
Medan | acehtraffic.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan,
Indonesia peduli dengan nasib warga Palestina dengan memberikan bantuan
sebesar 10 juta dolar AS atau sekitar Rp11 miliar selain ikut melakukan
diplomasi.
"Sasaran diplomasi Indonesia jelas dan tegas agar serangan Israel ke
Palestina dihentikan. "Inisiatif Indonesia membawa persoalan itu ke PBB
mendapat sambutan positif," katanya saat berbuka puasa di rumah dinas
Gubernur Sumut, Selasa.
Awalnya Presiden tidak dijadwalkan untuk memberi sambutan, namun atas
permintaan Gubernur Sumut dan Ketua MUI yang berbicara soal Palestina,i
akhirnya Presiden berbicara selitar 20 menit.
Presiden menjelaskan, selain berbicara dengan Presiden
Iran, Indonesia juga akan melanjutkan komunikasi dengan (Organisasi
Konferensi Islam, Sekjen PBB Ban Ki Mun dan Presiden Amerika Barack
Obama.
"Saya akan sampaikan hal ini (masalah Palestina) sangat melukai
perasaan umat Islam, apalagi terjadi saat di bulan suci
Ramadhan,"katanya.
Menurut Presiden, berdasarkan informasi terbaru dari Menlu, ada kabar
baik yang menyebutkan bahwa Israel bersedia melakukan gencatan senjata.
"Tadi setelah mendarat di Medan, Menlu mengabarkan bahwa Israel
setuju gencatan senjata walau belum secara eksplesit atau melakukan
langkah-langkah. Mudah-mudahan ada gencatan senjata,¿ ujar Presiden.Â
Meski ada kabar baik itu, Presiden menegaskan akan tetap melanjutkan
diplomasi  dan menyampaikan harapan dibebaskannya rakyat Palestina
 dari tragedi kemanusiaan yang menyayat hati.
"Alangkahnya bersyukurnya kita, bangsa ini masih bisa beribadah dengan aman dan tenang, "katanya.
Mengacu pada kasus Palestina dan lainnya, menurut Presiden, harusnya
disadari diperlukannya rasa persaudaraan dan persatuan di masyarakat
Indonesia.
Kasus di Thailand yang saat ini berada dalam kondisi terbelah  dan
terpecah juga. harus menjadi pelajaran dalam menyikapi Pemilu Presiden
yang baru berlangsung.
Dia mengakui,.adanya ketegangan politik di tanah air akibat klaim kemenangan berdasarkan perhitung cepat pada Pilpres
"Alhamdulillah dewasa ini kedua pihak sepakat memelihara situasi
keamanan, sepakat  mengendalikan pengikut dan sepakat menunggu hasil
perhitungan suara KPU,¿katanya.
Dia menegaskan kembali, perlunya menjaga keamanan pada pengumuman
hasil suara 22 Juli karena masih ada saluran protes ke Mahkamah
Konstitus.
"Ada dua titik kritis dan 3-4 minggu di tingkat MK. Saya sudah bicara
dengan Ketua KPU dan MK agar kredibel dan professional menjalankan
tugasnya,"katanya. | Antara.com |
