Depok | acehtraffic.com - Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono memaparkan alasannya menolak kenaikan harga
bahan bakar minyak yang diminta oleh presiden terpilih Joko Widodo
secara panjang lebar lewat akun pribadinya di laman Youtube. Dalam
rekaman yang dibuat Jumat 29 Agustus 2014 itu, SBY menjelaskan bahwa
selama kepemimpinannya 10 tahun ini, harga BBM sudah beberapa kali dinaikkan.
Namun,
ketika ditanya komentarnya mengenai curhat SBY itu, Jokowi mengaku
belum tahu isi rekaman yang dimaksud. "Enggak tahu ya," kata Jokowi saat
ditanya para pewarta usai memberikan sambutan di acara Halal Bihalal
"Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan" di Pondok Pesantren
Al-Hikam, Beji, Depok, Sabtu, 30 Agustus 2014.
Meski belum
tahu curhatan itu, Jokowi mengaku permintaannya kepada SBY untuk
menaikkan harga BBM itu dimaksudkan untuk menekan defisit anggaran pada
2015. "Jalan satu-satunya di situ," katanya. Seharusnya, kata Jokowi,
semua pihak harus memahami tingginya subsidi BBM saat ini. "Harus
mengerti dong, subsidi BBM itu gede banget."
Saat ini, ada
pro dan kontara ihwal kenaikan harga BBM di tubuh PDIP. Untuk diketahui,
pada 2012, partai banteng bermoncong putih itu menjadi garda terdepan
yang menolak rencana SBY untuk menaikkan BBM. "Ya biasa sajalah, ada
(kader PDIP) yang menolak," kata Jokowi. Alasannya, kebijakan menaikan
BBM itu tidak populer. "Tapi saya tidak mau ngomong sekarang, yang jelas
ada opsi-opsi, pilihan-pilihan yang harus kita ambil," tutur Gubernur
DKI Jakarta itu. (Baca:Ditolak SBY, Jokowi Siap Naikkan Harga BBM)
Jokowi
mengakui pada masa kepemimpianannya nanti, harga BBM akan dinaikkan.
Saat ini, dirinya dan tim masih merumuskan formasi besaran kenaikan
harga. Bisa jadi kenaikan itu antara Rp 500 hingga Rp 3.000. "Nilai
ideal masih dikalkulasi, yang jelas kita harus mulai mengalihkan
(subsidi)," katanya. (Baca:OJK Dukung BBM Subsidi Segera Dinaikkan)
Menurut
pria yang bakal segera dilantik menjadi Presiden RI ke-7 itu, anggaran
dari subsidi BBM rencananya akan dialihkan ke bidang-bidang yang
produktif, seperti pertanian. "Dialihkan BBM yang bersubsi untuk
kenikmatan-kenikmatan, ke hal-hal yang produktif," ucap dia.| Tempo |

