
Yerusalem | acehtraffic.com - Sebuah roket ditembakkan dari Lebanon menghantam bagian utara Israel pada Jumat 10 Juli, mengakibatkan tentara membalasnya dengan tembakan artileri melintasi perbatasan, demikian disampaikan militer Israel.
Roket tersebut menghantam daerah terbuka di dekat Metula di ujung utara Israel tanpa menimbulkan korban atau kerusakan, kata pihak militer.
“Sebuah roket dari Lebanon menghantam daerah terbuka di dekat Metula beberapa waktu lalu. Sebagai respons, pasukan (militer) IDF melepaskan tembakan ke sumber yang menembakkan roket,” demikian menurut pernyataan militer.
Juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Peter Lerner berkata unit-unit artileri telah menembakkan rentetetan artileri ke “posisi-posisi mencurigakan” yang terlihat melintasi perbatasan.
Seorang juru bicara militer menyampaikan kepada AFP bahwa Israel telah mengajukan keluhan kepada Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), yang memonitor perbatasan antara Lebanon dan Israel.
UNIFIL pun mengeluarkan pernyataan mengecam insiden tersebut dan berkata telah meningkatkan keberadaannya di daerah-daerah operasinya di Lebanon selatan, seraya berkoordinasi dengan militer Lebanon.
“Ini merupakan insiden serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB nomor 1701 dan jelas diarahkan untuk merusak stabilitas di daerah tersebut,” kata Kepala UNIFIL Mayor Jenderal Serra.
Resolusi DK PBB No. 1701 disahkan pada 2006, di akhir perang 33 hari antara Israel dan kelompok Hizbullah yang menewaskan sekitar 1.200 warga Lebanon, sebagian besar warga sipil, dan 160 warga Israel, sebagian besar tentara.
Resolusi ini menuntut penghentian penuh permusuhan antara kelompok-kelompok besenjata di Lebanon dan negara Yahudi.
Radio publik Israel berkata dua roket Katyusha yang menghantam bagian utara daerah Kiryat Shmona, di dekat Metula, salah satunya menghantam sebuah jalan yang sepi saat itu.
Kalangan pejabat militer pun mengatakan pada radio tersebut bahwa mereka meyakini serangan itu dilakukan oleh kelompok kecil Palestina sebagai aksi solidaritas dengan kelompok milisi dari gerakan Islam Hamas di Gaza yang terlibat dalam konfrontasi besar dengan tentara Israel yang dimulai pada Selasa (8/7).
Mereka berkata tidak mungkin roket tersebut ditembakkan oleh gerakan Hizbullah Syiah, yang menguasai Lebanon selatan, karena mereka tidak ingin bertempur dengan Israel pada tahapan ini.
Tentara Lebanon mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tiga roket yang diluncurkan terhadap Israel dilakukan oleh “kelompok tak dikenal” dari daerah Marjayun-Hasbaya di bagian selatan Lebanon.
Ini tidak menunjukkan apakah salah satu proyektil mendarat di dalam Israel.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa militer telah mengerahkan pasukan untuk berpatroli dan menyelusuri daerah itu.
Pasukan pun “berhasil menemukan bantalan peluncur roket, serta dua roket yang siap diluncurkan. Seorang ahli militer tiba di tempat tersebut dan membongkar proyektil,” demikian menurut pernyataan.
Mereka menambahkan bahwa Israel telah meluncurkan “25 peluru” di Lebanon, namun tidak menimbulkan korban.
Seorang sumber keamanan Lebanon mengatakan situasi di perbatasan sekarang sudah tenang.
"Tidak ada yang terluka, penembakan itu mengenai lapangan, bukan rumah," kata sumber itu seraya menambahkan bahwa
satu orang telah ditahan oleh pasukan keamanan untuk dimintai keterangan.
Sementara pemboman yang dilakukan Israel terhadap Gaza mengklaim menewaskan nyawa warga Palestina ke-100 pada Jumat ketika Hamas digempur Israel tengah dengan roket, dan Washington menawarkan bantuan untuk menengahi gencatan senjata.
Seiring dengan pertempuran antara Israel dan milisi Hamas yang memasuki hari keempat, upaya-upaya diplomatik dilakukan untuk mengakhiri permusuhan.
Semalam, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengungkapkan keprihatinan dan menawarkan bantuannya dalam menyelesaikan krisis.
