
Jakarta | acehtraffic.com - Pertempuran antara bakal calon presiden dari partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra untuk merebutkan kursi RI 1 pada 9 Juli mendatang, diprediksi bakal berjalan sengit. Berdasarkan hasil survei, kekuatan kedua tokoh itu dinilai seimbang.
Namun, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang Wahyudi Winarjo saat dihubungi wartawan di Surabaya, Sabtu 17 Mei, mengatakan, kekuatan, baik Jokowi maupun Prabowo belum setangguh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2009 silam.
Saat itu, SBY yang berpasangan dengan Boediono mampu mengemas perolehan suara yang sangat fantastis, yaitu 73.874.562 suara atau 60,80 persen. Pasangan yang diusung Partai Demokrat ini, mampu mengalahkan dua kompetitornya, yaitu pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, yang hanya mengemas suara 32.548.105 atau 26,79 persen suara, dan Jusuf Kalla-Wiranto (15.081.814 atau 12,41 persen suara).
Sementara di Pilpres kali ini (2014), Jokowi yang menjadi peserta baru dan Prabowo yang sudah merasakan sengitnya pertarungan di pilpres, jika mengacu pada hasil survei dari tiga lembaga riset, terlihat berimbang. Kendati masih unggul, perbedaan elektabilitas Jokowi dan Prabowo, hanya selisih tipis.
Lembaga riset MarkPlus menyebut, elektabilitas Jokowi mencapai 45 persen dan Prabowo mencapai 35 persen. Sedangkan Populi mencatat, angka 49,3 persen untuk Jokowi dan 29,7 persen untuk Prabowo.
Sementara Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC) memperlihatkan tren Jokowi dalam lima bulan terakhir, mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, sedangkan Prabowo cenderung naik.
Elektabilitas Jokowi pada bulan Desember 2013 mencapai 51 persen, menurun di bulan Febuari 2014 hingga 39 persen, dan kembali naik 52 di bulan Maret, kemudian kembali turun 47 persen setelah Pileg 9 April lalu. Berbeda dengan Prabowo, yang naik cukup stabil. Dari 22 persen pada medio Desember 2013 dan terus merangkak naik menjadi 32 persen setelah Pileg 2014.
"Dilihat dari hasil survei, baik Jokowi maupun Prabowo, sama-sama kuat. Tak ada yang menonjol dari kedua figur itu. Keduanya, masing-masing punya kelemahan. Di sinilah peran partai mengisi kekurangan dan kelemahan calon yang diusungnya masing-masing," kata Wahyudi Winarjo.
Gerak mesin partai lanjut dia, akan ikut mengambil peran sebagai penentu kemenangan. "PDIP yang disokong PKB dan NasDem untuk mendukung Jokowi, dikenal solid dan militan. Sementara itu, di kubu Prabowo, selain Gerindra ada PKS, PPP dan PAN. Massa PKS, adalah massa riil. Jadi suara Prabowo sebenarnya, sudah bisa ditebak dari suara PKS. Ini pintarnya Prabowo menggandeng PKS. Belum lagi swing voter (pemilih mengambang) yang masih sulit ditebak, mengarahkan ke mana hak pilihnya," papar Wahyudi.
Bergabungnya tiga partai berlatar belakang islam modern itu (PAN dan PKS dan PPP), kata Wahyudi, menunjukkan kedekatan Prabowo dengan keduanya. "Ini yang menjadi tantangan bagi Jokowi saat berhadapan dengan Prabowo di Pilpres 2014 nanti. Calon pasangan keduanya juga akan ikut menentukan pilihan para pemilih," tandasnya.
Terpisah, Sigit Budhi Setiawan dari Lembaga Riset dan Survei Pasar Sigma Indonesia mengatakan, pada Pilpres 2014 ini, akan menampilkan pertarungan antara sipil (Jokowi) versus militer (Prabowo).
