News Update :

Misi dan Aksi Teror ASNLF di Aceh, “Sesuatu” Untuk Mendapat Pengakuan?

Senin, 14 Juli 2014



Lhokseumawe | acehtraffic.com – Pasukan Acheh – Sumatra National Liberation Front (ASNLF) yang telah diorganisir oleh seorang anak Aceh dengan samaran Tgk Agam, Komando Pusat ASNLF/AM di Aceh, berusaha untuk mendapatkan pengakuan. 
 
Berbagai misi dan aksi ASNLF untuk mendapatkan perhatian dilakukan di Aceh. Jauh-jauh hari sebelum Pemilu Legislatif tahun 2014, Tgk Agam sebagai perwakilan di Aceh diutus oleh beberapa orang di ASNLF pusat untuk melebarkan sayap di Aceh. 

Setelah mengorganisir beberapa eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sama sekali tidak tersentuk program reintegrasi pasca damai direkrut untuk melanjutkan misi. Sehingga muncul beberapa nama samaran baru orang ASNLF, seperti Arjuna di Pidie, Teuku Umar di Meulaboh, dan beberapa nama lainnya, selain Abu Sumatra di Wilayah Pase karena dia sudah ada sebelumnya.

Disamping itu, ada Tuanku Sabee Op Wilayah Meureuhom Daya, Abu Medan (Pase) selaku Wakil Kordinator pusat ASNLF/AM dibawah komando Ketua Pusat, Teuku Agam. Wilayah Pidie (Tgk Mirah atau Donking), Aceh Besar (Tgk Lhok Paoh) Phangpeut (Teumieng) Abu ganto (Pase).

Misi pertama dilakukan setelah struktur di Aceh terbentuk, mereka bakal mewacanakan boikot Pileg, hingga pembuatan video seratus narasumber untuk seratus kata kunci “kami menolak pemilu”.

Usai Pemilu 9 April 2014, Koordinator Pusat ASNLF/AM dalam Nanggroe, yang dalam Rillisnya memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh bangsa dan rakyat Aceh, yang telah menentukan sikap untuk memboikot Pemilu di Aceh 9 April lalu.

“Kami juga mengucapkan selamat dan sukses atas hasil kerja keras, cerdas dan ikhlas yang telah rekan-rekan seperjuangan berikan dalam mensukseskan agenda boikot pemilu tersebut,” ujar Koordinator Pusat ASNLF/AM dalam Nanggroe, Teuku Agam melalui rilis mereka, Selasa 15 April 2014.

Seluruh aksi dikoordinir beberapa (sebagian kecil:red) pencari suaka politik dibeberapa negara di Eropa. Seperti Presidium ASNLF, Ariffadhillah, di Jerman, Yusuf Daud, Wakil Ketua, Madinatul Fajar, Kepala Sekretariat, di Amerika, Adnan Daud, Anggota Sektrariat, dan Asnawi Ali, Anggota Sekretariat, di Swedia.

Pada Pemilihan Presiden 9 Juli 2014, mereka juga melancarkan misi boikot pemilu. Seperti yang dilansir aceh.tribunnews, dalam sebuah aksi teror bom rakitan menggunakan jam weker terjadi di Simpang Beutong, Kecamatan Muara Tiga, Pidie,  Rabu, 9 Juli 2014. Bom tersebut berhasil dijinakkan oleh “orang pintar” dari Polda Aceh.

Menurut aparat yang berfungsi menjaga keamanan di Pidie itu, di samping bom dikatakan terdapat karton bertuliskan ‘boikot pemilu’ dan ditutupi dengan sehelai bendera bintang bulan mirip bendera GAM. Bom rakitan yang diikatkan pada potongan pipa itu diletakkan pelaku yang belum teridentifikasi dua meter dari pinggir jalan nasional Kilometer 85 Banda Aceh-Medan, tepatnya di Simpang Beutong, Pidie.

Seperti sebuah rilis yang dilansir acehtraffic.com, Abu Sumatra, Juru bicara (jubir) ASNLF di Wilajah Pasee, mengaku bertanggung jawab atas aksi teror bom tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha menciptakan “sesuatu”, mereka juga mengaku bertanggung jawab atas aksi peledakan bom dan pembakaran TPS di Gampong Ujong Blang Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

“termasuk ditempat-tempat lain di wilayah hukum kami (wilajah pasee), peledakan bom dan pembakaran TPS itu sebagai sikap rakyat Aceh kepada dunia internasional, bahwa rakyat Aceh menolak pemilu Presiden Indonesia di Aceh” Tulis Abu Sumatra dalam rilisnya.

Menurut mereka siapapun yang terpilih menjadi Presiden baru Indonesia, Aceh tetap dijadikan sebagai budak kolonialis kaki tangan imprealis Jakarta. Namun, meskipun demikian, masyarakat pada  9 Juli 2014, sejak TPS yang dikatakan telah dibakar diatas, dibuka kelihatan antusias menggunakan hak politik mereka sesuai disebutkan dalam konstitusi Indonesia, dan tidak terjadi apa-apa.

Usai aksi-aksi untuk menarik perhatian itu, ASNLF perwakilan Malaysia mengucapkan selamat kepada ASNLF di Aceh, atas berbagai klaim dan aksi yang dikatakan dilakukan oleh masyarakat Aceh sendiri termasuk ASNLF yang sangat tidak mendukung atas pelaksananaan pemilu di tanah Aceh, begitu tulis mereka dalam rilis yang diterima acehbaru.com, Sabtu, 12 Juli 2014, sore.

Mereka juga mengatakan telah berhasil memboikot pemilu 9 April 2014, lalu, dengan indikator 50% dari total semua DPT (Daftar Pemilih Tetap) Aceh, dikatakan tidak menggunakan hak pilihnya sebagai bentuk dukungan kepada seruan mereka.

“Apresiasi yang sangat tinggi kepada koordinator ASNLF di Aceh, Teuku Agam, atas keberhasilan beliau mengkoordinir seluruh perwakilan ASNLF di Aceh dalam melaksanakan program kerja yang konsisten dalam agenda memboikot Pemilu pada 9 April lalu”.

“Ini semua adalah bukti kepada semua pihak menyangkut kemauan dan keinginan masyarakat Aceh untuk dapat mengembalikan kedaulatan Negara Aceh sampai titisan darah penghabisan” Tulis Sekretariat Peuwakilan Nanggroe ASNLF di Malaysia. ”Asai Na Pakat, Lampoeh Djeurat Tapeugala” tutup Musafir Atjeh. | acehbaru.com |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016