“Amerika Serikat siap untuk memfasilitasi penghentian permusuhan, termasuk kembali ke kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan pada November 2012,” kata Gedung Putih, merujuk pada gencatan senjata yang mengakhiri konfrontasi besar terakhir antara Israel dan Hamas. | Beritasatu.com |
Roket tersebut menghantam daerah terbuka di dekat Metula di ujung utara Israel tanpa menimbulkan korban atau kerusakan, kata pihak militer.
“Sebuah roket dari Lebanon menghantam daerah terbuka di dekat Metula beberapa waktu lalu. Sebagai respons, pasukan (militer) IDF melepaskan tembakan ke sumber yang menembakkan roket,” demikian menurut pernyataan militer.
Juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Peter Lerner berkata unit-unit artileri telah menembakkan rentetetan artileri ke “posisi-posisi mencurigakan” yang terlihat melintasi perbatasan.
Seorang juru bicara militer menyampaikan kepada AFP bahwa Israel telah mengajukan keluhan kepada Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), yang memonitor perbatasan antara Lebanon dan Israel.
UNIFIL pun mengeluarkan pernyataan mengecam insiden tersebut dan berkata telah meningkatkan keberadaannya di daerah-daerah operasinya di Lebanon selatan, seraya berkoordinasi dengan militer Lebanon.
“Ini merupakan insiden serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB nomor 1701 dan jelas diarahkan untuk merusak stabilitas di daerah tersebut,” kata Kepala UNIFIL Mayor Jenderal Serra.
Resolusi DK PBB No. 1701 disahkan pada 2006, di akhir perang 33 hari antara Israel dan kelompok Hizbullah yang menewaskan sekitar 1.200 warga Lebanon, sebagian besar warga sipil, dan 160 warga Israel, sebagian besar tentara.
Resolusi ini menuntut penghentian penuh permusuhan antara kelompok-kelompok besenjata di Lebanon dan negara Yahudi.
Radio publik Israel berkata dua roket Katyusha yang menghantam bagian utara daerah Kiryat Shmona, di dekat Metula, salah satunya menghantam sebuah jalan yang sepi saat itu.
Kalangan pejabat militer pun mengatakan pada radio tersebut bahwa mereka meyakini serangan itu dilakukan oleh kelompok kecil Palestina sebagai aksi solidaritas dengan kelompok milisi dari gerakan Islam Hamas di Gaza yang terlibat dalam konfrontasi besar dengan tentara Israel yang dimulai pada Selasa (8/7).
Mereka berkata tidak mungkin roket tersebut ditembakkan oleh gerakan Hizbullah Syiah, yang menguasai Lebanon selatan, karena mereka tidak ingin bertempur dengan Israel pada tahapan ini.
Tentara Lebanon mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tiga roket yang diluncurkan terhadap Israel dilakukan oleh “kelompok tak dikenal” dari daerah Marjayun-Hasbaya di bagian selatan Lebanon.
Ini tidak menunjukkan apakah salah satu proyektil mendarat di dalam Israel.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa militer telah mengerahkan pasukan untuk berpatroli dan menyelusuri daerah itu.
Pasukan pun “berhasil menemukan bantalan peluncur roket, serta dua roket yang siap diluncurkan. Seorang ahli militer tiba di tempat tersebut dan membongkar proyektil,” demikian menurut pernyataan.
Mereka menambahkan bahwa Israel telah meluncurkan “25 peluru” di Lebanon, namun tidak menimbulkan korban.
Seorang sumber keamanan Lebanon mengatakan situasi di perbatasan sekarang sudah tenang.
"Tidak ada yang terluka, penembakan itu mengenai lapangan, bukan rumah," kata sumber itu seraya menambahkan bahwa
satu orang telah ditahan oleh pasukan keamanan untuk dimintai keterangan.
Sementara pemboman yang dilakukan Israel terhadap Gaza mengklaim menewaskan nyawa warga Palestina ke-100 pada Jumat ketika Hamas digempur Israel tengah dengan roket, dan Washington menawarkan bantuan untuk menengahi gencatan senjata.
Seiring dengan pertempuran antara Israel dan milisi Hamas yang memasuki hari keempat, upaya-upaya diplomatik dilakukan untuk mengakhiri permusuhan.
Semalam, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengungkapkan keprihatinan dan menawarkan bantuannya dalam menyelesaikan krisis.
“Amerika Serikat siap untuk memfasilitasi penghentian permusuhan, termasuk kembali ke kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan pada November 2012,” kata Gedung Putih, merujuk pada gencatan senjata yang mengakhiri konfrontasi besar terakhir antara Israel dan Hamas. | Beritasatu.com |
