News Update :

Nasib Aceh Pascapilpres

Rabu, 16 Juli 2014

acehtrafiic.com - Perubahan peta politik Nasional sebagai hasil Pilpres 9 Juli lalu, diprediksi ikut memengaruhi hubungan Aceh-Jakarta. Siapa pun pemenang Pilpres, Aceh harus solid untuk memperjuangkan banyak kepentingan Aceh di pusat. Serambi merangkum beragam pendapat terkait kiat dan strategi yang harus dilakukan pemerintah Aceh, dalam laporan eksklusif berikut ini.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah dibuat pusing oleh aksi dukung-mendukung Capres-Cawapres di Aceh. Bagaimana tidak, Wakil Gubernur Muzakir Manaf sudah jelas-jelas menyatakan dukungan dan menjatuhkan pilihannya pada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa (Prabowo-Hatta) dalam Pilpres 9 Juli lalu. Di sisi lain, Gubernur Zaini Abdullah yang juga tuha peut PA mendukung pasangan Jokowi Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Dengan kata lain, sebagai partai yang berkuasa, elite-elite PA memang pecah di Pilpres.  

Mungkin itu sebabnya, dari tempat dirinya pernah mengasingkan diri, Swedia, Zaini Abdullah mengeluarkan pernyataan penting pada hari Jusuf Kalla mengunjungi Pidie untuk deklarasi: Mendukung Capres/Cawapres Jokowi-JK. Zaini memang lagi berada di Swedia untuk urusan mencari investor. Dari Swedia pula, Zaini mengontak Serambi via telepon untuk menyatakan dukungannya kepada pasangan Jokowi-JK, tepat pada saat JK sedang mendeklarasikan dirinya di Pidie, Kamis, 5 Juni 2014. 

Zaini mengaku mendukung JK dengan bulat, apalagi setelah berbagai persoalan tak tertuntaskan selama SBY menjadi presiden, terutama regulasi turunan UUPA. Zaini bahkan mengundang JK secara khusus beberapa pekan kemudian untuk ‘curhat’ berbagai persoalan Aceh yang tak kunjung dituntaskan pusat.  

KPU memang belum mengumumkan siapa pemenang Pilpres kali ini. Akan tetapi, jika saja mengacu pada hasil quick count lembaga yang kredibel, pasangan Jokowi-JK disebut sebagai pemenangnya. Nah, untuk Aceh, jika juga mengacu pada hasil quick count, pasangan Jokowi-JK juga kalah, meskipun dalam persentase yang tipis.  

Menurut seorang pengamat politik yang enggan dituliskan namanya,  kekalahan Jokowi-JK di Aceh --tetapi pasangan ini diasumsikan menang secara Nasional-- dipastikan akan memberi pengaruh secara psikologis dalam komunikasi antara pemerintah Aceh dengan pemerintahan hasil Pilpres tersebut. Apalagi JK pernah juga merasakan kepahitan yang sama saat menjadi rival SBY pada 2009 lalu. Kala itu, pasangan JK-Wiranto meraih suara tak sampai 5%. 

Gara-gara ‘peng griek’

Bukan cuma hambatan ‘psikologis’ ini yang bisa menjadi kendala hubungan baru Aceh dengan Jakarta pasca-Pilpres. Tidak solidnya PA sebagai partai pendukung Gubernur/Wakil Gubernur Aceh, juga menjadi rintangan lainnya. 

“Pusat gampang sekali menilai Aceh, seperti halnya dulu Belanda menilai Aceh. Kita gampang pecah oleh peng griek. Jadi, pragmatis sekali orang Aceh,” kata pria yang akademisi ini. “Jadi, pemerintah Aceh harus solid dulu,” timpalnya lagi. 

Namun, Caleg terpilih PKB untuk DPR RI Irmawan SSos mengaku bahwa persentase kemenangan Jokowi-JK sekira 47,5% sudah sangat ideal untuk Aceh saat ini. “Angka sekitar 47,5% itu sudah sangat ideal, mengingat partai-partai pendukung Prabowo-Hatta bekerja sangat terstruktur,” kata Irmawan. 

Dikatakan Irmawan, pihaknya juga akan coba meyakinkan Jusuf Kalla  bahwa partai koalisi sudah berusaha maksimal. Setelah KPU menetapkan Jokowi-JK sebagai presiden, kata Irmawan, dirinya yakin berbagai persoalan yang masih melilit Aceh hingga hari ini bisa cepat dituntaskan. 

Seoptimis apa pun Aceh ke depan, pengamat politik M Jafar SH MHum mengatakan, jika pun pasangan Joko Widodo-JK terpilih sebagai presiden, butuh waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan persoalan internal. Jadi, tidak serta-merta bisa langsung mengurus Aceh. “Setidaknya butuh waktu sekitar satu tahun bagi mereka untuk membenahi berbagai persoalan internal yang urgent. Jadi, tidak langsung bisa mengurus Aceh,” kata M Jafar.

 JK mengerti Aceh

Sebaliknya, pengamat politik Fachry Ali mengatakan, Aceh tidak membutuhkan komunikasi khusus untuk menuntaskan peraturan pemerintah dan seluruh turunan UUPA apabila yang memenangi pertarungan dalam pemilihan Capres/Cawapres adalah pasangan Jokowi-JK. 

“Jusuf Kalla atau JK bisa langsung mengerti kebutuan Aceh karena JK adalah arsitek perdamaian Aceh. Sebaliknya, akan menjadi problema apabila yang menang adalah Prabowo-Hatta Radjasa. Selain keduanya tidak terlibat dalam proses perdamaian Aceh, justru seorang dari pasangan itu, Prabowo Subianto, adalah seorang aktor era Daerah Operasi Militer (DOM),” kata pengamat politik Fachry Ali yang dihubungi Serambi di Jakarta, Minggu 13 Juli. 

Selain itu, Fachry Ali juga tidak menampik bahwa kedekatan Ketua Umum PA Muzakir Manaf dengan Prabowo Subianto sebagai satu bentuk komunikasi yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Aceh apabila pasangan Prabowo- Hatta yang tampil sebagai pemenang dalam pilpres.

“Hanya saja selama ini kita belum pernah mendengar sikap dan pandangan politik dari Prabowo-Hatta terhadap perdamaian Aceh, delegasi kewenangan antara Aceh dan Pusat, serta MoU Helsinki,” kata Fachry Ali. 

“Bentuk komunikasi sebelum terpilih sebagai presiden bisa saja berbeda apabila nanti setelah dilantik sebagai presiden atau wakil presiden,” tutup Fachry Ali. | aceh.tribunnews.com |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016