunitasnya kekurangan makanan kebutuhan pokok, air bersih. Sehingga korban pengusiran perusahaan sawit itu harus mengutip sumbangan pada pengguna jalan nasional Medan Banda Aceh.
Dia menyebutkan yang paling tragis dalam sejarah pengusiran seluruh warga kampungnya berdampak pada pendidikan anak dibawah umur. Sebanyak 41 anak usia wajib pendidikan harus bermain dilokasi pengungsian.
“pendidikan mereka direbut, hilang begitu saja, mereka tidak bisa sekolah, mereka merenggut semua hak anak-anak kami untuk mendapatkan pendidikan, hak anak-anak kami untuk berkesempatan bermain sambil belajar bersama disekolah seperti lazimnya anak-anak lain” Kata Waltini.
Tuha Peut Gampong tersebut juga menyebutkan bahwa pasca pengusiran warga seluruh aset Gampong mereka saat ini telah dikuasai oleh PT tersebut. Mereka berharap ada lagi sosok ulil amri seperti Umar (sahabat nabi yang dikenal adil dan bijaksana) untuk membantu menyelesaikan masalah besar yang menimpa mereka. |acehbaru.com|