"Dukungan partai Islam seperti PAN, PPP dan PKS makin memberi warna dan sepak terjang politik Gerindra. Sementara Jokowi dengan PDIP-nya identik dengan partai sekuler, mendapat sokongan dari NasDem dan PKB, maka bisa dipastikan, pada Pilpres mendatang, akan menampilkan pertarungan antara sipil dan militer," pungkas dia. (Merdeka.com)
Namun, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang Wahyudi Winarjo saat dihubungi wartawan di Surabaya, Sabtu 17 Mei, mengatakan, kekuatan, baik Jokowi maupun Prabowo belum setangguh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2009 silam.
Saat itu, SBY yang berpasangan dengan Boediono mampu mengemas perolehan suara yang sangat fantastis, yaitu 73.874.562 suara atau 60,80 persen. Pasangan yang diusung Partai Demokrat ini, mampu mengalahkan dua kompetitornya, yaitu pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, yang hanya mengemas suara 32.548.105 atau 26,79 persen suara, dan Jusuf Kalla-Wiranto (15.081.814 atau 12,41 persen suara).
Sementara di Pilpres kali ini (2014), Jokowi yang menjadi peserta baru dan Prabowo yang sudah merasakan sengitnya pertarungan di pilpres, jika mengacu pada hasil survei dari tiga lembaga riset, terlihat berimbang. Kendati masih unggul, perbedaan elektabilitas Jokowi dan Prabowo, hanya selisih tipis.
Lembaga riset MarkPlus menyebut, elektabilitas Jokowi mencapai 45 persen dan Prabowo mencapai 35 persen. Sedangkan Populi mencatat, angka 49,3 persen untuk Jokowi dan 29,7 persen untuk Prabowo.
Sementara Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC) memperlihatkan tren Jokowi dalam lima bulan terakhir, mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, sedangkan Prabowo cenderung naik.
Elektabilitas Jokowi pada bulan Desember 2013 mencapai 51 persen, menurun di bulan Febuari 2014 hingga 39 persen, dan kembali naik 52 di bulan Maret, kemudian kembali turun 47 persen setelah Pileg 9 April lalu. Berbeda dengan Prabowo, yang naik cukup stabil. Dari 22 persen pada medio Desember 2013 dan terus merangkak naik menjadi 32 persen setelah Pileg 2014.
"Dilihat dari hasil survei, baik Jokowi maupun Prabowo, sama-sama kuat. Tak ada yang menonjol dari kedua figur itu. Keduanya, masing-masing punya kelemahan. Di sinilah peran partai mengisi kekurangan dan kelemahan calon yang diusungnya masing-masing," kata Wahyudi Winarjo.
Gerak mesin partai lanjut dia, akan ikut mengambil peran sebagai penentu kemenangan. "PDIP yang disokong PKB dan NasDem untuk mendukung Jokowi, dikenal solid dan militan. Sementara itu, di kubu Prabowo, selain Gerindra ada PKS, PPP dan PAN. Massa PKS, adalah massa riil. Jadi suara Prabowo sebenarnya, sudah bisa ditebak dari suara PKS. Ini pintarnya Prabowo menggandeng PKS. Belum lagi swing voter (pemilih mengambang) yang masih sulit ditebak, mengarahkan ke mana hak pilihnya," papar Wahyudi.
Bergabungnya tiga partai berlatar belakang islam modern itu (PAN dan PKS dan PPP), kata Wahyudi, menunjukkan kedekatan Prabowo dengan keduanya. "Ini yang menjadi tantangan bagi Jokowi saat berhadapan dengan Prabowo di Pilpres 2014 nanti. Calon pasangan keduanya juga akan ikut menentukan pilihan para pemilih," tandasnya.
Terpisah, Sigit Budhi Setiawan dari Lembaga Riset dan Survei Pasar Sigma Indonesia mengatakan, pada Pilpres 2014 ini, akan menampilkan pertarungan antara sipil (Jokowi) versus militer (Prabowo).
"Dukungan partai Islam seperti PAN, PPP dan PKS makin memberi warna dan sepak terjang politik Gerindra. Sementara Jokowi dengan PDIP-nya identik dengan partai sekuler, mendapat sokongan dari NasDem dan PKB, maka bisa dipastikan, pada Pilpres mendatang, akan menampilkan pertarungan antara sipil dan militer," pungkas dia. (Merdeka.com)
