
Lhokseumawe | acehtraffic.com – Pasukan Acheh – Sumatra National Liberation Front (ASNLF)
yang telah diorganisir oleh seorang anak Aceh dengan samaran Tgk Agam,
Komando Pusat ASNLF/AM di Aceh, berusaha untuk mendapatkan pengakuan.
Berbagai misi dan aksi ASNLF untuk mendapatkan perhatian
dilakukan di Aceh. Jauh-jauh hari sebelum Pemilu Legislatif tahun
2014, Tgk Agam sebagai perwakilan di Aceh diutus oleh beberapa orang di
ASNLF pusat untuk melebarkan sayap di Aceh.
Setelah
mengorganisir beberapa eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sama sekali
tidak tersentuk program reintegrasi pasca damai direkrut untuk
melanjutkan misi. Sehingga muncul beberapa nama samaran baru orang
ASNLF, seperti Arjuna di Pidie, Teuku Umar di Meulaboh, dan beberapa
nama lainnya, selain Abu Sumatra di Wilayah Pase karena dia sudah ada
sebelumnya.
Disamping itu, ada Tuanku Sabee Op Wilayah Meureuhom Daya, Abu
Medan (Pase) selaku Wakil Kordinator pusat ASNLF/AM dibawah komando
Ketua Pusat, Teuku Agam. Wilayah Pidie (Tgk Mirah atau Donking), Aceh
Besar (Tgk Lhok Paoh) Phangpeut (Teumieng) Abu ganto (Pase).
Misi pertama dilakukan setelah struktur
di Aceh terbentuk, mereka bakal mewacanakan boikot Pileg, hingga
pembuatan video seratus narasumber untuk seratus kata kunci “kami
menolak pemilu”.
Usai Pemilu 9 April 2014, Koordinator
Pusat ASNLF/AM dalam Nanggroe, yang dalam Rillisnya memberi apresiasi
setinggi-tingginya kepada seluruh bangsa dan rakyat Aceh, yang telah
menentukan sikap untuk memboikot Pemilu di Aceh 9 April lalu.
“Kami juga mengucapkan selamat dan
sukses atas hasil kerja keras, cerdas dan ikhlas yang telah rekan-rekan
seperjuangan berikan dalam mensukseskan agenda boikot pemilu tersebut,”
ujar Koordinator Pusat ASNLF/AM dalam Nanggroe, Teuku Agam melalui rilis
mereka, Selasa 15 April 2014.
Seluruh aksi dikoordinir beberapa
(sebagian kecil:red) pencari suaka politik dibeberapa negara di
Eropa. Seperti Presidium ASNLF, Ariffadhillah, di Jerman, Yusuf Daud,
Wakil Ketua, Madinatul Fajar, Kepala Sekretariat, di Amerika, Adnan
Daud, Anggota Sektrariat, dan Asnawi Ali, Anggota Sekretariat, di
Swedia.
Pada Pemilihan Presiden 9 Juli 2014,
mereka juga melancarkan misi boikot pemilu. Seperti yang dilansir
aceh.tribunnews, dalam sebuah aksi teror bom rakitan menggunakan jam
weker terjadi di Simpang Beutong, Kecamatan Muara Tiga, Pidie, Rabu, 9
Juli 2014. Bom tersebut berhasil dijinakkan oleh “orang pintar” dari
Polda Aceh.
Menurut aparat yang berfungsi menjaga
keamanan di Pidie itu, di samping bom dikatakan terdapat karton
bertuliskan ‘boikot pemilu’ dan ditutupi dengan sehelai bendera bintang
bulan mirip bendera GAM. Bom rakitan yang diikatkan pada potongan pipa
itu diletakkan pelaku yang belum teridentifikasi dua meter dari pinggir
jalan nasional Kilometer 85 Banda Aceh-Medan, tepatnya di Simpang
Beutong, Pidie.
Seperti sebuah rilis yang dilansir
acehtraffic.com, Abu Sumatra, Juru bicara (jubir) ASNLF di Wilajah
Pasee, mengaku bertanggung jawab atas aksi teror bom tersebut. Tidak
hanya itu, mereka juga berusaha menciptakan “sesuatu”, mereka juga
mengaku bertanggung jawab atas aksi peledakan bom dan pembakaran TPS di
Gampong Ujong Blang Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.
“termasuk ditempat-tempat lain di
wilayah hukum kami (wilajah pasee), peledakan bom dan pembakaran TPS itu
sebagai sikap rakyat Aceh kepada dunia internasional, bahwa rakyat Aceh
menolak pemilu Presiden Indonesia di Aceh” Tulis Abu Sumatra dalam
rilisnya.
Menurut mereka siapapun yang terpilih
menjadi Presiden baru Indonesia, Aceh tetap dijadikan sebagai budak
kolonialis kaki tangan imprealis Jakarta. Namun, meskipun demikian,
masyarakat pada 9 Juli 2014, sejak TPS yang dikatakan telah dibakar
diatas, dibuka kelihatan antusias menggunakan hak politik mereka sesuai
disebutkan dalam konstitusi Indonesia, dan tidak terjadi apa-apa.
Usai aksi-aksi untuk menarik perhatian
itu, ASNLF perwakilan Malaysia mengucapkan selamat kepada ASNLF di Aceh,
atas berbagai klaim dan aksi yang dikatakan dilakukan oleh masyarakat
Aceh sendiri termasuk ASNLF yang sangat tidak mendukung atas
pelaksananaan pemilu di tanah Aceh, begitu tulis mereka dalam rilis yang
diterima acehbaru.com, Sabtu, 12 Juli 2014, sore.
Mereka juga mengatakan telah berhasil
memboikot pemilu 9 April 2014, lalu, dengan indikator 50% dari total
semua DPT (Daftar Pemilih Tetap) Aceh, dikatakan tidak menggunakan hak
pilihnya sebagai bentuk dukungan kepada seruan mereka.
“Apresiasi yang sangat tinggi kepada
koordinator ASNLF di Aceh, Teuku Agam, atas keberhasilan beliau
mengkoordinir seluruh perwakilan ASNLF di Aceh dalam melaksanakan
program kerja yang konsisten dalam agenda memboikot Pemilu pada 9 April
lalu”.
“Ini semua adalah bukti kepada semua
pihak menyangkut kemauan dan keinginan masyarakat Aceh untuk dapat
mengembalikan kedaulatan Negara Aceh sampai titisan darah penghabisan”
Tulis Sekretariat Peuwakilan Nanggroe ASNLF di Malaysia. ”Asai Na Pakat, Lampoeh Djeurat Tapeugala” tutup Musafir Atjeh. | acehbaru.com |


